Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ungkapan Ijab Kabul (II)

 dsafasPara fuqaha mensyaratkan dua ungkapan dalam akad. Pertama: ungkapan ijab kabul yang menunjukkan masa yang sudah lampau; (mâdhi). Kedua: ijab menggunakan ungkapan yang sudah lampau (mâdhi), sementara kabul menggunakan ungkapan yang akan datang (mustaqbal). Contoh bentuk pertama: ucapan bagi yang menikahi: “zawajtuka ibnati” (saya telah nikahkan anak saya) dan yang menerima menjawab”qabiltu” (telah aku terima) dan contoh yang kedua adalah: ucapan bagi khatib: “uzawwijuka ibnati” (sekarang aku nikahkan anakku dengan Anda) dan wali menjawab:”qabiltu”(Telah aku terima).[1]

 

Fuqaha sepakat, lafal ijab kabul akan dianggap sah, apabila lafal tersebut menggunakan dengan lafal  al-tazwîj atau al-inkâh. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:

 

وَلاَ تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاء سَبِيلاً

 

Artinya: Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruknya jalan (yang ditempuh). (QS. An-Nisâ: 22)[2]

Pada hakikatnya shîghah (ungkapan) akad nikah, diucapkannya dengan shîghah mâdhi (ungkapan lampau), karena shîghah mâdhi (ungkapan lampau) lebih kuat dari shîghah lainnya, tetapi menggunakan shîghah selain shîghah mâdhi juga boleh, dengan syarat harus ada indikator (qarînah) dalam akad tersebut.[3]

 

Ijab Kabul Hukum
zawajtuka ibnati” (Aku telah nikahkan anakku) qabiltu” (telah aku terima) Sah
Uzawwijuka ibnati” (Sekarang aku nikahkan anakku dengan Anda) qabiltu”(Telah aku terima) Sah

 



[1]                      Al-Sayyid Sabiq, Fikihu al-Sunnah, Muhammad Sayyid Sabiq ed, al-Fathu li’l I’lâm al-‘Arabiy, cet. III, Kairo vol II, hal.  323

[2]                      Dr. Abdul Karim Zaidan, Al-Mufashshal fî Ahkâmi al-Mar’ati wa Baiti al-Muslimi fî al-Syarî’ati al-Islâmiyyati, Muassasah al-Risâlah, cet. III, vol VI, Beirut, hal. 81

[3]                      Ibid., hal 82-83

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open