Beberapa poin di atas merupakan argumen para filsuf untuk mendukung pendapat mereka mengenai wujud Tuhan. Jika dilihat sepintas lalu, pendapat tadi memang sangat rasional dan masuk akal. Meski demikian, ia tidak luput dari kritikan Imam Amidi. Beliau menganggap bahwa banyak terdapat kelemahan pada argumen para filsuf di atas, di antaranya adalah:
- Di antara kritikan imam amidi adalah terkait pendapat filsuf yang menganggap setiap sesuatu pasti akan ada akhirnya. Menurut Imam Amidi, pendapat ini tidak benar semuanya. Di alam fisik, ada sesuatu yang mempunyai batas, seperti yang disampaikan para filsuf, namun juga ada sesuatu yang tidak ada batasnya. Contoh lain sesuatu yang ada batasnya, seperti ukuran panjang dan lebar. Jika ditarik garis lurus, panjang dan lebar ada batasnya. Akan ada titik akhir dari ujung garis. Contoh sesuatu yang tidak ada batasnya: lingkaran dan gerakan memutar. Sampai kapanpun, perputaran tidak akan ada batasnya. Ujung pangkal tidak diketahui secara pasti.
- Para para filsuf bahwa sesuatu jika diambil akan habis, juga mempunyai kelemahan. Benar bahwa jumlah angka-angka dan takaran di alam fisik, jika dikurangi secara terus menerus, lama kelamaan akan habis. Namun di dunia ide, jumlah tadi tidak akan habis. Contoh 10-5:5. 5-3:2. 2-1:1 dan begitu seterusnya hingga bilangan tak terbatas. Demikian juga pembagian dari angka-angka, di dunia ide tidak akan terbatas.
Perbedaan Imam Amidi sebagai sosok mutakallim dengan para filsuf sebenarnya berkisar pada satu hal, yaitu apakah benda yang terpotong secara terus menerus akan sampai pada titik akhir yaitu satu benda terkecil, ataukah suatu benda tidak akan pernah habis meski ia dipotong secara terus menerus?
Menurut para filsuf, ada benda terkecil di jagat raya ini. Artinya suatu benda jika dipotong secara terus menerus, maka akan ditemukan benda terkecil dan tidak bisa dipotong lagi. Sementara itu bagi Imam Amidi sebagai seorang mutakallim berpendapat bahwa suatu benda tidak akan pernah habis meski dipotong secara terus menerus. Manusia tidak akan pernah menemukan mengenai unsur benda terkecil itu. Jika dalam alam fisik suatu benda akan habis, namun di dunia ide, benda tadi tetap masih bisa terpotong hingga tak terbatas.


