Tuesday, January 23, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Berikut Kelemahan Argumen Filsuf Terkait Argumen Illat Ma’lul

gfsajhj
Dari paparan di atas sangat nampak mengenai kelemahan argumen illal ma’lul yang digunakan oleh para filsuf. Indikasi kelemahannya di antaranya bisa dilihat sebagai berikut:
1. Suatu benda yang bermula dari ketiadaan, tidak dapat dijadikan sebagai argumen bahwa seluruh benda bermula dari ketiadaan.

2. Seluruh benda baru dikatakan tidak akan ada, manakala benda pertama yang kelak akan menjadi syarat atas keberadaan benda kedua dan seterusnya, ternyata tidak ada.

3). Ini artinya bahwa makna berantai yang dimaksudkan adalah keberadaan ma’lul (benda kedua) setelah illat (benda pertama) tidak ada. Padahal yang terjadi tidak demikian, yaitu bahwa keberadaan ma’lul (benda kedua), akan ada beberapa waktu setelah illat (benda pertama) itu ada. Illat (benda pertama) akan ada, sampai ma’lul (benda kedua) ada. Ma’lul (benda kedua) tetap ada, meski illat (benda pertama) sudah tidak ada.
Perjalanan berantai seperti itu tidak bermakna bahwa illat yang sudah tidak ada, masih mempengaruhi ma’lul yang ada, atau ia tidak bermakna bahwa illat dan ma’lul ada secara bersama-sama. Hal seperti itu hanya mungkin di illat yang mempunyai kehendak untuk mewujudkan maklulnya.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open