Sunday, January 17, 2021
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Wahai Azhari, Umat Menanti Pengabdianmu

wisuda-wni-mesir-kmj

Senin (29/9/2014) para santri Universitas al-Azhar melaksanakan wisuda yang diikuti lebih dari 400 mahasiswa. Wajah berseri mengembang di raut muka mereka. Sejak saat itu, mereka resmi menyelesaikan pendidikan di universitas tertua tersebut. Mereka menjadi alumni al-Azhar atau lebih dikenal dengan Azhari.

 

Gelar sebagai alumni sesungguhnya bukan perkara sepele. Mereka membawa nama besar al-Azhar, benteng sunni terbesar di dunia. Pertanyaannya, apakah kapasitas keilmuan mereka setara dengan gelar yang mereka sandang? Apakah mereka benar-benar siap untuk berjihad terjun ke masyarakat?

 

Persoalan yang dihadapi umat Islam Indonesa sangatlah kompleks. Masyarakat kita saat ini tergerogoti oleh budaya materialis. Segala perilaku selalu dikalkulasikan dengan materi. Pendidikan juga sangat sekuler. Pemahaman keagamaan umat sangat minim. Berbeda sedikit saja terhadap pendapat lain bisa memicu persoalan. Bahkan bisa jadi kita diusir dari kampung halaman kita. Perlu pendekatan khusus dalam berdakwah.

 

Yang lebih memprihatinkan lagi, saat ini muncul para dai selebritis. Mereka yang secara keilmuan sangat tidak kompeten, mengisi pengajian di TV. Mereka menjadi kyai dadakan yang selalu disorot kamera. Karena dai selebritis, prilaku mereka juga seperti selebritis. Mereka ini, berani memberikan tausiyah agama tanpa ilmu. Lihat saja, selama ceramah berlangsung, sangat minim bahkan kadang tidak sama sekali keluar dari mulut mereka ayat al-Quran atau hadis nabi. Apalagi pendapat para ulama, sama sekali mereka buta.

 

Banyak pendapat yang terkadang sesat menyesatkan. Bahkan ada dari mereka yang lebih layak menjadi dukun atau komedian dibanding jadi seorang dai. Sebagian dari mereka malah tertangkap polisi dan masuk ke dalam penjara karena kasus penipuan.

 

Di sinilah peran kita para alumni Azhar. Memang tidak mudah untuk bisa menggeser mereka di acara TV. Sudah rahasia umum bahwa kualitas dai di TV sama sekali tidak penting. Perusahaan TV hanya menghitung keuntungan yang bisa masuk. Semakin aneh seorang dai, semakin banyak pemirsa, maka semakin penuhlah pundi-pundi keuangan yang bisa diraup.

 

Meski demikian, kita tetap bisa berperan di tempat kita berada. Bahkan sesungguhnya, tatkala kita berada di Mesir pun, kita bisa berbagi ilmu pengetahuan. Facebook, twiter, blog, whatsapp dan media lainnya dapat dijadikan sarana efektif bagi kita untuk menebar ilmu. Jadi, mulailah berdakwah dari sekarang.

 

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

fifteen − 10 =

*