Sunday, April 5, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sekilas Tentang Yahudi

khg

Oleh: K.H. Anang Rikza Masyhadi, MA

 

Topik tentang Yahudi bisa dilihat dalam tiga perspektif: (1) Yahudi sebagai agama; (2) Yahudi sebagai bangsa; (3) Yahudi sebagai gerakan.

Yahudi sebagai agama sebagaimana Islam, Nasrani sama-sama sebagai agama samawi. Sedangkan Yahudi sebagai bangsa kerap disebut dengan istilah Bani Israel. Al-Quran banyak sekali berbicara tentang Bani Israel, dan beberapa Nabi dan Rasul sengaja diturunkan kepada Bani Israel. Yahudi sebagai gerakan disebut dengan zionisme.

Ketiga perspektif ini, menurut saya, harus diletakkan dalam konteks yang tepat, tentu saja setelah merujuk pada sumber-sumber yang otentik, baik melalui informasi dalam Al-Quran dan Hadis, maupun melalui kesaksian para sejarawan dan arkeolog yang kompeten.

A. Yahudi sebagai agama

1.  Yahudi sebagai agama berupa sistem keyakinan dan ajaran serta syariat yang dimiliki dan dikembangkannya. Dalam Al-Quran, misalnya, dengan tegas menuturkan bahwa ada beberapa Nabi dan Rasul yang diutus kepada Bani Israel, yaitu: Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabim Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Dawud, dan Nabi Sulaiman (alaihimus-salaam). Sementara ada beberapa Nabi bagi Bangsa Yahudi yang bersumber dari selain Al-Quran, seperti: Asyiya (abad ke-8 SM), Irmiya (tahun 650-580 SM), Hezqial (abad ke-6 SM) dan Danial.

Yang menarik bahwa ternyata seluruh Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al-Quran itu menyeru kepada tauhid dan tak satupun yang menyeru untuk menyembah berhala, seperti keyakinan dalam agama Yahudi belakangan.

“Sesungguhnya, tuhanmu hanya Allah, yang tiada tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (Qs. Toha [20]: 98)

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” # ” Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. #

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.# Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. # Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.#
(Qs. Al-Baqarah [2]: 130-134)

2. Dalam agama Yahudi terdapat beberapa sekte, diantaranya yang populer adalah: Al-Farisiyyun (sekte Yahudi kuno), Al-Shodduqiyyun, Al-Qura’un, Al-Katabah (para penulis wahyu), dan Al-Muta’asshibun (Yahudi ortodox). Sekte-sekte inilah yang diyakini telah menyimpangkan ajaran tauhid. Karena sesungguhnya Bani Israel itu diseru kepada Islam.

Diantara sumber otentik dalan syariat agama Yahudi adalah apa yang dikenal dengan istilah ‘Syariat Musa’ atau yang biasa disebut dengan ‘The Ten Commandement’ (Sepuluh Perintah Tuhan), dan sumber-sumber lain dari Taurat.

3. Beberapa topik penting dalam syariat Yahudi adalah: pengakuan dosa dan penyucian diri, khitan, warisan, nikah dan poligami, dan masalah perempuan. Saya ingin menyebutkan beberapa diantaranya saja.

Dalam agama Yahudi, wanita haid harus dijauhi, tidak boleh disentuh dan dilarang tinggal serumah. Syariat seperti ini ditolak oleh Al-Quran: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Qs. [2]: 222)

Tetapi yang dimaksud “hendaklah kamu menjauhkan diri dan janganlah mendekati mereka” bukanlah seperti yang dipahami oleh Yahudi. Dalam Islam wanita haid hanya tidak boleh digauli (dicampuri), sementara menyentuhnya dan tinggal bersamanya di rumah masih dibolehkan. Nampak sekali beda yang jauh antara syariat Yahudi dan Islam dalam memperlakukan wanita.

Menurut agama Yahudi, hari Sabtu diharamkan untuk bekerja, karena pada hari itu adalah hari tuhan beristirahat setelah kelelahan selama 6 hari menciptakan jagat raya ini dan seisinya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada tuhan. Maka, nama hari Sabtu diyakini berasal dari bahasa Ibrani ‘sabat’ yang kemudian diserap ke dalam bahasa Arab menjadi ‘tsabit’ (tsa-ba-ta) yang artinya tetap, tenang dan tidak bergerak. Karena hari itulah tuhan beristirahat (tidak beraktifitas).

Tentu saja, pandangan seperti ini ditolak oleh Al-Quran. “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.” (Qs. Al-Qaf [50]: 38)

Berbeda dengan syariat Islam, dimana hari Jumat yang notabene adalah ‘hari libur’ umat Islam, Al-Quran tidak memerintahkan untuk berhenti beraktifitas, bahkan didorong untuk terus bekerja dan beraktifitas.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs. Al-Jumuah [62]: 10)

1/3 bersambung ke 2/3.

