Kondisi umat Islam saat ini memang sangat memprihatinkan. Kemaksiatan merajalela, moral bobrok, hilangnya rasa malu hingga pergaulan bebas yang sudah sangat memprihatinkan.
Umat Islam memang banyak mempunyai ormas, partai Islam, bahkan ada juga partai yang mengklaim sebagai partai dakwah. Mereka yang berada di posisi puncak negeri ini, baik di DPR/MPR, menteri atau di pimpinan parpol, bahkan sampai yang parpol nasionalis pun, banyak yang berasal dari aktivis Islam.
Anehnya, meski mereka jebolan tarbiyah, atau mantan aktivis HMI, ketika sudah berada di jantung kekuasaan, atau ingin merebut kekuasaan, bekas tarbiyah Islamiyahnya luntur. Buku-buku karya Sayyid Qutb, al-Maududi, Mustafa Masyhur, Fatiyakan, Said Hawa dan sederet buku pergerakan Islam yang selama ini mereka baca dan ajarkan, kenyataannya sirna begitu saja ditelan oleh beringasnya kekuasaan.
Apa yang salah? Gurunyakah, tempat aktivitasnya kah, sekolah dan universitaskah, atau memang sistem yang salah sehingga siapapun yang masuk ke dalam sistem secara otomatis akan terkontaminasi oleh permainan kotor yang sudah mentradisi?
Yang lebih memprihatinkan adalah, para tokoh mantan aktivis Islam tersebut selalu membawa ayat-ayat al-Quran demi mendapatkan dukungan umat. Al-Quran yang sangat mulia, namun dengan mudah diperjualbelikan demi kekuasaan. Al-Quran dijadikan sebagai makmum, sementara para aktor partai itu menjadi imam. Apapun yang mereka lakukan, selalu dicarikan justifikasi dari kitab suci al-Quran, termasuk ketika mendapatkan nomor urut.
Yang memalukan lagi adalah, tatkala para kiyadah tersebut tiba-tiba terjerat kasus korupsi, mereka tetap tersenyum dan menganggap ringan dengan persoalan yang sedang mereka hadapi. Padahal korupsi bukan hanya masalah dengan Allahs emata, namun dengan hamba. Siksaan Allah akan jauh lebih dahsyat. Apalagi mereka adalah para pemimpin yang selama ini selalu memerintahkan kebaikan, namun dibalik itu justru mereka menjadi sumber maksiat. Sikap seperti ini akan menjadikan murka Allah lebih dahsyat. Bukankah ini juga sudah mereka pelajari tatkala masih menjadi aktivis dakwah? Bukankah mereka juga membaca ayat berikut:
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (al-Baqarah: 44)
“Wahai orang-orang yang beriman kenapa kalian tidak mengatakan apa-apa yang kalian tidak lakukan, amat besar kebencian di sisi Alloh terhadap kalian yang mengatakan apa-apa yang kalian tidak mengerjakannya”. (Ash-Shof: 2-4).
Semoga allah melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk. Amin

