Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa dalam al-Quran terdapat nas yang secara sharih memerintahkan musyawarah. Di antaranya terkait urusan keluarga dan politik. Berikut ini kami akan menyebutkan contoh lain dalam musyawarah yang secara sharih disebutkan oleh al-Quran, yaitu tatkala al-Quran berbicara mengenai ciri-ciri seorang muknin. Disebutkan bahwa di antara ciri-ciri seorang mukmin adalah hamba Allah yang suka bermusyawarah. Firman Allah:
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Artinya: Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. Syura: 38)
Sederhananya, ayat di atas bermakna berikut: seorang mukmin itu selalu menjalankan perintah Allah saw. Mereka melaksanakan ibadah mahdah dengan baik, seperti shalat. Jadi seorang mukmin tidak akan meninggalkan shalat dalam kondisi apapun juga.
Terkait dengan urusan dunia dan publik, mereka tidak akan sembarangan memberikan keputusan. Apa yang dianggap baik menurut dirinya belum tentu baik untuk umat. Oleh karena itu, urusan publik ini butuh musyawarah bersama. Maka seorang mukmin itu selalu bermusyawarah dengan sesama.
Terkait dengan harta benda, seorang mukmin juga tidak pelit. Ia menganggap bahwa harta adalah riski yang dititipkan Allah kepadanya. Untuk itu ia akan menginfakkan hartanya ke jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah. Hartanya juga akan selalu digunakan dan diputar agar dapat memberikan manfaat bagi orang banyak. Hartanya sesungguhnya milik Allah demi kesejahteraan manusia seluruhnya.
Jelas sekali Allah memasukkan syura sebagai salah satu ciri seorang mukmin. Artinya, seorang mukmin yang baik tidak akan pernah merasa benar sendiri. Ia tidak mengedepankan egonya. Persoalan yang sedang dihadapi umat Islam, bukan menjadi domain ia sendiri. Ia menjadi persoalan bersama yang harus dipecahkan bersama. Ia akan selalu bermusyawarah dengan saudaranya sesama mukmin.
Inilah pentingnya musyawarah dalam kehidupan kita sehari-hari. Tiga ayat yang sudah kami sebutkan tadi memberikan sinyal kepada kita mengenai pentingnya musyawarah. Jadi, tidak ada pemimpin diktator dalam pemikiran politik Islam. Tidak ada keputusan individu dan tidak ada kepentingan pribadi. Persoalan yang terkait dengan masyarakat adalah persoalan bersama dan harus diputuskan secara bersama-sama.


