Wednesday, February 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Tiga Pilar Pemikiran Muhammadiyah; Sekadar Masukan

dfashgh

Apa aliran kalam Muhammadiyah? Ahli Sunnah, Muktazilah, syiah, Khawarij atau apa? Jawaban sharih terkait aliran kalam Muhammadiyah ini tidak tertera, baik di AD ART Muhammadiyah, HPT, MKCH maupun Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Mari kita perhatikan teks yang tertera di AD ART Muhammadiyah:

Pasal 4

Identitas dan Asas

(1) Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Di sini masih sangat gelobal. Semua kelompok Islam, termasuk syiah, khawarij, murjiah, Muktazilah dan lainnya, selalu mengatakan sebagai gerakan amar makruf nahi munkar dan kembali ke Quran Sunnah. Jadi, pernyataan di atas masih sangat multi tafsir bergantung kepada siapa yang akan mengajarkan.

Kita lihat diMKCH:
a. ‘Aqidah Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.
Ini lebih tegas. Hanya saja masih sangat global dan belum masuk pada bahasan akidah secara terperinci. Coba bandingkan dengan materi akidah di berbagai kelompok Islam, termasuk ahli sunnah dengan 3 alirannya, maturidiyah, asyariyah dan hambaliyah, pandangan di atas baru masuk item yang sangat kecil.

Bahasan yang agak luas terdapat di HPT Muhammadiyah. Saya akan kutipkan meski agak panjang. Pernyataan yang ada dalam kurung adalah komentar dari saya, agar bahasan tidak berulang. Perhatikan kutipan di HPT sebagai berikut ini:

بِسْمِ االله الرَّحْمَنِ الرَّحيْمِ لاَاِله الاّ االله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِهِ الحَوْلُ وَالقُوَّةُ. الحَمْدُاللهِ المُبْدِئِ لِلعَوَالِمِ وَالمُعِيْدِ الاَرْوَحَ اِلَى الأَجْسَامِ يَوْمَ القِيَامَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَاَفْضَلِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أَلِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَقَدْ وَرَدَ فِىالْحَدِيْثِ عَنْ عُمَرَ رَضِىَ االله عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ االله (صلعم) ذَاتَ يَومٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لاَيُرَى عَلَيهِ اَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا اَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ اِلَى النَّبِىِّ (صلعم) فَاَسْنَدَ رُآْبَتَيْهِ اِلَى رُآْبَتَيْهِ وَوَضَعَ آَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ. قَالَ رَسُوْلُ االله (صلعم): الإِسْلاَمُ اَنْ تَشْهَدَ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ االله وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ االله وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّآَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ اِنِ اسْتَطَعْتَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ: فَاَخْبِرْنِى عَنِ الإِيْمَانِ. قَالَ: اَنْ تُؤْمِنَ بِا اللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَآُتُبِهِ وَرَسُلِهِ وَالْيَومَ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. (الحديث رواه مسلم).

PENDAHULUAN “Bismillahirrohmanirrohim”

( Dengan nama Allah, Maha Penyayang, Maha Pengasih) Tiada tuhan selain Allah sendiri, tiada bersekutu dan dengan-Nyalah adanya daya-kekuatan. Segala puji untuk Allah yang menciptakan semua ‘alam dan yang mengembalikan ruh kepada jasadnya di hari Kiamat. Rahmat dan Salam semoga terlimpah pada junjungan Nabi Muhammad s.a.w. penutup para Nabi dan seutama-utamanya Utusan, serta pada sekalian keluarganya. Tersebut dalam hadist, dari shahabat ‘Umar r.a: “ Saat kami duduk pada suatu hari bersama-sama Rasulullah s.a.w. datanglah seorang laki-laki, putih bersih pakaiannya hitam bersih rambutnya, tak terkesan padanya tanda orang yang sedang bepergian dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya; kemudian ia bersimpuh dihadapan Nabi dengan merapatkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya pada paha Nabi. Lalu 2 ia berkata: ”Hai Muhammad, terangkanlah padaku tentang Islam!”. Nabi menjawab: ”Islam ialah engkau mempersaksikan: tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan pergi Haji bila kamu mampu melakukannya”. Kata orang itu: ”Benar engkau”. Maka kami terheran, kenapa ia bertanya lalu ia membenarkan. Orang itu bertanya lagi: terangkanlah padaku tentang Iman!” Nabi menjawab: “Iman ialah bahwa engkau percaya akan Allah, malaikatnya, kitabkitab-nya, Rasul-rasulnya, hari kemudian dan percaya akan takdir baik dan takdir buruk”. Orang itu berkata :” Benar engkau!”.(Hadist riwayat Muslim).

