border=
 border=

Bukti Lain Bahwa Ilmu Adalah Fitrah

download (2)
Argumen ke-2) Bahwa al-badihiyat (sesuatu yang bersifat aksiomatis) merupakan cabang dari al-ma’qulat (sesuatu yang dapat dirasionalkan). Sementara, alma’qulat cabang dari panca indra. Sebagaimana diketahui bahwa panca indera tidak meyakinkan. Jadi al-badihiyat pun tidak meyakinkan.

Bukti bahwa pancaindera tidak meyakinkan: kita melihat matahari seakan diam, padahal bergerak.
Kita melihat bayangan diam, padahal bergerak
Kita melihat di dalam cermin seakan ada benda, padahal dalam cermin tidak terdapat apapun.
Benda yang jauh terlihat kecil, padahal ia besar

Argumen ke-3) Bahwa perkara aksiomatis yang paling jelas adalah pernyataan mereka (mazhab nazar) bahwa tidak ada pertengahan antara “ya” dan “tidak”. Padahal penentuan ‘ya’ atau ‘tidak’ diharuskan adanya pengetahuan terhadap arti “ya” atau “tidak” itu sendiri. Ya atau tidak sendiri bukan perkara aksiomatis, jadi semua ilmu yang berasal dari situ juga tidak aksiomatis

Apa hal ini dapat dikaitkan dengan ru’yah awal ramadhan atau syawal?

Jawabnya adalah, bahwa ini berbeda. Mereka yang menganggap ilmu pengetahuan bersifat fitrah, menafikan kebenaran panca indra. Sementara untuk rukya, tidak demikian. Hingga ada kaidah bahwa rukya yang benar tidak bertentangan dengan hisab yang benar. Artinya bahwa baik yang pro rukya atau pro hisab, sama-sama meyakini kebenaran pancaindra. Karena hisab sendiri dihasilkan dari pengamatan (rukya) sekian tahun sehingga menghasilkan teori matematis.

Argumen ke-4) bahwa kita sering yakin dengan persoalan aksiomatis, padahal bisa saja perkara aksiomatis berubah. Contoh: kita percaya bahwa yang didepan kita adalah kayu, padahal bisa saja kayu itu berubah jadi ular.
Atau: Seorang hambah adalah pencipta atas perbuatannya sendiri. Namn perkara yang sudahdianggap aksioma ini masih diperdebatkan. Demikian juga dengan bersyukur itu baik, mencuyri itu jahat dan lain sebagainya.

Apakah itu artinya perkara perubahan aksioma diperlukan penelitian, apakah yang didepan kita itu kayu atau ular?

Bagi mazhab nazar, perkara yang bersifat aksioma tidak berubah. Kalau berubah namanya bukan aksioma. Perubahan aksioma bagi mazhab fitrah tesebut merupakan upaya rasionalisasi atas keyakinan mereka.
Contoh aksioma (ada matahari, ada siang, api panas, es dingin).

(Argumen ke-5) banyak perkara yang oleh suatu mazhab dianggap bersifat aksiomatis, namun ternyata mazhab lain menyangkalnya.
Contoh: sesuatu yang tidak terletak ditempat tertentu dan tidak nampak, dianggap tidak ada.

Argumen ke-6) Obyek yang akan kita ketahui, bisa jadi dia sudah dapat diketahui atau belum diketahui. Jika ia sudah diketahui, nazar mejadi tidak berguna, karena itu namanya menghasilkan sesuatu yang hasilnya sudah ada (tahsilul hasi).

Jika obyek tidak diketahui, nazar juga tidak berguna, karena manusia tidak mungkin dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat diketahui.

Atau obyek yang akan diketahui, di satu sisi mungkin diketahui, dan di lain sisi tidak mungkin diketahui. Ini juga mustahil, seperti keterangan sebelumnya.

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *