Suatu kali, kyai dahlan mengajarkan surat al-maun kepada murid-muridnya. Kyai dahlan pun meminta para santri untuk menghafalnya. Hingga sekian kali pertemuan, para santri sudah dapat menghafalnya di luar kepala. Tapi kyai dahlan masih juga mengajarkan surat al-maun. Para santri merasa jenuh, karena ngajinya tidak bertambah.
Salah seorang santri memberanikan diri bertanya, “pak yai, dari kemarin kemarin kita belajar ngaji surat al maun. Alhamdulillah kami sudah hafal semuanya. Bisakah kiranya pak yai menambahkan lagi surat al quran untuk kami hafalkan?”
Mendengar pertanyaan tersebut. Kyai dahlan hanya tersenyum, lalu berkata, para santriku sekalian, benar kalian sudah menghafalnya’. Benar pak yai’ jawab para santri serempak. Lalu kyai dahlan kembali bertanya, kalian paham maknanya?’ “Paham pak yai, seperti yg pak yai terangkan ke kami. “Apakah kalian sudah mengamalkannya’ tanya kyai dahlan. Mendengar itu, para santri terdiam. Lalu kyai dahlan berkata, santri-santriku, al quran diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Al quran turun bukan hanya sekadar hiasan rumah, bukan untuk jimat, bukan untuk pinter-pinteran. Al quran diturunkan untuk diamalkan. Besok pagi, kalian kesini, bawa bingkisan makanan sesuai yg kalian bisa. “Buat apa pak yai’, tanya salah seorang santri. Besok kalian akan tau.
Esok harinya, para santri berkumpul di langgat tempat mereka mengaji. Ada yang membawa 3 bungkus nasi, ada yang bawa 5 bungkus bahkan ada yg bawa satu keranjang.
Sekarang, kumpulkan makananya disini. Jadikan satu, kata kyai dahlan. Kita sudah hafal sural al maun, sudah paham maknanya. Sekarang kita akan belajar mengamalkannya.
kita akan keliling kampung, bingkisan makanan ini akan kita bagikan kepada mereka yang tidak mampu.
Para santripun tertegun. Mereka baru sadar bahwa selama ini mereka belum mengamalkan al quran. Bahkan satu surat ini, surat al maun yang tiap hari mereka hafal, ternyata belum mereka terjemahkan di alam nyata.
Bukankah surat ini akan menyangsikan keberagamaan kita, manakala kita membiarkan anak yatim. Bukankah kita akan dianggap berbohong dalam beragama, ketika kita tidak menyantuni orang miskin.
Membohongi agama, bukan persoalan sederhana. Ia terkait dengan akidah kita, terkait dengan eksistensi iman kita.
Sesungguhnya, keimanan, bukan hanya terkait percaya dengan yang ghaib. Keimanan adalah mampu menerjemahkan perintah dari zat yang maha kuasa.
Tantangan yang kita hadapi saat ini, memang jauh lebih besar. Kita tidak hanya berhadapan dengan persoalan tauhid yang terkait dengan iman pada yang ghaib, namuin juga kemanpuan kita menyembuhkan penyakit sosial.
Teologi al maun, bukanlah pembahasan tauhid yang mengkaji tentang eksistensi ketuhanan, bukan mengupas tentang sifat-sifat tuhan, melakukan pembelaan terhadap mereka yang ingkar tuhan, atau menyerang akidah lawan yang dianggap sesat. Teologi al maun lebih bergerak kepada penyerangan terhadap penyakit sosial dan membela akidah islam dari rongrongan kemiskinan.
Teologi al maun adalah ilmu kalam baru, yang mengaitkan keimanan dengan realitas sosial. Ilmu kalam yang menjadikan manusia sebagai obyek kajian.
Jika para ulama kalam saat ini masih berdebat di tataran wacana untuk merumuskan ilmu kalam baru, maka muhammadiyah justru telak menerapkannya dalam realitas sosial. Muhammadiyah tidak memiliki segudang teori tentyang konsep ilmu kalam baru, namun muhammadiyah telah menerjemahkan dengan membangun ribuan amal usaha yang tersebar di seluruh nusantara. Inilah teologi al maun, ilmu kalam baru muhammadiyah.