Ditranskrip oleh: A. Fauzi
[06:09, 24/06/2015] Anang: Agama Yahudi memang begitu, kecuali agama Islam yg dibawa oleh Nabi dan Rasul dari Ibrahim, Ismail dst itu kepada Bani Israel ya tdk begitu.
[06:10, 24/06/2015] Anang: Orang non muslim silahkan pula mengkaji ajaran Islam, dan temukanlah kesalahannya jika ada. Mengkaji scr obyektif dari ajaran, bukan dari praktek pengamalan keagamaan umatnya.
[06:48, 24/06/2015] Anang: Nih ada sambungannya baru dikrm sm Fauzi…

B. Yahudi sebagai bangsa

1. Sebagai bangsa, Yahudi seringkali disebut dengan Bani Israel atau dalam istilah yang populer di Barat adalah Hebrew (Ibrani). Mengapa bangsa Israel disebut dengan Hebrew? Karena bangsa Israel adalah bangsa nomaden, yaitu bangsa yang dalam sejarah kemanusiaan selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan membawa seluruh harta kekayaannya.

Istilah ‘Hebrew’ sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab ‘ibri” (‘a-ba-ro), yang artinya menyeberang. Maka, lahirlah istilah ‘Ibrani’ (berasal dari “a-ba-ro; ibri), karena bangsa Israel selalu berpindah-pindah dengan menyeberangi lautan dan gurun pasir.

Oleh sebab itu, orang-orang Kana’an, Mesir dan Palestina disebut dengan Bani Israel (Ibrani / Hebrew), karena hubungan mereka yang erat dengan kehidupan nomaden padang pasir. Istilah ini sebetulnya juga untuk membedakannya dengan orang-orang yang berperadaban.

Peradaban dalam bahasa Arab disebut “hadoroh”, berasal dari kata ‘ha-dlo-ro’, yang artinya hadir atau menetap. Maka, ‘hadloroh’ adalah lawan kata dari ‘badawah’ (badui) yaitu nomaden. Itulah mengapa disimpulkan bahwa sebuah peradaban hanya akan lahir dari sebuah bangsa yang menetap, bukan bangsa nomaden.

Bagi orang Israel sekarang pun, mereka sebetulnya menghindari dari menyebut dirinya “Hebrew”, dan mereka lebih suka disebut Isra atau ‘Jew’ (bahasa Inggris), yang artinya adalah orang Yahudi.

2. Orang-orang Hebrew berasal dsri ras Smith, dimana orang-orang Suriah dan Arab dinisbatkan kepadanya. Mereka tinggal di Babilonia (Irak sekarang) untuk sementara waktu (ketika itu masih dikuasai oleh orang-orang Sumeria dan Akadina) dan menikmati gemerlapnya peradaban Babilonia. Setelah bertambah banyak mereka memilih pindah ke arah Utara dan Selatan.

Orang-orang Smith yang memilih tinggal di Babilonia itulah yang diyakini sebagai nenek-moyang bangsa Arab seluruhnya. Sementara yang menyeberang ke Asia dan Palestina ialah orang-orang Suriah dan Israel.

Di Babilonia mereka membuat persekongkolan dan melancarkan pemberontakan. Oleh karena makar dan perbuatannya itu, maka para raja di sana tidak segan-segan untuk menghancurkan dan menyiksanya.

3. Maka, tahun 135 M merupakan tahun tamatnya riwayat bangsa Yahudi di bumi Palestina. Sejak itu, mereka mulai dengan pengembaraan yang panjang. Dengan demikian, sejatinya orang-orang Yahudi sedang kembali kepada jati diri asli mereka dan jalan hidupnya pasca keluar dari Mesir bersama Nabi Musa.

Dalam masa pengembaraan yang panjang itulah mereka akhirnya mendiami beberapa kawasan Eropa, Mesir, Afrika Utara, Yaman dan lain sebagainya. Dan masa-masa itulah yang sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan tingkah laku bangsa Yahudi.

Karena selalu terusir dari wilayah yang ditempatinya, menyebabkan munculnya perasaan keterasingan: mereka selalu merasa menjadi tamu di negeri orang. Konsekuensinya, orang Yahudi tidak mengenal konsep loyalitas kepada tanah air dan kebangsaannya. Banyak sejarawan secara jujur menyatakan bahwa bangsa Israel adalah salah satu bangsa yang tidak pernah memiliki tanah air tetap.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

11 + eight =

*