Sunday, July 5, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Implikasi Teologi Atas Kiyas Ghaib Ala Syahid dan Kiyas Aresto

dsaghhhj

Banyak tokoh yang terkecoh dengan dua model kiyas ushuli atau kiyas ghaib ala syahid dengan kiyas aresto. Bahkan ada yang menganggap bahwa kiyas yang dibangun oleh Imam Syafii merupakan kiyas ushuli yang terinspirasi dari kiyas Aresto.
Tentu saja pendapat ini terbantahkan. Duakiyas tadi sanga berbeda dan tidak ada kemiripan sama sekali. Terkait perbedaan-perbedaan antara keduanya sudah beberapa kali kami tulis, silahkan untuk dirujuk kembali pada tulisan sebelumnya. Di sini kami akan menuliskan satu perbedaan lagi yang nampaknya belum saya tulis sebelumnya, yaitu perbedaan dua model kiyas tadi dalam tataran filosofis.

Kiyas ghaib ala syahid, bertumpu pada empat rukun, yaitu asal, cabang, hukum dan illat. Antara asal dengan cabang mempunyai perbedaan yang signifikan, yaitu bahwa asal sama sekali berbeda dengan cabang. Asal tidak mempunyai hubungan langsung dengan cabang. Jadi antara asal dan cabang adalah dua hal yang terpisah dan berbeda.

Keduanya mempunyai hukum yang sama, jika ada illat yang sama. Jadi penentu utamanya adalah illat. Dari sini yang sering dijadikan sebagai kaedah adalah:
الحكم يدور مع علته وجودا وعدما
Artinya bahwa suatu ketetapan hukum akan berlaku, manakala ada illat. Jika illat tadi hilang, secara otomatis hukum juga tidak ada. Namun jika ada illat, maka hukum akan ada.

Ini artinya bahwa antara manusia sebagai asal dan Tuhan sebagai cabang, tidak mempunyai hubungan sama sekali. Manusia adalah manusia dan Tuhan adalah Tuhan. Manusia bukan bagian dari Tuhan,atau muncul dari Tuhan. Manusia sifatnya mahluk dan Tuhan sifatnya Qadim. Kesamaan illat antara manusia dengan Tuhan, nantinya yang akan dijadikan sebagai sandaran untuk memastikan suatu ketetatapn hukum.

Contoh, setiap manusia yang berilmu itu pasti hidup. Tuhan sendiri berilmu, bearti Tuhan juga hidup. Jadi, kesamaan sifat ilmu tadi yang ada pada manusia, kemudian dijadikan sebagai analogi untuk membuktikan akan eksistensi kehidupan Tuhan.

Namun dalam perjalanan waktu, kiyas ghaib ala syahid yang dijadikan sebagai argumen atau dalil oleh para ulama kalam banyak mendapatkan kritikan, bahkan dari kalangan ulama kalam sendiri seperti imam Amidi dalam kitab al ibkarnya. Oleh karena itu, ulama kalam menggunakan argumen lain yang kiranya lebih sesuai. Hanya sebenarnya argumen tadi tidak jauh berbeda secara substansi dari dari kiyas ghaib ala syahid. Argumen tersebut adalah dalilul hudus.

Dalilul hudus adalah membuktikan Tuhan (metafisik), namun berangkat dari mahluknya (alam fisik). Artinya bahwa selama alam fisik ini mahluk, maka ia butuh zat yang menciptakan dan zat pencipta tadi bukan mahluk. Hal ini, karena jika ia mahluk akan terjadi persoalan berantai yang itu mustahil. Ia adalah Tuhan yang sifatnya qadim. Nampaknya argumen ini yang lebih bisa eksis di kalangan ulama kalam hingga saat ini

Mari kita lihat perbedaan dengan kiyas Aresto. Di kiyas burhan ini, rukun kiyasnya juga empat, yaitu mukadimah sughra (qadhiyyah 1), kubra (qadhiyyah 2), rabit dan natijah. Antara satu qadhiyyah dengan qadhiyyah 2, saling terkait. Jika sastu qadhiyyah dicoret, maka kiyas akan rusak.

Contohnya sebagai berikut:
Semua yang di kelas satu naik kelas. (qadhiyyah 1)
Semua yang naik kelas mendapatkan hadiah (qadhiyyah 2)
Semua yang di kelas mendapatkan hadiah.(natijah)
Naik kelas sebagai rabith

Coba saja kita coret qadiyyah dua. Jadi sisa kalimatnya sebagai berikut:
Semua yang di kelas ini naik kelas. (qadhiyyah 1)

Dengan dicoretnya qadhiyyah 2, maka tidak akan ada lagi natijah atau konklusi. Yang terjadi bukan lagi kiyas dan sekadar berita biasa saja. Hal itu, karena konklusi sangat terikat dengan dua qadhiyyah sekaligus.

Adakah implikasi dalam ranah teologi? Tentu saja. Dalam kiyas burh ini, ada ketekaitan yang sangat erat antara Tuhan dengan alam ciptaan-Nya. Tuhan bahkan menjari illat dari alam raya. Antara illat dan ma’lulnya (alam raya) sifatnya ta’aqqubiy atau langsung dan tidak ada jeda waktu sama sekali. Ada Tuhan maka ada alam raya. Karena Tuhan qadim, maka alam raya juga sifatnya qadim.

Inilah barangkali sedikit perbedaan kiyas ghaib ala syahid dengan kiyas aresto. Kiyas ghaibala syahid ini banyak punya istilah, di antaranya ia disebut juga kiyas tamsili, kiyas ushuli, kiyas bayan dan wazan. Jadi, kiranya tidak terkecoh dengan berbagai terminologi itu. Ia hanya beda nama, dan beda penempatan. Kiyas ghaib ala syahid atau kiyas tamsili, sering digunakan oleh ulama kalam. Kiyas ushuli dipakai oleh ulama ushul, kiyas bayan oleh ulama balaghah dan Wazan oleh ulama bahasa. Memang ada perbedaan dalam detail-detail teori, namun secara epistemnya prinsipnya sama. Wallahu a’lam

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one + 17 =

*