
Beberapa waktu lalu, diskusi di whatsapp “Rumah Ilmu” membahas tentang manhaj salafi. Namun kemudian berkembang sampai pada kajian filsafat. Karena diskusi whatsapp, maka tanggapan saya singkat dan “ngasal”. Meski demikian, saya sharing di sini. Meski masih sangat mentah, barangkali ada manfaatnya. Berikut ini hasil chatingan saya whatsapp:
Salafi itu banyak aliran. Ada yang sangat keras dan lebih dekat ke khawarij (bahkan banyak salafi saudi sendiri membwrikan julukan khawarij) seperti ISIS, Jamaah Islamiyah, Anshar Bait Maqdis, Jamaah Hijrah dan takfir.
Mrk ini sering menganggap kafir pemerintah yang tidak menerapkan syariat Islam dan wajib hukumnya melawannya dengan mengangkat senjata.
Ada yang sering merasa benar sendiri tapi tidak sampai angkat senjata. Mereka hanya bergerak di lahan dakwah saja. Ini sepertu cerita di atas dan banyak berkembang di Indonesia.
Ada yang moderat seperti Jamaah Anaharusunnah di Mesir. Mereka tetap rasional, belajar filsafat untuk melawan filsafat Barat dan toleran dengan kelompok Islam lain.
Mustafa Hilmi salah seorang dosen filsafat di Darul Ulum masuk dalam golongan ini. Buku-bukunya banyak dan beliau Taimiy sekali, bukan wahabi.
mengenai perbedaan Taimiy dan Wahabiy bisa dilihat di web almuflihun.com
Dr. Mustafa Hilmi punya buku judulnya manhaj salafi.
Ada 3 buku berseri tentang manhaj salafi dan dapat penghargaan dari pemerintah Saudi
Ibnu Taimiyah itu seorang filsuf. Hanya kalangan wahabi banyak mereduksi pemikiran Ibnu Taimiyah. Mereka hanya mengambil pendapat Ibnu Taimiyah yang sesuai dengan pendapat mereka saja.
Arradu Alal Mantiqiyin, Darul Mantiq dan Daru Taarudil Aqli wan Naqli adalah 3 buku Ibnu Taimiyah yang sangat filsafat.
Buku Daru Ttaarud itu 11 jilid yang mengkanter Ibnu Sina, Imam Ghazali dan para filsuf muslim dengan bahasa yang sangat filsafat. Dua buku pertama mengkanter logika Aristotelian.
Jadi Ibnu Taimiyah lebih dulu muncul dibanding dengan para filsuf Barat modern yang mengkanter logika Aresto.
Filsuf Barat mengganti logika Aresto dengan logika positifism.
Logika positifism sekarang juga dikritik dan muncul filsafat postmodernism.
Jika logika positifisme bergerak dalam ranah eksperimental, maka logika post modernism bergerak dalam ranah bahasa.
Kebenaran dilihat dari simbol-simbol bahasa.
Dengan tokoh utama Derida.
Turunannya adalah aliran strukturalis, dekonstruksi dan hermeneutika.
Loguka postmodernism lalu ditarik oleh Arkoun untuk mengkaji kitab suci
Arkoun adalah filsuf muslim asli al-Jazair yang tinggal di Prancis dan sekarnag berkebangsaan Prancis
Filaafat postmodernisme bisa dilawan dengan logika ilmu ushul fikih dengan dua piranti penting yaitu ilmu semantik dan ilmu maqashid
Sementara filsafat Barat modern bisa dilawan dengan ilmu kalam dan logika eksperimentalnya (istiqra) kaum muslimin.
Persoalan mendasar sesungguhnya berada dalam ranah epistem sehingga melawan berbagai aliran Barat modern tadi harus paham epistem dan struktur epistem.
Atinya kita mesti paham benar dua logika penting yaitu logika Barat dan Islam
Diantara ulama yang banyak menyerang filsafat Barat ini adalah Baqir Shadr dari Syiah. Dari kalangan sunni ada syaih azhar Ahmad Tayyib, Muhammad Qurub, Sayyid Qutub, Al-Maududi, Muhammad Iqbal dan Muhammad Abduh.
di antara ulama yang saat ini banyak menyerang filsafat postmodernism adalah Dr. Salim Abu Ashi, salah seorang ulama azhar.
Untuk postmodernism, ulama-ulama nusantara, seperti Adian Husaini baru bergerak di ranah worldview,
belum pada tawaran metodologi alternatif.
Maka yang dibutuhkan adalah pengembangan metodologi alternatif itu
Kongkritnya adalah mengembangkan ijtihad semantik dan ijtihad maqashidi
saya sendiri sudah menulis buku Ijtihad semantik, sementara buku ijtihad maqashidi masih dalam proses.
Ijtihad semantik penting untuk mengkanter filsafat dekonstruksi dan strukturalis, sementara ijtihad maqashidi penting untuk mengkanter hermeneutika
Kesimpulannya, bahwa ulama kita terdahulu telah mewariskan kekayaan intelektual luar biasa. Sayangnya banyak dari kita yang tidak tau. Untuk ijtihad semantik yang dibutuhkan adalah penguasaan nahwu, sharaf dan balaghah (bayan, badi dan maani).

