Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ushul Fikih Klasik Tidak  Mengakomodir Kehidupan Sosial dan Budaya Dalam Putusan Hukum?

sfahh

 

 

Dala buku Fikih Kebinekaan, M. Amin Abdullah menuliskan berikut:

 

Fitur kemenyeluruhan (الكلية  : al-kulliyyah, wholeness). Elemen fitur ini ingin membenahi kelemahan ushul fikih klasik yang sering menggunakan pendekatan reduksionis dan atomistik. Pendekatan atomistik terlihat dari sikap mengandalkan hanya pada satu nas untuk menyelesaikan kasus-kasus yang dihadapinya tanpa memandang nas-nas lain yang terkait. Solusi yang diterapkan adalah menerapkan prinsip holisme melalui operasionalisasi “tafsir tematik” yang tidak lagi terbatas pada ayat-ayat hukum, melainkan juga melibatkan ayat-ayat al-Quran termasuk ayat-ayat yang terkandung di dalamnya pedoman kehidupan sosial dan budaya, sebagai pertimbangan dalam pemutusan hukum Islam secara komprehensif. (Fikih Kebinekaan: 62-63)

 

Benarkah bahwa fikih klasik tidak melibatkan ayat-ayat al-Quran termasuk ayat-ayat yang terkandung di dalamnya pedoman kehidupan sosial dan budaya, sebagai pertimbangan dalam pemutusan hukum Islam secara komprehensif? Mari kita bali ke belakang dan melihat secara langsung berbagai kaidah fikih klasik.

 

 

Islam datang tidak di ruang kosong, namun ia datang di tengah temgah budaya Arab. Islam memberikan solusi hukum terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Arab waktu itu.

 

Sebelum Islam datang, bangsa Arab sudah merupakan bangsa yang berbudaya. Mereka juga mempunyai berbagai macam tradisi yang melekat dalam tatanan masyarakat. Budaya tersebut dibawa oleh nenek moyang mereka secara turun temurun.

 

 

Islam datang bukan untuk menghapus seluruh budaya Arab dan diganti dengan budaya baru. Meski demikian, Islam juga tidak membiarkan budaya Arab berjalan apa adanya tanpa ada proses seleksi. Islam memberikan tuntunan dan timbangan terkait dengan budaya tersebut. Tuntuntunan dan timbangannya tentu saja al-Quran dan sunnah nabi.

 

Di antara tradisi jahiliyah adalah sikap mereka yang suka menghormati tamu. Tradisi memberikan layanan terbaik kepada tamu ternyata sesuai dengan ajaran Islam. Untuk itu, Islam datang dan menguatkan tradisi tersebut. Rasululah saw bersabda:

 

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليقل خيرا أو ليصمت ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم جاره ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم ضيفه ) رواه البخاري ومسلم .

 

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam, dan barangsiapa yang beriman kepada allah dan hari akhir, maka hormatilah tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada allah dan hari akhir, maka hormatilah tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim

 

 

Orang Arab suka menolong saudaranya yang dizhalimi. Ini bisa dilihat dari kisah “Halfu al fudhul”, yatu tatkala ada suku Arab  yang dizhalimi, maka berbagai suku arab, di antaranya dari Bani Hasyim, Bani Muthallib, Bani Asad, dan Bani Zahrah berkumpul di rumahnya Abdullah bin Jud’an untuk melakukan kesepakatan bersama, bahwa tidak boleh ada kezhaliman di antara suku Arab. Jika ada yang dizhalimi, maka semua suku tadi berkoalisi untuk memberikan pembelaan. Tradisi ini juga dikuatkan oleh Islam dengan sabda nabi Muhammad saw:

 

انصر أخاك ظالما أو مظلوما

Artinya: “Tolonglah saudaramu baik yang menzhalimi atau yang dizhalimi.” (HR. Bukhari)

 

Menolong orang yang menzhalimi dengan mencegah mereka agar tidak berlaku zhalim. Ini artinya kita menyelamatkan mereka dari siksaan api neraka. Menolong orang yang dizhalimi, dengan memberikan bantuan agar ia tidak dizhalimi orang lain.

 

 

 

Budaya qishash bagi pembunuh sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Bagi yang dimaafkan, boleh mengganti dengan 100 ekor unta. Ini persis seperti kasus Abdul Muthalib yang bernadzar jika mempunyai anak laki-laki, maka ia akan disembelih. Ternyata ia diberi rezki dengan kelahiran Abdullah. Ia sudah berniat untuk menyembelih bdullah, namun ditentang oleh keluarganya. Maka bdul Mutalib menggantikan nadzarnya dengan menyembelih 100 ekor unta dan disedekahkan kepada fakir miskin. Tradisi qishash ini sesuai dengan syariat Islam. Allah berfirman:

 

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang  berakal, supaya kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 179)

 

 

 

Selain tradisi baik, bangsa Arab juga mempunyai tradisi buruk, seperti menyembah berhala, mengubur hidup-hidup bayi perempuan, perzinaan, perdukunan dan lain sebagainya. Tentu saja, perbuatan tadi bertentangan dengan syariat. Maka Islam datang untuk meluruskannya. Islam menyeru mereka untuk hanya menyembah Allah, tidak diperkenankan membunuh siapapun tanpa ada alasan  yang benar, tidak boleh berzina dan melakukan perbuatan yang dapat mendekati zina, diharamkan melakukan perdukunan dan seterusnya.

