Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Makan Dulu, Bayar Belakangan, Ternyata Super Mahal. Hukumnya Apa Ya?

Assalamu alaikum tadz. Di tulisan ust kemarin, dikatakan bahwa makan dulu, bayar belakangan itu boleh. Cuman saya pernah ngalamin, pas bayar, mahalnya ampun. Gimana tuh usd?

Waalaikum salam
Benar bahwa makan dulu, bayar belakangan, boleh secara hukum seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Hanya saja, ada beberapa catatran yang harus diperhatikan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Penjual dan pembeli saling ridha. Hal ini karena prinsip perniagaan adalah saling rela antara penual dan pembeli.
Firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa: 29)

2. Memperhatikan tradisi di suatu masyarakat. Kaedah yang digunakan adalah sebagai berikut:

العادة محكمة
Bahwa tradisi dalam suatu masyarakat dapat menjadi timbangan hukum.

Juga kaedah berikut:

المعروف عرفا كالمشروط شرطا

Maksudnya, suatu tradisi baik yang telah terpaku di masyarakat dan tidak menyalahi syariat Islam, maka ia bagai sebuah syarat.

Tradisi di sini, terkait dengan kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Untuk kasus warung makan ini, tradisi bukan sekadar terkait dengan tradisi makan dulu, bayar belakangan, namun juga tradisi nilai jual makanan. Artinya, harga makanan standar seperti yang umum dijual di warung makan pada umumnya.

Jadi, pembeli juga merasa rela ketika membayar. Karena memang sudah umum di tempat atau daerah tersebut bahwa harga makanan, nasi beserta lauk seharga sekian rupuah.

Jika ia menaikkan harta tinggi, dengan tujuan mengambil keuntungan besar, tanpa ada pemberitahuan kepada pembeli seperti dengan menuliskan harga menu makanan, maka kenaikan harta tadi tidak diperkenankan.

Pembeli mungkin tetap akan membayar, karena telah terlanjur makan. Namun ia merasa tertipu. Ia hanya bisa “nggundel” dan ngomel dalam hati. Padahal prinsip jual beli itu saling ridha. Jadi, ada yang hilang dari prinsip jual beli tadi seperti yang diperintahkan al-Quran.

Penjual dianggap telah menyalahi kaedah tradisi di atas. Penjual dianggap melakukan manipulasi atau pembohongan yang diharamkan. Hal ini sesuai dengan hadis nabi Muhammad saw:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ.

“Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban).

Jika penjual ingin menyalahi atau berbeda dengan tradisi harga makanan di suatu masyarakat, hendaklah memberitahukan dulu kepada konsumen dengan mencantumkan harga menu makanan. Tujuannya untuk menghindari agar pembeli tidak kecewa dan merasa tertipu. Pembeli makan dengan tentang, penjual dapat untung dan perniagaan mendapatkan barakah Allah. Wallahu a’alm

===============
Wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung.
SMS konfirmasi transfer: +201120004899
Web: almuflihun.com

 border=
 border=
Open