Wednesday, February 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Mempertanyakan Eksistensi Ujian Nasional

gfdsah

 

Beberapa waktu lalu, diskusi whatssapp membincangkan mengenai Ujian Nasional. Biasanya untuk mengadapi ujian nasional, diperlukan berbagai persiapan ekstra baik dari peserta didik, guru bahkan pemerintah. Semua fokus pada ujian nasional agar bisa sukses dilaksanakan.

 

Saya sendiri cenderung tidak setuju dengan keberadaan ujian nasional ini. Alasannya sederhana saja, karena ujian nasional hanya mementingkan nilai matematis. Keberhasilan siswa didik ditentukan oleh nilai-nilai yang materinya sudah ditentukan oleh negara. Ada sekian materi yang wajib lulus, jika tidak maka ia dianggap gagal.

 

Bagi saya, sikap pemerintah dengan mengadakan ujian nasional itu mengandung kelemahan;

  1. Ujian nasional mematikan kreativitas siswa.
  2. Ujian nasional mematikan kreativitas guru.
  3. Ujian nasional merupakan bentuk intervensi negara yang berlebihan terhadap sistem pendidikan nasional.
  4. Ujian nasional mengesampingkan nilai akhlak dan karakter siswa.
  5. Ujian nasional bentuk ketidak adilan kepada peserta didik.

 

 

Ujian Nasional Mematikan Kreativitas Siswa

Siswa belajar sejatinya sesuai dengan kecenderungan yang dia miliki. Setiap siswa mempunyai bakat dan minat masing-masing. Jika bakat dan minat diasah, anak didik akan cepat berkembang. Bakat itu tentu belum tentu terkait dengan nilai matematis, fisika, kimia dan lain sebagainya. Bisa saja terkait dengan  kamampuan yang lain, seperti penguasaan ilmu agama, seni,  dan bidang kreativitas lainnya. Namun karena ilmu agama “tidak penting”, jadi ia tidak masuk ujian nasional.

 

Ujian Nasional Mematikan Kreativitas Guru

Kreativitas guru juga dimatikan. Ini karena yang ada dipikiran para guru hanya satu, yaitu bagaimana supaya siswa bisa lulus ujian nasional. Guru mendapatkan “tekanan batin”. Jika ada siswa yang tidak lulus, itu akan mengurangi kredibilitas sekolahan. “Nilai jual” sekolahan jadi menurun. Akibatnya, guru hanya mengajar dan berkonsentrasi pada ujian nasional ini.

 

Sejatinya guru itu pengajar dan pendidik. Ia menyampaikan ilmu pengetahuan, sekaligus mendidik karakter siswa. Ia membentuk mental peserta didik. Siswa tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, namun juga belajar untuk membentuk karakter dirinya. Siswa memperolah pengetahuan sekaligus pelajaran prilaku.

 

Sayangnya, Ujian Nasional merubah paradigma pendidikan ini. Guru jadi tidak ada waktu lagi untuk menggali potensi siswa. Bakat dan minat tidak diarahkan. Akibatnya, siswa berjalan tanpa arah. Selesai lulu ujian, siswa bingung akan kemana. Karena antara keinginan dan bakat yang dimiliki, berbeda dengan apa yang pernah ia pelajari.

 

Ujian Nasional Merupakan Bentuk Intervensi Negara yang Berlebihan Terhadap Sistem Pendidikan

 

Semestinya lembaga Pendidikan lebih independen untuk mengembangkan kurikulum. Siswa dari sebuah lembaga pendidikan bervariasi dan punya kecenderungan yang berbeda. Kebutuhan anak didik juga macam-macam. Belum lagi sosio kultural yang ada di lingkungan anak didik. Semua itu semestinya jangan dibuang begitu saja demi menggapai nilai matematis itu.

 

Namun dengan ujian nasional, semuanya jadi tidak penting. Negara mempunyai otoritas penuh untuk intervensi terhadap sistem pendidikan sekolah, sehingga sekolah tidak bisa berkutik untuk lebih mandiri dan lebih kreatif. Padahal sejatinya setiap sekolah itu punya identitasnya masing-masing. Parahnya, sekolah agama semacam pondok pesantren yang sedari awal tidak punya visi misi kepada ilmu eksakta pun, tetap diwajibkan ikut ujian nasional. Jika tidak, maka sisaw tidak bisa melanjutkan ke pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.

 

Ujian Nasional Mengesampingkan Nilai Akhlak Siswa

Di ujian nasional tidak ada materi akhlak. Padahal akhlak merupakan karakter siswa. Untuk apa siswa mempunyai nilai tinggi, jenius dan super pintar namun akhlaknya bobrok. Sayangnya akhlak yang merupakan landasan terpenting dalam berbangsa ini terlupakan.

 

Akibatnya sangat kentara. Korupsi dan manipulasi menjadi sebuah tradisi. Dari yang paling bawah hingga paling atas mempunyai penyakit sosial yang kronis. Siswa terbiasa dengan pesta miras, markoba bahkan free sex. Ketika menjadi pejabat tidak kalah bejatnya dengan merampok uang rakyat. Inilah akibat ujian nasional yang mengesampingkan pendidikan mental dan akhlak siswa.

 

 

Ujian Nasional Bentuk Ketidakadilan

Ujian nasional itu menyamakan soal ujian di seluruh nusantara. Jelas ini sikap yang tidak adil. Untuk Jakarta dan kota-kota besar lainnya mungkin tidak ada masalah. Bayangkan, siswa yang di Irian Jaya atau daerah terpencil, yang untuk belajar saja susah, tapi masih dibebani dengan ujian nasional. Itu pun nilainya disama rakatan. Kecuali jika sarana dan prasarana di seluruh Indonesia sudah sama, maka tidak jadi persoalan menyamaratakan sstem pendidikan. Jika belum, lalu ada penyetaraan nilai ujian, sungguuh ini bentuk ketidak adilan.

 

Yang paling parah adalah bahwa ujian nasional menjadi sarana manipulasi. Banyak sekolah yang mencari bocoran soal ujian agar siswa didiknya bisa lulus ujian. Bahkan siswa dibiarkan nyontek, supaya mereka bisa lulus. Sekali lagi, ketidak lulusan peserta didik akan mengurangi reputasi sekolahan yang pada akhirnya mengurangi nilai jual sekolah.  Akhirnya sekolah takut bangkrut dan melegalkan kecurangan. Solusinya, bubarkan saja ujian nasional dan beri ruang yang lebih luas buat sekolahan agar bisa berkreasi sesuai dengan kecenderunagnnya masing-masing. Wallahu alam

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

20 + 17 =

*