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى

الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.
========
(Pendapat yang menyatakan bahwa
الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ
Adalah pendapat semua ulama kalam tanpa terkecuali
وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا
Terkait nazhar sebagai sebuah kewajiban adalah pendapat umum di kalangan ulama kalam seperti sunnah, muktazhilah, syiah dan lainnya. Hanya di detail-detail personal ulama dalam setiap aliran, dalam satu madzhab saja terkadang berbeda. Madzhab Ahli Sunnah dari kalangan A\asyari memilih bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukalam adalah nazhar ini. Bisa dilihat kitab al ibkar fi ushuliddin karya imam amidi. Teksnya sebagai berikut:

Mengenai kewajiban ini, terjadi perbedaan di kalangan ulama. Sebagian mazhab Asyariyah mengatakan bahwa kewajiban pertama adalah makrifat Allah, karen ia merupakan asal dari pengetahuan agama dan juga merupakan bagian dari kewajiban syariat (beban hukum syariat). Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa nazar untuk makrifat Allah adalah kewajiban pertama. Bahkan mereka mengklaim sudah menjadi kesepakatan ulama, karena dengan nazar, pengetahuan akan didapat. Jadi nazar harus lebih dulu dibanding makrifat.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah bagian awal dari nazar. Karena nazar merupakan permulaan sebelum orang mendapatkan pengetahuan tentang Allah (nazar), dan pengetahuan tadi hanya didapat dari nazar. Permulaan nazar, merupakan langkah awal untuk nazar secara lebih sempurna.
Sebagian lagi berpendapat bahwa yang wajib adalah niat untuk melakukan nazar, karena niat lebih dulu muncul sebelum orang melakukan sesuatu. Ini juga pendapat imam Haramain.
Menurut Abu Hasyim dari kalangan Muktazilah bahwa yang pertama kali wajib adalah sikap ragu-ragu terhadap eksistensi Tuhan, karena ragu-ragu lebih dulu muncul sebelum orang punya niat untuk nazar. Menurutnya, sikap ragu-ragu tersebut adalah baik.
Hanya pendapat Abu Hasyim mendapat tanggapan dari Imam Amidi.

Di bagian lain imam Amidi mengatakan sebagai berikut:
Tentang kewajiban pertama bagi mukallaf, imam Amidi mengatakan: Jika yang dimaksudkan keterangan mengenai kewajiban pertama itu sendiri, maka maksudnya adalah makrifah. Jika yang dimaksudkan keterangan mengenai kewajiban pertama, adalah hal lain yang terkait dengan makrifah, maka ia adalah keinginan untuk melakukan nazar atau sikap selalu ragu mengenai Tuhan. Dengan demikian, jika kewajiban pertama adalah nazar, atau sarana menuju nazar, kemudian dalam hidupnya dia mempunyai waktu untuk melakukan nazar atau untuk dapat mengetahui mengeai eksistensi Allah namun tidak ia lakukan, maka ia kafir.

Kemudian pernyataan berikut ini

وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا
Jadi Muhammadiyah sependapat dengan kalangan Asyariyah bahwa nazhar untuk makrifat Allah hukumnya wajib. Lantas dari manakah kita mengetahui nazhar itu wajib? Dari syara atau akal? Di sini Muhammadiyah memilih dengan syara’. Artinya Muhammadiyah sependapat juga dengan pandangan ulama ahli sunnah. Beda dengan syiah atau muktazilah yang berpendapat bahwa nazhar itu wajib aqlan dan bukan syar’an.

Hal-hal seperti ini umum dibahas di kalangan ahli sunnah dari madzhab Asyari dan Maturidi. Namun sangat jarang dibahas di madzhab Hambali. Bahkan kajian terkait detail-detail kalam seperti ini cenderung dicela dan dijauhkan. Muhammadiyah memilih pada pendapat Asyari dan Maturidi.

========

الإِيْمَانُ بِا اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِا اللهِ رَبِّنَا (4 (وَهُوَ الْإِلَهُ الْحَقُّ الَّذِى خَلَقَ آُلَّ شّيْئٍ وَهُوَ الواَجِبُ الوُجُوْدِ (5 (وَ اْلأَوَّلُ بِلاَ بِدَايَةٍ وَاْلآخِرُ بِلاَ نِهَايَةٍ (6 (ولاَ يُشْبِهُهُ شَيئٌ مِنَ الكَائِنَاتِ (7 (الاَحَدُ فِىأُلُوْهِيَّتِهِ وَصِفاَتِهِ وَ اَفْعَالِهِ (8 ( اَلْحَىُّ القَيُّوْمُ (9(السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ (10 (وَهُوَ عَلَى آُلَِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (11 ( إِنَّمَا اَمْرُهُ اِذَا اَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ آُنْ فَيَكُوْنُ (12 (وَهُوَ عَلِيْمٌ بِمَا يَفْعَلُوْنَ 3 (13 (اَلْمُتَّصِفُ بِالْكَلاَمِ وَآُلِّ آَمَالٍ. المُنَزَّهُ عَنْ آُلِّ نَقْصٍ وَمُحَالٍ (14 ( يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ. بَِيَدِهِ اْلأَمْرُ آُلُّهُ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ (15.