 

 

 

Dari bebrapa contoh di atas, para ulama ushul berkesimpulan bahwa tradisi dibagi menjadi dua bagian:

Pertama, tradisi yang sesuai dengan syariah Islam. Tradisi seperti ini diperbolehkan oleh Islam. Untuk menguatkan argument ini, ulma ushul meletakkan kedah:

 

المعروف عرفا كالمشروط شرطا

Maksudnya, suatu tradisi baik yang telah terpaku di masyarakat dan tidak menyalahi syariat Islam, maka ia bagai sebuah syarat. Contoh, selepas shalat id, bagi masyarakat muslim Nusantara, dilanjutkan dengan acara silaturahmi. Jika kita shalat lalu berdiam diri di rumah, tidak berailaturrahmi ke sanak kerabat, tentu ini dianggap aneh. Silaturrahmi setelah shalat Ied sudah menjadi semacam “syarat tambahan” bagi perayaan Idul Fitri. Di kampung dulu, jika kita shalat tidak pakai peci, dianggap aneh. Peci menjadi semacam “syarat tambahan” untuk shalat.

 

Oleh karena pentingnya tradisi ini, para ulama ushul meletakkan kaedah lain, yaitu

 

العادة محكمة

 

Maksudnya bahwa tradisi menjadi timbangan hukum. Contoh dalam fikih dalam bab nikah. Jika seorang wanita dilamar seorang pria dan ia tidak menyebutkan nilai mahar, maka mahar yg berlaku adalah mahar yang umum dan sudah mentradisi di masyarakat tersebut.

 

 

Perbedaan ruang waktu ini di antara yang menjadi sebab terjadinya perubahan fatwa Imam Syafii. Jika di Bagdad Imam Syafii mempunyai qaul qadim (pendapat lama), maka sewaktu beliau pindah ke Mesir, beliau mempunyai qaul jadid (pendapat baru). Ada beberapa fatwa beliau yang kemudian dirubah dan disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat Mesir, Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa jumlah fatwa yang dirubah, ada yang mengatakan 14, 19 ada juga yang mengatakan 23. Namun semua sepakat adanya perubahan pendapat ini.

 

Kaedah mengenai perubahan fatwa dengan melihat pada sisi sosial budaya juga dikuatkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Dalam kitab I’lamul Muwaqqiin, Ibnul Qayyim berkata:
تغير الفتوى واختلافها بحسب تغير الازمنة والامكنة والاحوال والنيات والعوائد

Artinya: Perubahan fatwa dan perbedaannya terjadi menurut perubahan zaman, tempat, keadaan, niat dan adat istiadat

 

Beberapa kaedah di atas merupakan interpretasi para ulama dari ayat berikut:

فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ

Artinya: “Maka, hendaknya ia mengikuti cara yang ma’ruf dan hendaklah ia menyampaikan dengan cara yang baik. (QS: Al-Baqarah: 178)

 

Juga ayat berikut:

 

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya : Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf”.(QS. Al-Baqarah : 233).

 

Kata makruf dari dua ayat di atas maksudnya adalah sesuatu yang baik yang sudah menjadi tradisi dan kebiasaan suatu masyarakat. Ini dikuatkan dengan hadis berikut:

 

أن هند زوجة أبي سفيان رضي الله عنه وأرضاه قالت: يا رسول! إن أبا سفيان رجل شحيح، فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم: (خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف).

 

Artinya: Bahwa istri abu Sufyan ra. berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan orang yang pelit. Rasulullah saw berkata kepadanya, “Ambillah dari harta  Abu Sofyan sesuai dengan kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan cara yang makruf”.   (HR. Bukhari)

 

Maksudnya makruf adalah mengambil uang sekadarnya sesuai dengan kebutuhan yang umum terjadi di masyarakat tersebut.

 

Dalam kitab al-Muwatha disebutkan mengenai sabda Nabi Muhammad saw sebagai berikut:

قال النبي صلى الله عليه وسلم عن المملوك: (للمملوك طعامه وكسوته بالمعروف

 

Rasulullah saw bersabda terkait interaksi dengan budak, Budak mempunyai hak makanan dan pakaian seperti yang makruf”.

 

Maksudnya makruf di sini adalah standar sesuai dengan yang berlaku di masyarakat tersebut.

 

Masih banyak lagi hadis dan ayat al-Quran yang dijadikan sandaran para ulama untuk mendukung pendapat mereka yang mengatakan bahwa tradisi dan kondisi sosial budaya dalam suatu masyarakat dapat dijadikan sebagai timbangan dalam menetapkan hukum fikih. Dalam ushul fikih, tradisi dan kondisi social masyarakat ini masuk dalam bab mashadir attasyri (sumber hukum) yang mukhtalaf fihi. Di sana banyak sekali pendapat dan pandangan para ulama terkait hal tersebut.

 

Dari sedikit paparan di atas jelaslah bahwa para ulama terdahulu sesungguhnya sudah melibatkan ayat-ayat al-Quran termasuk ayat-ayat yang terkandung di dalamnya pedoman kehidupan sosial dan budaya, sebagai pertimbangan dalam pemutusan hukum Islam secara komprehensif.

 

Lantas dari mana M. Amin Abdullah mengambil kesimpulan bahwa ushul fikih klasik tidak melibatkan ayat-ayat al-Quran termasuk ayat-ayat yang terkandung di dalamnya pedoman kehidupan sosial dan budaya, sebagai pertimbangan dalam pemutusan hukum Islam secara komprehensif?wallahu a’lam .

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open