border=
 border=

Nalar Burhani Dalam Kitab Fikih Al-Muhalla Karya Ibnu Hazm Azh-Zhahiri

fdsaghIbnu Hazm (994 M – 164 M) adalah seorang ulama besar dari Andalus yang sangat ensiklopedis. Beliau banyak menulis buku dengan tema yang beragam, mulai dari fikih, ushul fikih, filsafat, sastra, kedokteran, ulumul Quran, hadis, ulumul hadis, perbandingan agama dan lain-lain.

Ibnu Hazm adalah ulama Islam pegagum mantik Aresto. Karya-karyanya sarat dengan logika Aristetolian. Setidakya ada dua buku ilmu mantik yang beliau tulis, yaitu Al-Haddu wa Arrasmu dan Attaqrib lihadil Mantiq Wal Madkhal Ilaihi Bil Alfadz Alamiyyah Wal Amtsilah Alfiqhiyyah.
Keistimewaan Ibnu hazm, ilmu mantik bukan hanya dijadikan sebagai logika berfikir dalam ilmu kalam atau filsafat, namun juga dijadikan sebagai bagian dari piranti berijtihad di ranah ilmu fikih. Kitab beliau yang berjudul “Attaqrib lihadil Mantiq Wal Madkhal Ilaihi Bil Alfadz Alamiyyah Wal Amtsilah Alfiqhiyyah merupakan buku mantik aresto namun dengan diberi berbagai contoh aplikasi dalam fikih.

 

Al-Quran dan Sunnah dijadikan sebagai persoalan yang bersifat aksiomatis yang mempunyai kebenaran mutlak, yang kemudian dijadikan sebagai premis minor (mukadimah shugra) untuk kemudian menghasilkan konklusi hukum fikih. Ushul Fikih karya beliau, Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam dan juga buku fikihnya, al-Muhalla dengan nuansa logika Arestotelian..

Dalam kitab al-Muhalla, Ibnu Hazm sering melontarkan suatu permasalaha, kemudian memberikan jawaban dari nash. Setelah itu, mengambil kesimpulan hukum dengan logika Ariostetolian.

Pakar mantik di kalangan ulama klasik sering dijuluki dengan istilah ‘burhaniyuun”. Burhan juga merupakan salah satu metode dalam ilmu mantik untuk menguji kebenaran suatu persoalan.
Dari sini maka tidak mengherankan jika akan menerangkan sebuah nas, Ibnu Hazm menggunakan kata “Burhanu dzaalik”. Ibnu hazm tidak menggunakan istilah wajhuddilalah, atau wabayaanu dzaalik, seperti yang umum dilakukan oleh para fuqaha, Pemilihan kata “burhan” tersebut bukan tanpa kesengajaan, namun memang ingin mengukuhkan bahwa beliau menggunakan mantik burhan sebagai piranti untuk berijtihad.
Berikut kami contohkan salah satu model logika Arestotelian, sebagaimana yang tertuang dalam fikih al-Muhallanya. Untuk natijah, merupakan tambahan dari penulis untuk mempermudah pemahaman, sementara mukadimah sughra dan kubra persis seperti dalam buku.
مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa tidak mengasihi, maka ia tidak dikasihi”.

Kiyas Iqtirani

Mukadimah Suhgra            : Kasih sayang kepada janin dan ibu menyusui, hukumnya wajib.

Mukadimah Kubra               :Sementara tidak mungkin dapat menyayangi janin dan bayi, kecuali dengan tidak berpuasa.

Natijah                                   : Jadi tidak puasa hukumnya wajib.

 

 

Qiyas Istits na’i I:

Mukadimah Suhgra            :Jika tidak puasa hukumnya wajib,

Mukadimah Kubra/:Tidak ada lagi kewajiban ibadah puasa bagi dirinya.

Natijah: Karena Puasa tidak wajib, jadi tidak ada kewajiban puasa

Qiyas Qiyas Istits na’i II:

Mukadimah Suhgra            :Jika  tidak ada kewajiban puasa,

Mukadimah Kubra: Bearti tidak ada kewajiban qadha.

Natijah: Ternyata tidak ada kewajiban puasa, jadi tidak ada kewajiban qadha.

 

 

Qiyas Qiyas Istits na’i III:

Mukadimah Suhgra            :Jika ada kewajiban qadha

Mukadimah Kubra   : Itu artinya ia mewajibkan sesuatu yang tidak diperintahkan Allah.

Natijah: Sementara mereka mewajibkan qadha, bearti mereka mewajibkan sesuatu yang tidak diperntahkan Allah.

 

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *