Tuesday, May 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ramadhan Bulan Al-Quran

hysajj

Oleh: K.H. Anang Rikza Masyhadi

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran. Surat Al-Baqarah ayat 185 secara tegas menyebutkan demikian. “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan sebagai pembeda (antara yang haqq dan yang batil).”

Berdasarkan ayat ini, maka fungsi Al-Quran adalah sebagai petunjuk, penjelas dan pembeda, agar hidup manusia senantiasa dalam bimbingan cahaya Ilahi.
Al-Qur’an menunjukkan kepada kita bagaimana mengarahkan hidup dan kehidupan ini kepada jalan yang benar; “ihdinas shirātal mustaqim”, ‘Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus’; dan apa saja yang boleh dilakukan dan yang terlarang dikerjakan.

Al-Quran juga membedakan antara yang halal dan yang haram, yang harum dan yang busuk, teman dan lawan, dan membedakan antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Sebagai contoh, sebuah pabrik mobil ketika meluncurkan sebuah merek baru, ia akan melengkapinya dengan manual book yaitu buku pedoman pemakaian. Artinya, pabrik akan memberikan panduan penggunaan dan perawatan mobil keluarannya; bahan bakarnya apa, sistem kelistrikan, kinerja mesin, sistem transmisi, bahkan petunjuk perawatannya, dan lain sebagainya.

Jadi, pemakai atau bengkel jika mengalami suatu masalah, maka ia tinggal merujuk kepada buku pedoman untuk mendapatkan detail anatomi mobil.  Demikianlah halnya dengan manusia. Ketika Allah SWT meluncurkannya ke muka bumi, maka Allah SWT pun membekalinya dengan buku petunjuk, yaitu Al-Quran dan Sunnah Nabi. Maka, jika ada masalah, merujuklah kepada buku petunjuk itu.

Meskipun demikian, tidak semua muslim menyadari fungsi buku petunjuk itu. Faktanya, banyak yang menjadikan Al-Quran sekedar bacaan, tanpa perlu memahami, menghayati dan mengamalkan kandungannya. Bahkan tidak sedikit yang bacaan Al-Qurannya tidak standar, baik dari segi kefasihah melafalkan huruf maupun tajwidnya.

Di sisi lain, masih banyak pula kaum muslimin yang jika ada masalah dalam hidupnya rujukannya bukan Al-Quran dan Sunnah, melainkan pergi ke paranormal, dukun, ‘orang pinter’ atau –supaya dikatakan modern—merujuk kepada cara pandang hedonisme, sekularisme dan isme-isme lain yang seringkali sesat dan menyesatkan.

Mereka adalah golongan muslimin yang dalam hatinya tidak punya keinginan kuat untuk belajar membaca, memahami dan merujuk kepada Al-Quran. Banyak para orang tua yang risau jika anaknya tidak bisa matematika, komputer, dan bahasa Inggris, maka dicarilah tempat kursus meskipun dengan biaya mahal.

Namun, tidak banyak yang merisaukan anak-anaknya yang tidak fasih membaca Al-Quran; mengkursuskan membaca Al-Quran untuk anak bukanlah bagian penting untuk masa depannya.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Qs. Muhammad [47]:24) “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Qomar [54]:17)

Dalam bulan Ramadhan, selain puasa, tarawih dan i’tikaf, maka kegiatan tadarus Al-Quran harus lebih digiatkan dan ditingkatkan kuantitas maupun kualitasnya. Jangan hanya mengejar target berapa kali mengkhatamkan bacaan Al-Quran 30 juz, namun perhatikan juga seberapa banyak ayat-ayat yang sudah dipahami, dihayati dan diamalkan.

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.” (Qs. Al-Qiyamah [75]:16)

Itulah makna tartil; tartil dalam hal membaca, mempelajari, termasuk tartil dalam memahami kandungan ayat-ayatnya. Nabi SAW pernah ditegur oleh Allah SWT karena tergesa-gesa ingin cepat menguasai.  “Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan).” (Qs. Al-Muzzammil [73]:4)

Tadarus bisa dilakukan di masjid, musholla atau di rumah-rumah, secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah dengan saling menyimak. Tradisi tadarus ini terjadi sejak zaman Rasulullah SAW, yaitu bahwa tiap malam Ramadhan Malaikat Jibril AS datang kepada Nabi untuk mengecek hafalan dan bacaan Nabi.

Tiap malam, keduanya silih berganti membaca dan menghafal Al-Quran, dan pada tahun wafatnya Nabi, Jibril turun dua kali dalam semalam selama Ramadhan.

Maka dari itu, kehadiran Ramadhan kali ini harus kita jadikan momentum untuk meneguhkan kembali semangat merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW, melalui usaha yang sungguh-sungguh untuk belajar membaca, memperbaiki bacaan, memahami kandungannya, dan mengamalkan ajarannya.

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa dan Al-Quran akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Tuhanku, aku telah mencegahnya dari makanan dan keinginan-keinginan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah aku memberikan syafaat kepadanya.’ Al-Quran juga berkata, ‘Ya Tuhanku, aku mencegahnya tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberikan syafaat kepadanya.’ Maka keduanya diizinkan memberikan syafaat.” (HR. Ahmad, At-Thabarani, dan Al-Hakim)

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × 2 =

*