Monday, October 22, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ustd. Bolehkan Berkorban Atas Nama Ayah Saya Yang Sudah Meninggal?

 

Berkorban atas nama orang yang sudah meninggal, sementara waktu hidup si mayit tidak pernah memberikan wasiat atau bernadzar, merupakan persoalan yang menjadi khilaf di kalangan fuqaha. Jumhur ulama dari kalangan Malikiyah, Hanafiyah, Hambaliyah dan sebagian dari Syafiiyah mengatakan boleh. Pahalanya pun sampai. Dalil yang dijadikan pijakan adalah sabda Rasulullah saw berikut ini:

عَنِ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنٍ يَطَأُ فِيْ سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِيْ سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِيْ سَوَادٍ فَأَتَيْ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ. فَقَالَ لَهَا: يَا عَائِشَةَ هَلُمِّي الْمَدِّيَةَ ثُمَّ قَالَ: اشْخِذِيْهَا بِحَجَرٍ. فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ. ثُمَّ ضَحَّى بِهِ (رواه مسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwa sesungguhnya Rasulullah saw menyuruh membeli kambing kibasy yang bertanduk yang kaki-kakinya hitam perutnya hitam dan sekitar matanya hitam lalu disampaikan kepada beliau untuk qurban, maka beliau SAW bersabda kepada beliau (‘Aisyah): ”Wahai ‘Aisyah ambilkan pisau panjang”. Selanjutnya bersabda: ”Asahlah dia dengan batu asah”. Maka beliau (‘Aisyah) mengerjakan apa yang diperintahkan, kemudian Beliau SAW mengambil pisau itu dan mengambil kibasy itu lalu dibaringkan kemudian menyembelihnya sambil bersabda: ”Dengan nama Allah Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan dari keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad. Kemudian berqurban dengannya” (HR Muslim).

 

Kata “Dari Umat Muhammad” berbentuk umum, Artinya bahwa korban tersebut untuk umat Muhammad baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal dunia.

Para ulama juga menggunakan dalil kiyas, yaitu dibolehkannya haji atau puasa atas nama orang yang sudah meninggal.

 

Imam Kassani berkata, Dalil istihsan, yaitu bahwa si mayit, tidak melarang dirinyauntuk tetap mendekatkan diri kepada Allah. Buktinya bahwa boleh orang bersedekah dan berhaji atas nama si mayit. Juga hadis dari nabi Muhammad saw yang berkorban dua kambing, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk umatnya. Dari umat Muhammad itu, tentu sudah ada orang yang meninggal dunia ketika kambing tadi akan disembelih. Ini menunjukkan bahwa si mayiit tetap boleh untuk berkorban.   (Bada’I ash-Shani).

 

Dalam kitab Hasyiyah Ibnu Abidi, Ibnu Abidin berkata, Barangsiapa yang berkorban atas nama si mayit, maka binatang kurban diberlakukan selayaknya kurban biasa, yaitu disedekahkan dan dimakan untuk keluarga yang berkorban. Jadi, pahala untuk si mayit, adapun kambing tadi, status kepemilikannya tetap milik orang yang berkorban.

 

Apalagi jika kurban tadi untuk ayahnya. Tentu ini lebih mulia. Karena di antara amalan yang tidak akan terputus, sesungguhnya adalah amalan dari anak salih tersebut. Hal ini berdasarkan hadis berikut ini:


عن أبي هريرة رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع يه أو ولد صالح يدعو له

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu katanya,, Rasulullah saw bersabda : Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Sementara, bagi yang melarang, memandang bahwa perbuatan tersebut dengan nama ahli mayyit tertentu, belumpernah dilakukan oleh Rasulullah saw.

 

Hanya, saya memilih pendapat yang membolehkan. Silahkan jika hendak berkorban atas nama mereka yang telah meninggal dunia. Wallahu a’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open