Kaum shopis mempertanyakan, mungkinkah manusia dapat memiliki pengetahuan?. Mereka memang meragukan dan bahkan mengingkari bahwa manusia dapat memiliki pengetahuan. Bapak kaum shopis, Georgias pernah berkata, “Segala sesuatu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa diinformasikan”10. Sikap skeptis mereka tidak hanya terhadap wujud, namun juga terhadap pencipta alam. Menurut Phitagoras bahwa keberadaan Tuhan diragukan dengan alasan ketidak jelasan obyek dan keterbatasan umur manusia. Dari sini mereka berpendapat bahwa kebenaran adalah relatif. Sesuatu yang kita anggap benar adalah benar meskipun orang lain menganggapnya salah. 11
Mereka mempertanyakan pengetahuan dengan mengemukakan beberapa argumen yang cukup kuat. Pyrrho salah seorang dari mereka menyebutkan bahwa manusia ketika ingin mengetahui sesuatu menggunakan dua alat yakni, indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium dan perasa.12 Satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Sementara antar sesama manusia sendiri dalam mengindera sesuatu terdapat perbedaan. Belum lagi pengaruh lingkungan, tempat dan waktu, ketika manusia dalam keadaan sehat, sakit, sadar, tidur dan lain sebagainya yang tentunya berpengaruh kepada panca indera.12 Jika demikian adanya, maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya? Demikian pula halnya dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filusuf sendiri terdapat perbedaan yang jelas tidak mungkin semua benar pasti ada yang salah. Maka akalpun tidak dapat dipercaya. Oleh karena alat pengetahuan hanya dua saja dan keduanya mungkin bersalah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya.
Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran rasionalis. Ia cukup berjasa dalam membangkitkan kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir Shadr memasukkannya ke dalam kaum rasionalis. Ia termasuk pemikir yang pernah mengalami skeptisme akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat dan bangkit menjadi seorang yang meyakini realita. Bangunan rasionalnya beranjak dari keraguan atas realita dan pengetahuan. Ia mencari dasar keyakinannya terhadap Tuhan, alam, jiwa dan kota Paris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi dasar atau alat keyakinan dan pengetahuannya adalah indra dan akal. Ternyata keduanya masih perlu didiskusikan, artinya keduanya tidak memberika hal yang pasti dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahwa segala sesuatu bisa diragukan, tetapi ia tidak bisa meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia meyakini dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu dan berpikir. Ungkapannya yang populer dan sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya adalah ” Saya berpikir (baca : ragu-ragu), maka saya ada “.
Argumentasinya akan realita menggunakan silogisme kategoris bentuk pertama, namun tanpa menyebutkan premis mayor. Saya berpikir, setiap yang berpikir ada, maka saya ada.
Dari dunia Islam adalah Imam al Ghazzali yang pernah skeptis terhadap realita, namun iapun selamat dan menjadi pemikir besar dalam filsafat dan tashawwuf. Perkataannya yang populer adalah ” Keraguan adalah kendaraan yang mengantarkan seseorang ke keyakinan”. Dengan demikian pengetahuan adalah sesuatu yang mungkin diketahui.13
Dalam al-Qur’ân terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan. Ini dapat kita lihat dari sejarah penciptakan Adam. Tuhan menciptakan Adam kemudian memberikan pengetahuan kepadanya. Dengan pengetahuan ini, manusia mendapat nilai lebih dibandingkan dengan Malaikat sehingga Tuhan memerintahkan mereka untuk besujud sebagai tanda penghormatan kepada Adam. (QS. al Baqarah: 30-34). Manusia sebagai anak cucu Adam tidak hanya diciptakan begitu saja, namun mengemban amanat sebagai khalifah dimuka bumi (QS. al Ahzab:72). Agar manusia dapat melaksanakan tugas ini dengan baik tentu dibutuhkan pengetahuan dan sikap tanggung jawab. Manusia dituntut untuk mengetahui eksistensi dirinya, cara berinteraksi dengan realitas, terlebih-lebih berinteraksi dengan Tuhan. Manusia juga dituntut untuk mengetahui rahasia alam, menguasai alam raya demi kemaslahatam manusia sendiri. Karena alam ciptaan-Nya hanya diperuntukkan bagi umat manusia seluruhnya.
Manusia adalah subyek pengetahuan, sedangkan Tuhan serta alam ciptaan-Nya adalah obyek pengetahuan. Tuhan adalah obyek pengetahuan yang paling utama, karena Ia adalah sumber ilmu pengetahuan. Keberadaan Tuhan dapat diketahui melalui alam ciptaannya (QS. Al Mulk:3). Dalam hal ini Imam Ghozali berkata, “Alam semesta adalah sesuatu yang baru (al hâdits). Dan sesuatu yang baru (al hâdits) membutuhkan subyek yang mewujudkannya. Dan subyek ini adalah Tuhan.14
Namun alam raya, manusia dan ghoibyah adalah suatu pengetahuan yang tidak terbatas, sementara akal manusia sebagai subyek pengetahuan sangat terbatas. Bahkan antara sesama manusia pun dalam memahami sesuatu mengalami perbedaan sesuai dengan tingkatan kemampuan, perkembangan pendidikan, sumber dan metodologi yang ia gunakan. Dengan keterbatasan akal manusia ini, manusia tetap saja tidak akan pernah mempu mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan tiga hal tersebut secara sempurna. Manusia juga tidak dapat mengetahui ghoibiyah, cara berinteraksi dengan Tuhan, hak dan kewajiban manusia sebagai makhluk kepada kholiq-Nya dengan hanya bertumpu pada indera dan akal. Untuk itu dibutuhkan penyeimbang yang dapat menuntun ma nusia kepada pengetahuan lain diluar jangkauan akal. Dan penyeimbang ini adalah wahyu Tuhan.15

