border=
 border=

Keteladanan Seorang Ulama

images (8)Belakangan ini, salah seorang mantan ketua partai besar dan mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Anas Urbaningrum ditahan KPK untuk proses penyidikan. Ia dianggap terlibat dalam kasus korupsi Hambalang. Benar tidaknya dakwaan KPK, akan dibuktikan kelak di pengadilan.
Sebelumnya mantan Presiden dari Partai Dakwah, juga ditangkap KPK dan bahkan sudah divonis bersalah oleh pengadilan. Akibat korupsi yang dilakukannya, ia harus meringkuk di penjara selama 16 tahun.

Dua kasus tadi, menjadi tanda tanya besar bagi kita mengenai sebab krisis moral bangsa ini. Mereka yang terlibat korupsi, bahkan dari mantan aktivis dakwah. Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Bisa jadi, salah satu sebabnya adalah krisis keteladanan. Kita jarang mempunyai tokoh yang dapat dijadikan pegangan untuk meniti kehidupan kita.  Para pemimpin kita, bahkan para tokoh agama mudah tergiur dengan urusan politik. Memang tidak ada yang salah dalam perpolitikan. Harus ada orang-orang bersih yang mampu menyapu birokrasi sehingga terbebas dari praktek korupsi. Namun akan sangat naïf manakala para aktifis dakwah tersebut tidak dapat menerapkan idealismenya tatkala mereka masih berada di luar panggung politik. Bahkan pada akhirnya mereka terperosok jauh dalam kubangan korupsi.

Berikut kami sampaikan sepenggal kisah tentang keteladanan seorang ulama besar yang saya ambil dari page “Suara Azhar”, Kiranya dapat menjadi secercah cahaya bagi kita dan para pemimpin kita untuk dapat meneladaninya. Beliau adalah Imam Besar al-Azhar, Syaikh Ahmad Thayib.

 

Ahmad Abdul Wasi’, seorang warga Mesir pernah bercerita:

Saat Syekh Ahmad Thayyib masih menjabat sebagai Rektor al-Azhar (sekarang beliau adalah Syekh al-Azhar), paman saya bermaksud bertemu dengan beliau. Setelah sampai di kantor, para pegawai mengatakan bahwa Syekh Ahmad Thayyib sedang tidak ada di tempat.

Paman saya marah, karena dia melihat mobil rektor terparkir di halaman kantor. Dia berkata kepada para pegawai itu, “Kalian mau membohongi saya? lihat itu mobil rektor ada di depan!.”

Para pegawai itu menjawab, “Iya, beliau sedang keluar sebentar untuk membeli keperluan beliau sendiri.”

Tidak lama kemudian, datanglah sebuah taxi masuk area kantor rektorat. Ternyata Syekh Ahmad Thayyib yang datang. Paman saya langsung menyapa beliau dan bertanya, “Kemana saja Anda wahai syekh? Mengapa tidak membawa mobil sendiri?”

Syekh Ahmad Thayyib menjawab, “Saya pergi keluar untuk membeli keperluan pribadi. Bensin yang ada di dalam mobil saya itu difasilitiasi oleh negara untuk saya gunakan menunaikan tugas negara. Jadi, tidak boleh jika saya menggunakannya untuk membeli kebutuhan pribadi seperti ini.”

 

Demikian kiranya keteladanan seorang ulama. Beliau mampu memilih dan memilah antara harta pribadi dan negara. Jangankan korupsi, bahkan gaji beliau yang setingkat menteri pun, tidak pernah beliau ambil dan dikembalikan ke kas al-Azhar. Sungguh kepribadian yang patut kita teladani bersama.

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *