Dalam al-Quran, raja yang tidak mendapatkan celaan adalah raja Bani Israel. Firman Allah:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu’. Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?’ Nabi (mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa’. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 247).
Sebelumnya sudah kami singgung bahwa sistem pemerintahan dalam Islam berbeda dengan sistem pemerintahan di kalangan Bani Israel. Para Nabi dari Bani Israel adalah pembawa risalah sekaligus pemimpin. Tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad. Sebagai gantinya adalah pemimpin umat.
Dalam sejarah bangsa Arab, kepemimpinan (kerajaan) yang menjadi percontohan seperti yang tertera dalam al-Quran adalah kerajaan Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Balqis. Meski berbentuk kerajaan, namun model kepemimpinannya didasarkan pada sistem musyawarah. Ketika bermusyawarah dengan para menterinya terkait surat dari Raja Sulaiman, ia mengatakan, bahwa raja, jika menguasai suatu bangsa, maka ia akan merendahkan bangsa lain tersebut.
Salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang bernama Abu Dharrin al-Ghifari, tatkala melihat harta melimpah yang dimiliki oleh khalifah Utsman bin Afan, ia heran. Dari situ ia merasa bahwa khalifah Utsman telah melenceng dari sistem pemerintahan Islam (khilafah) dan berubah seperti sistem kerajaan. Akibat sikap Abu Dzar tersebut, Utsman mengisolasi Abu Dzar. Utsman mengeluarkan bayan resmi. Isi bayan sebagai berikut:
“Melarang semua orang untuk duduk menemani atau berbicara dengan Abu Dzar sampai beberapa waktu”.
Setelah beberapa waktu, ia dipanggil untuk menghadap Utsman. Di hadapan Utsman, Abu Dzar berkata, “Celaka kamu wahai Utsman. Apakah kau tidak melihat bagaimana perilakui Rasulullah, Abui Bakar dan Umar? Apakah mereka mencontohkan perilaku seperti ini? Kamu ini melakukan tekanan kepadaku seperti prilaku para raj (yang otoriter).
Lihat ungkapan khalifah Harun ar-Rasyid kepada Muhammad bin Ibrahim berikut, “Wahai Muhammad, saya seperti para raja. Jika kami marah terhadap bawahan kami, kemudian setelah itu kami memaafkannya, tetap saja pengaruh marah tadi tidak akan hilang sepanjang masa”. Jika diamati, secara makna, raja sini memang berkonotasi negatif. Raja cenderung otoriter, berbeda dengan istilah imamah atau khilafah.


