Sunday, April 5, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Urgensi Maqashid Syariah Bagi Seorang Mujtahid

EXIF_IMG

EXIF_IMG

 

Bagi seorang mujtahid, pengetahuan terhadap Ilmu maqashid sangat panting. Tentu bukan sekadar tau, namun juga mampu menerapkan Ilmu maqashid untuk menggali berbagai kesimpulan hokum bai  dari al-Quran maupun sunnah. Pemahaman mendalam terhadap Ilmu maqashid akan sangat membantu mujtahid dalam mengambil sebuah kesimpulan hokum sehingga dapat selaras dengan nas dan maslahat hamba.

 

Seorang mujtahid yang hanya menguasai ilmu semantik saja, dalam fatwanya terkesan akan kaku. Ia terlalu literal dalam memahami nas, padahal konteks di mana nas turun terkadang berbeda dengan kondisi riil umat Islam saat ini. Akibatnya fatwa yang dikeluarkan terkesan rigit dan jumud. Bisa jadi dengan pemahaman semantik itu, ia mudah menyalahkan orang lain yang berbeda ijtihad dengannya karena menurutnya tidak sesuai dengan teks dan sistem istidlal bayani. Yang lebih ekstrim lagi adalah tuduhan liberal, mungkin juga antek zionis dan Barat akibat perbedaan sistem istidlal ini. Pada ahirnya yang muncul di masyarakat bukan sikap saling memahami dan jiwa toleran, namun sebaliknya jiwa permusuhan dan kecurigaan.

 

Jika sesama mereka saling paham dengan ilmu maqashid, perseteruan antar mereka ini bisa dihindari. Masalahnya adalah bahwa masing-masing mereka punya pengikut dan ia bisa mempengaruhi jamaahnya. Dari sini persoalan yang sesungguhnya menjadi domain mujtahid saja, berubah menjadi persoalan sosial. Jamaah yang tidak tau menahu tentang sistem ijtihad dan istidlal dibawa arus dan apada akhirnya menjadi gesekan sosial.

 

Dampak lain, jika mujtahid sekadar menggunakan ijtihad bayani tanpa menggunakan ilmu maqashid adalah akan berguguran banyak persoalan yang kontekstual, namun secara bayani tidak cukup untuk dijadikan sebagai sarana ijtihad. Akibatnya persoalan yang mestinya sangat menguntungkan umat, menjadi tersisihkan. Contoh fatwa dari Syaih al-Bani yang mengatakan bahwa uang kertas tidak wajib zakat. Di antara yang menajdi alasan adalah bahwa yang disebut mata uang adalah emas, perak dan sejenisnya. Uang intrinsik itu wajib zakat. Ia mempunyai nilai dengan sendirinya. Berbeda dengan uang kertas yang sama sekali tidak punya nilai sepadan. Nilainya karena ketetapan resmi dari Bank Sentral.

 

Benar bahwa dalam al-Quran yang disebutkan wajib zakat dari mata uang adalah adzahab (emas) dan al fidhah (perak). Realitas kita saat ini dan konteks masyarakat Islam secara umum tidak lagi menggunakan emas dan perak sebagai mata uang. Sudah menjadi keputusan Bank Sentral dari berbagai negara menggunakan uang kertas sebagai sarana transaksi. Apakah dengan konteks yang sudah berubah ini kita tetap berpedoman dengan fatwa zakat emas perak saja?

 

Jika ini yang dijadikan sebagai pedoman, maka akan banyak harta hamba yang tidak dikenai zakat. Bisa jadi bahkan sebagian masyarakat muslim tidak berzakat. Para Trilyuner yang menyimpan uang di berbagai Bak dunia, semuanya menggunakan mata uang kertas. Para usahawan itu, dalam berinteraksi selalu menggunakan nilai mata uang kertas.

 

Contoh lain, dalam al-Quran dan sunnah dan juga kitab kitab kuning tidak pernah disebutkan mengenai zakat ayam dan unggas. Jika menggunakan ijtihad bayani, ayam dan unggas akan dikiyaskan ke mana? Saat ini bisnis unggas cukup menggiurkan. Banyak saudagar besar kaya raya dari peternakan unggas ini.

 

Selain unggas, juga muncul peternakan kelinci, ikan, udang dan sejenisnya. Hasilnya juga bisa luar biasa. Apalagi yang dikelola oleh perusahaan besar. Hasilnya bisa milyaran. Apakah karena tidak mungkin dikiyaskan kepada hewan ternak lainnya, lantas pemeliharaan hewan-hewan tadi tidak terkena wajib zakat? Tentu saja tidak. Mereka tetap terkena beban zakat.

 

 

Jadi, pemahaman literal terhadap nas dan dengan menggunakan ijtihad bayani saja, akan mengakibatkan kerugian besar terhadap umat Islam. Hal ini karena semantik lebih melihat dari sisi teks saja. Berbeda kiranya jika kita menggunakan ilmu maqashid. Hal-hal yag tidak tercover oleh semantik, dapat dibackup oleh ilmu maqashid. Dengan demikian, hukum Islam tetap eksis menyesuaikan ruang waktu.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

20 − fifteen =

*