Monday, October 22, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ulama Pioner Maqashid

Imam Syafii:

Imam syafii membahas tentang ta’lil ahkam. Dalam ilmu maqashid, masalah ta’lil ini sangat penting. Bahkan bisa dikatakan bahwa ta’lil ahkan menjadi pintu masuk dan prasyarat untuk mengetahui maqashid. Tanpa metahui mengenai ilat hokum, akan sulit untuk dapat mengetahui mengenai tujuan dasarditentukannya hokum syariat. Beliau juga berbicara tentang kaedah kuliyah dalam hukum syariat. Beliau memandang bahwa para fuqaha harus memberikan perhatian serius atas kaedah kuliyah tadi.

 

Imam Tirmizhi

Hakim Tirmidzi hidup di abad ke 3 hijriyah. Beliau memang tidak populer sebagai fakih atau ushuli. Beliau lebih dikenal sebagai sufi filsuf (hakim). Meski demikian, beliau termasuk ulama salaf yang memberikan perhatian besar terkait dengan persoalan maqashid syariah. Beliau adalah ulama yang banyak mengkaji mengenai illat dan rahasia dibalik ketetapan suatu hukum. Beliau termasuk ulama generasi pertama yang mempopulerkan istilah “maqashid”. Hal ini bias dilihat dari judul buku yang beliau tulis, yang diberi judul “Ashalat wa maqâshiduha”.

 

Abu Bakar al qaffal asyasyi (w. 365 h).

Beliau ulama ushul fikih (ushuli), pengarang kitab mahâsin asy-Syari’ah. Buku ini terkait erat dengan tema maqashid syariah. Dalam buku ini, beliau mengungkap mengenai keindahan hukum syariah ditinjau dari sisi maqashidnya. Buku ini mendapat apresiasi tinggi dari Imam Ibnul Qayyim, salah seorang ulama mutaakhirin yang juga mempunyai sumbangan besar terhadap pengembangan ilmu maqashid.

 

Abu Bakar al-Abhari.

Beliau adalah fakih ushuli dan fakih. Beliau banyak menulis kitab ushul dan fikih. Beliau bermadzhab Maliki. Meski demikian, beliau sering dijadikan rujukan oleh para ulama madzhab Syafii dan Hanafi.

 

Al-Baqilani
Imam Bagilani merupakan ulama abad ke-4 yang sangat produktif. Beliau banyak menulis buku dari berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau adalah ushuli, fakih sekaligus mutakallim.

Jika imam Syafii dianggap sebagai peletak dasar ilmu ushul fikih, maka beliau dianggap sebagai ulama yang memberikan banyak pengembangan dalam ilmu ini dengan memasukkan paham kalam ke dalam ilmu ushul fikih.

Dalam ilmu ushul fikih, beliau menulis buku yang sangat berharga, yaitu at-taqrîb qal irsyad fi tartîbi thuruqil ijtihad. Kitab ini terdiri dari 14 jilid. Beliau lantas meringkasnya dengan ukuran sedang dengan judul al-irsyad al-mutawasith dan ringkasan pendek dengan judul al-irsyad Ashaghir.

Kitab ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu ushul fikih setelah beliau. Imam Juwaini meringkas kitab tersebut dengan judul At-Talkhîs. Pengaruh buku ini juga nampak di karya karya imam Ghazali dan imam Syairazi.

 

Imam Haramain

Ia adalah Abu al-Ma’ali Abdul Mulk bin Abdullah al-Juwaini. Beliau bisa dianggap sebagai pioner dalam ilmu maqâhid. Dalam kitab al-Burhân, beliau banyak berbicara sekitar ilmu maqashid. Kadang secara sharih, beliau menggunakan kata al-Maqâshid, kadang al-maqshud, al-qashd, al-ghard wal aghrad. Intinya adalah tujuan dasar diturunkannya hukum syariat.

Dalam kitabnya tersebut, beliau mengatakan bahwa siapa yang tidak mengerti mengenai maqashid yang terletak dalam perintah dan larangan Allah, maka dia dianggap belum paham mengenai tujuan diturunkannya hukum syariat.

Dibandingkan dengan ulama sebelunya, beliau banyak berbicara terkait dengan ilmu maqashid secara lebih rinci. Beliau sudah melakukan pembagian terkait maqashid dengan  istilah dharuriyat, hajiat dan tahsiniat.

 

Dalam kitab al-Burhân, imam Juwaini membagi Ushul Syariah menjadi lima;
1) Daruriyat, yaitu kebutuhan fital yang menjadi hak setiap manusia. Untuk melindungi daruriyat, Allah memberikan hukuman berat bagi para pelanggarnya. Beliau mencontohkan hukuman qishash bagi pembunuh. Qishash bertujuan untuk melindungi jiwa setiap manusia.
2). Hajiyat, yaitu kebutuhan setiap manusia, namun tidak sampai pada derajat darurat. Beliau mencontohkan akad persewaan yang umum dilakukan di masyarakat. Meski sewa menyewa itu penting dan menjadi kebutuhan umum, namun ia bukan kebutuhan fital bagi setiap manusia.
3. kebutuhan manusia yang terkait dengan keindahan, tambahan atau menambah wibawa seseorang, seperti selalu bersuci, mandi, menghilangkan bau badan dan lain sebagainya.
4) Hampir mirip yang nomor tiga, namun derajatnya lebih ringan lagi, yaitu terkait dengan perkara yang sunah, seperti menggunakan parfum, memotong kuku dll.
5) Sesuatu yang harus dikerjakan, dan tidak diketahui tujuan atau illat hokum dari perbuatan tersebut. seperti melaksanakan shalat subuh yang hanya dua rekaat, puasa wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan bukan bulan lainnya, dan seterusnya..

Dari lima pembagian itu, lantas disederhanakan lagi menjadi tiga, yaitu daruriyat, hajiyat dan tahsiniyat. Tiga pembagian tersebut merupakan landasan utama dan terpenting dalam kajian ilmu maqashid syariah.

 

Dalam kitab al-Burhân, beliau disebutkan terkait dengan daruriyat yang 5, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Menurutnya, syariat Islam terdiri dari perintah, larangan dan sesuatu yang dibolehkan. Perintah-perintah dalam syariat umumnya terkait dengan urusan ibadah. Terkait larangan, umumnya dibarengi dengan hukuman, seperti larangan membunuh. Bagi yang melanggar dan membunuh seseorang, ia akan dikenai hukuman qishash. Larangan mencuri. Pelaku pencuri akan dikenai hukuman potong tangan. Larangan berzina, pelaku zina akan dikenai hukuman cambuk atau rajam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open