Wednesday, June 23, 2021
Artikel Terbaru

Ilmu Kalam

Lanjutan Pembagian Mukadimah

Maudhu bisa terbentuk kalimat bersyarat. Contoh: (Kulliyah mujibah +)   :Jika matahari terbit, pasti ada siang, dan matahari terbit, bearti ada siang (Kulliyah salibah -)      :Tidak mungkin jika matahari ternit, ada malam. Ternyata matahari terbit, bearti tidak ada malam (Juziyah mujibah +)     :Bisa saja, jika terbit matahari, maka akan ada siang. (Juziyah salibah -)       :Tidak setiap matahari ... Read More »

Pembagian Mukadimah

Seperti dikatakan sebelumnya bahwa dalil akal, harus terdiri dari mukadimah. Mukadimah sendiri terdiri dari dua bagian. Pertama maudhu: yaitu sesuatu dihukumi. Kedua mahmul: yaitu yang mengukumi sesuatu Dalam ilmu bayan, maudhu mirip dengan mubtada dan mahmul mirip dengan khabar Contoh: Muhammad berdiri. Muhammad: maudhu Berdiri: mahmul Maudhu bisa berupa syahsiyah (personal) atau kuliyah (seluruh). Keduanya bisa positif atau negatif Contoh ... Read More »

Mengenal Kiyas Aristetolian

Sebagaimana dalam kiyas ushuli, kiyas mantik (dalil) juga terdiri dari 4 hal, yaitu mukadimah pertama, mukadimah kedua, pengikat dan konklusi Pengikat, seperti illat Konklusi, seperti hukum Jika kita bandingkan dengan kiyas usuli, maka akan kita temukanbahwa rukun kiyas bagi mereka juga empat, yaitu al-aslu, al-far’u, illah dan al-hukmu. Salah benarnya konklusi dalam kiyas Arestotelian ini, sangat bergantung kepada mukadimah pertama. ... Read More »

Manthiq Tashdiqi

Selanjutnya, kita akan membahas mengenai mantik tasdiqi. Imam Amidi menyebutnya dengan istilah dalilyang mencakup ke dalam tujuh bahasan: 1. Batasan dalil, bagian dalil akal dan selain dalil akal. 2. Dalil akal yang terdiri dari dua mukadimah 3. Bentuk-bentuk mukadimah 4. Pembagian dalil menjadi qati dan selain qat’I 5. Bentuk-bentuk dalil 6. Pembagian dalil akal 7. Dalil yang dianggap meyakinkan, ternyata ... Read More »

Syarat Pembentukan Had

Dalam membentuk had, ada dua syarat penting, yaitu: 1. Jami : artinya tidak ada sesuatu yang keluar dari yang didefinisikan. 2. Mani: artinya tidak ada sesuatu yang diluar definisi, namun masuk ke dalam definisi. Jika tidak jami, maka sesuatu yang didefinisikan akan lebih umum dari definisi. Jika tidak mani, maka definisi akan lebih umum dari sesuatu yang didefinisikan. Jadi, jika ... Read More »

Pembagian Hadd

Dalam ilmu bayan, ini mirip ketika kita membuat permisalan/istiarah. Maka permisalan harus lebih jelas dibandingkan dengan yang dimisalkan. Contoh, Lampunya terang seterang matahari. Padahal dalam kenyataannya, matahari lebih terang dari lampu tersebut. Akan kurang tepat jika kita membuat permisalahn dengan yang lebih rendah. Contoh, lampunya sangat terang seperti lilin. Atau dengan sesuatu yang mempunyai tingkatan setara, contoh: lilinnya sangat terang ... Read More »

Batasan dan Definisi Had

Di sini terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa batasan had adalah al-jami dan al-mani (simpel dan mencakup). Hanya pendapat ini lemah. Contoh, jika ditanya tentang batasan manusia, siapakah manusia? Jawabnya, ia adalah manusia. Jawaban tersebut simpel dan mencakup (jami mani) namun tidak benar. Karena ia mendefinisikan sesuatu, dengan sesuatu itu sendiri. Padahal untuk membuat definisi, ungkapan definisi harus lebih ... Read More »

Lanjutan Tentang Had

Had (batasan tadi) bisa jadi kembali kepada perkataan orang yang membuat had atau kembali kepada sifat sesuatu yang dilakukan had. Mengenai hal ini, para ulama Asyari berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa had kembali kepada sesuatu atau benda yang bersangkutan. Menurut mereka, antara had dan hakikat artinya sama. Oleh karenaitu mereka mengatakan, had adalah hakekat dan makna atas sesuatu. ... Read More »

Mantik Tahsawuri: Had

Had artinya batasan. Yang dimaksudkan dengan had si ini adalah bahwa ketika seseorang akan membuat suatu definisi, maka dalam definisi tersebut harus ada batasan yang jelas. Dengan batasan-batasan tadi, maka segala sesuatu yang tidak masuk dalam pokok bahasan otomatis keluar dari definisi.   Contoh: Shalat adalah perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan niat ibadah shalat. Dengan ... Read More »

Urgensi Ilmu Mantik dalam Pemikiran Islam

Setelah ini kita akan membahas tentang mantik (logika aristetolian). Dalam ilmu kalam, bab ini sangat penting, karena menjadi landasan pembahasan setelahnya. Ilmu ini juga penting bagi mereka yang spesialis belajar ushul fikih. Ushul fikih kalam, menjadikan ilmu mantik sebagai sarana “berdebat” (bermunazarah). Sementara ushul fikih burhan khusunya ibnu Hazm, menjadikan ilmu mantik sebagai landasan epistemologi dalam menelurkan berbagai kaidah ushuliyahnya. ... Read More »