Dalam sebuah diskusi, ada yang menanyakan perkara beriku, “Bagaimana hukumnya orang yang mubahalah? Apakah pernah terjadi di Jaman Rasulullah? Bagaimana kita menyikapinya?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita mesti melihat dulu, apa itu mubahalah. Mubahalah adalah dua orang yang saling melaknat yang disaksikan orang banyak, untuk meyakinkan bahwa pendapatnya yang paling benar, sementara pendapat lawan adalah salah.
Mubahalah dengan tujuan untuk membuktikan suatu kebenaran, dibolehkan secara syar’i. Dasar mubahalah adalah firman Allah:
فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ [آل عمران/61]
Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali ‘Imran [3] : 61) Ibnul Qayyim berkata, disunnahkan melakukan mubahalah dengan orang yang ingkar terhadap kebenaran, sementara kita sudahmemberikan berbagai argument terhadap kebenaran tersebut. Rasulullah telah diperintahkan untuk melakukan mubahalah. Menurut ibnul qayyim, Hukum mubahalah ini tidakhanya berlaku bagi rasul saja, namun berlaku umum bagi umatnya. (zadul maad/3/643)
Juga hadis rasulullah saw, “
، عن حذيفة قال: جاء العاقب والسيد، صاحبا نجران، إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يريدان أن يلاعناه، قال: فقال أحدهما لصاحبه: لا تفعل، فوالله لئن كان نبيا فلاعننا لا نفلح نحن ولا عقبنا من بعدنا. قالا: إنا نعطيك ما سألتنا، وابعث معنا رجلا أمينا، ولا تبعث معنا إلا أمينا. فقال: (لأبعثن معكم رجلا أمينا حق أمين). فاستشرف له أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: (قم يا أبا عبيدة بن الجراح). فلما قام، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (هذا أمين هذه الأمة).
Dari huzaifah dia berkata, “Aqib dan sayyid dari (nasara) Nnajran kepada Rasulullah saw untuk melaknat Rasulullah (melakukan mubahalah). Huzaifah berkata, salah seorang dari mereka berkata kepada sahabatnya, “Baiknya kamu jangan melakukan laknat Rasulullah. Demi Allah, jika ia benar sebagai utusan Allah, maka laknat kita tidak akan menguntungkan kita dan anak turun kita”. Mereka berdua lalu berkata (kepada huzaifah), “Kami akan memenuhi apa yang kalian minta kepada kami. Utuslah dua orang yang dapat dipercaya untuk datang kemari. Dua orang itu harus benar-benar dapat dipercaya”. Huzaifah berkata, “Kami akan mengutus orang yang dapat dipercaya untuk kalian”. Para sahabat Nabi menyaksikan peristiwa tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Berdirilah wahai Abu Ubaidah bin Jarrah”. Setelah ia berdiri, Rasul bersabda, “Ia adalah orang yang paling di percaya dari umat ini” Setelah itu, mereka melakukan mubahalah
Dalam riwayat alin dikatakan bahwa 60 orang utusan dari suku Najran yang beragama Kristen mendatangi Rasulullah saw. Selepas shalat Ashar, mereka menemui Rasulullah saw di masjid. Lantas ketua dari mereka melakukan debat panjang dengan Rasulullah saw terkait tentang ketuhanan, kenabian dan nabi Isa. Setelah itu, mereka minta melakukan mubahalah.
Jika dilihat dari sebab turunnya ayar al-Quran dan hadis Nabi di atas, keduanya menceritakan mengenai mubahalah yang dilakukan Rasulullah saw dengan orang Nasrani dari suku Najran. Dua orang Nasrani tadi mengingkari mengenai kebenaran kenabian nabi Muhammad saw, lantas mereka meminta agar Rasul melakukan mubahalah dengan mereka. Jadi, mubahalah dilakukan oleh Rasulullah kepada kaum non Muslim dalam perkara akidah.
Dalam bermubahalah, para ulama memberikan syarat sebagai berikut:
1. Ikhlas karena Allah.
2. Tujuan mubahalah adalah untuk menegakkan yang hak dan meruntuhkan yang batil, bukan untuk mencari kemenangan dalam berdebat dan popularitas.
3. Mubahalah dilakukan setelah dilakukan dialog terlebih dahulu. Dalam dialog tersebut, telah diberikan bukti nyata, namun lawan masih menentangnya. Di sini, boleh dilakukan mubahalah.
4. Lawan sudah ketahuan dengan jelas kesalahannya, namun ia masih inkar dengan kebenaran dan menuruti hawa nafsu.
5. Mubahalah harus terkait dengan perkara yang sangat penting dalam urusan agama, seperti ketika lawan meragukan keberadaan Tuhan, inkar dengan Nabi Muhammad, inkar dengan hari kiamat dan lain sebagainya.
6. Diyakini bahwa mubahalah akan membawa maslahat bagi umat Islam secara umum, bukan justru menambah masalah.
7. Tidak diperkenankan melakukan mubahalah pada perkara furuiyyah (cabang) atau perkara ijtihadiyah.
Mengenai cerita bahwa Ibnu Abbas dan Imam Awzai pernah melakukan mubahalah dalam persoalan furu’, menurut Syaikh Utsaimin bahwa itu merupakan ijtihad mereka saja. Mubahalah dengan sesama muslim sebaiknya dihindari. Melaknat saudaranya sesama muslim bukan persoalan ringan, apalagi hanya terkait perkara ijtihadniyah. Padahal para ulama baru membolehkan mubahalah dalam perkara yang memang sangat penting, dan bukan perkara furu dan ijtihadi. Wallahu a’lam.

