Monday, August 20, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ushul FIkih Membuat Kita Liberal, Benarkah?

hdgll

 

Beberapa waktu lalu di whatsapp muncul isu wacana bahwa ushul fikih membuat kita liberal. Saya cukup kaget dan tersentak. Benarkah dengan ushul fikih akan menjadikan pemikiran kita menjadi liberal?

 

Secara sederhana, ushul fikih itu sebuah metodologi Ijtihad dalam menggali kesimpulan hukum baik dari Quran ataupun sunnah. Ushul fikih juga merupakan sebuah sarana untuk menentukan sikap kita supaya dalam berprilaku atau membuat keputusan tidak melenceng dari ketentuan hukum syariat. Ushul fikih bahkan bisa menjadi alat bantu utuk mencari solusi alternatif terhadap berbagai persoalan umat.

 

Ushul fikih kajiannya cukup luas. Jika kita membuka ilmu ushul fikih, biasanya bab awal akan dibahas tentang istilah ushul dan fikih. Kemdian makna ushul fikih secara keseluruhan. Baru kemudian masuk kepada hukum taklifi, hukum wadhi, masadir at-tarisyri‘, ilmu dilalah, ilmu maqashid, bab ijtihad, tarjih, taqlid, tiitiba dan lain sebagaiya. Jadi, bahasan ushul fikih sangat luas danmendalam.

 

Jika kita mengacu kepada kajian teks, ushul fikih mempunyai dua model, yaitu ijtihad semantik dan ijtihad maqashidi. Ijtihad semantik adalah ijtihad yang bermula dari teks, lalu berbagai solusi hukum akan dicari dari teks secara langung dengan menggunakan kacamata bahasa. Dari kajian semantik ini muncul qawaid ushuliyyah lughawiyyah.

 

Ada juga kajian yang bergerak dari konteks menuju teks, yaitu ilmu maqashid syariah. Jadi, dia beranjak dari persoalan yang dihadapi oleh umat, lalu berbagai persoalan tadi dicarikan solusi hukumnya melalui kajian teks. Dari sana maka ketentuan hukum akan dapat diketahui. Kajian maqashid mempunyai kaedah khusus yang sering disebut dengan maqashid as-syariah.

 

Baik ijtihad semantik, ilmu maqashid atau bahasan lain dalam ushul fikih sangat runtut, jelas dan mendetail. Setiap bahasan mempunyai kaedah dan standar yang jelas. Ada qatiyyat dan zhanniyat. Ada ranah di mana sebuah teks tidak ada pintu ijtihadi namun ada yang mempunyai wilayah ijtihad yang sangat luas. Ada pula persoalan hukum yang secara sharihnya belum ada dalam nas, namun secara inplisit sesungguhnya sudah disebutkan oleh nas.

 

 

Quran sunnah itu “diam” dan “ibarat bahan mentah”. Ia butuh dioleh. Alat olahnya ini adalah ushul fikih. Maka ushul fikih sebagai sebuah metodologi penggalian hukum sangat penting dan mutlak dibutuhkan bagi seorang mujtahid.

 

Jadi, ushul fikih itu memberikan kita rambu-rambu supaya jelas dalam menentukan sebuah produk hukum. Dengandemikian hokum yang dikeluarkan tidak bertentangan dengan syariat. Jadi, sangat aneh jika ada pendapat yang menyatakan bahwa ushul fikih hanya membuat kita liberal.

 

Jika ada orang liberal dengan alasan karena menggunakan ilmu ushul fikih, ada dua kemungkinan, pertama ia belum paham dan belum menguasai ushul fikih secara baik. Dengan demikian dalam memahami ushul fikih sangat partikular dan parsial. Oleh karenanya, ia salah dalam menggunakan kaedah yang ada dalam ushul fikih.

 

Kedua, dia paham ushul fikih, namun ketika mengeluarkan pernyataan, ia ambil kaedah yang sesuai dengan keinginannya saja, sementara rambu-rabu dan standar lain dalam ushul fikih ia abaikan. Tujuannya jelas, yaitu untuk mengarahkan pembaca agar seakan-akan pendapatnya sesuai dengan syariat. Jadi, ushul fikih sekadar jadi justifikasi personal saja.

 

Wacana ushul fikih liberal ini punya dua agenda, pertama agar orang tidak belajar ilmu ushul fikih. Jadi, umat Islam dicoba untuk meninggalkan turas Islam. Uamt Islam dijauhkan dari metodologi yang dihasilkan oleh para ulamanya sendiri. Jika uamt telah lari dari turas Islam, khususnya ushul fikih, maka ilmu ini akan termarjinalkan. Jika ini yang tejadi, orang akan mengeluarkan produk hukum sesuka hati dan belum tentu sesuai dengan syariah. jelas.

Kedua, agar umat Islam berkutat kepada cara pembacaan teks ala Barat. Umat tetap berada di titik inferioritas pemikiran Islam.  Barat menjadi poros peradaban dan pemikiran, termasuk juga pemikiran keislaman. Inilah sebenarnya tujuan akhirnya, yaitu westernisasi dan liberalisasi pemikiran keIslam. Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

One comment

  1. Terkadang orang tidak sadar dgn bahaya ungkapan “kembali pada Al Qur’an dan sunnah”. Bagaimana istilah ini menghancurkan keilmuan Islam dari dalam.

    Atau pertanyaan “mana dalilnya?”. Padahal ini menjadikan muslim menjadi komunitas yang sangat egaliter.
    Dan masih banyak lagi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open