( 4 IMAN KEPADA ALLAH YANG MAHA MULIA Wajib kita percaya akan Allah Tuhan kita (4). Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang pasti adanya (5). Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan (6). Tiada sesuatu yang menyamai-Nya (7). Yang Esa tentang ketuhanan-Nya (8). Yang hidup dan pasti ada dan mengadakan segala yang ada (9). Yang mendengar dan yang melihat (10). Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu (11). Perihal-Nya apabila ia menghendaki sesuatu Ia firmankan: “Jadilah”! maka jadilah sesuatu itu (12). Dan dia mengetahui segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari sifat mustahil dan segala kekurangan (14). Dialah yang menjadikan sesuatu menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada ditangan-Nya dan kepada-Nya akan kembali (15).

====
Pernyataan berikut:
الإِيْمَانُ بِا اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِا اللهِ رَبِّنَا (4 (وَهُوَ الْإِلَهُ الْحَقُّ الَّذِى خَلَقَ آُلَّ شّيْئٍ وَهُوَ الواَجِبُ الوُجُوْدِ (5 (وَ اْلأَوَّلُ بِلاَ بِدَايَةٍ وَاْلآخِرُ بِلاَ نِهَايَةٍ (6 (ولاَ يُشْبِهُهُ شَيئٌ مِنَ الكَائِنَاتِ
Ini pendapat umum di kalangan ahli kalam dari semua aliran, kecuali mujassimah. Ia sifatnya sangat global. Terkait detail-detail persoalan di atas terjadi perbedaan pendapat di kalangan kelompok kalam. Bagaimana dengan Muhammadiyah? Di sini tidak ada keterangan rinci. Maka kita bisa memahami sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

(الاَحَدُ فِىأُلُوْهِيَّتِهِ وَصِفاَتِهِ وَ اَفْعَالِهِ (8 ( اَلْحَىُّ القَيُّوْمُ (9(السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ (10 (وَهُوَ عَلَى آُلَِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (

Ini sangat global. Rinciannya terjadi perdebatan panjang antara ahli sunnah dengan kelompok lainnya terutama muktazilah dan syiah.
(13 (اَلْمُتَّصِفُ بِالْكَلاَمِ وَآُلِّ آَمَالٍ. المُنَزَّهُ عَنْ آُلِّ نَقْصٍ وَمُحَالٍ (
Ini juga sangat umum. Seluruh kelompok kalam mengakui pendapat tersebut. Lagi-lagi, terkait detaildetail kalam terjadi silang pendapat yang luar biasa. Dari sini pula muncul fitnah muktazilah di masa al makmun itu.
14 ( يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ. بَِيَدِهِ اْلأَمْرُ آُلُّهُ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ (15.
Ini juga pendapat umum di kalangan ulama kalam serta menjadi titik penting perbedaan ulama kalam dengan para filsuf.
=======

تَنْبِيْهٌ مَا آَلَّفَنَا االلهُ بِالْبَحْثِ فِى اْلاِعْتِقَادِ بِمَا لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ عُقُوْلُنَا (16 (لأَنَّ عَقْلَ الاِنْسَانِ لاَيَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ اِلَى مَعْرِفَةِ ذَاتِ االلهِ وَآَيْفِيَّةِ اِتِّصَافِهِ بِصِفَاتٍ فَلاَ تَبْحَثْ عَنْهُ (17 (وَلَيْسَ فِى وُجُوْدِهِ تَعَالَى شَكٌّ. أَفِى االلهِ شّكٌّ فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَالاَرْضِ ؟ (اِبْرَاهِيم:10(

PERHATIAN Allah tidak menyuruh kita membicarakan hal-hal yang tidak tercapai oleh akal dalam hal kepercayaan (16). Sebab akal manusia tidak mungkin mencapai pengertian tentang Dzat Allah dan hubungannya dengan sifat-sifat yang ada pada-Nya. Maka janganlah engkau membicarakan hal itu (17). Tak ada kesangsian tentang adanya. ”Adakah orang ragu tentang Allah yang menciptakan langit dan bumi”? (Surat Ibrahim:10).

وَقَدْ سَدَّ القُرْآنُ عَلَى الْعُقُولِ بَابَ الْخَوضِ فِيْمَا لاَ تَبْلُغُهُ

الْمَدَارِكُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: لَيْسَ آَمِثْلِهِ شَيْئٌ. وَنَصَّ عَلَى اَنَّ قُوَّةَ الْعَقْلِ مَحْدُودَةٌ وَاَنَّهُ مُحِيْطٌ بِالنَّاسِ فِى قَوْلِهِ: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِهِ عِلْمًا. 5 وَآَفَى بِالْمُؤمِنِيْنَ شُغْلاً أَنْ يَتَدَبَّرُوْا فِى مَخْلُوْقَاتِهِ لِيَسْتَدِلُّوْا عَلَى وُجُودِهِ وَقُدْرَتِهِ وَحِكْمَتِهِ (18.

( Memang Al-Qur’an telah menutup pintu pemikiran dalam membicarakan hal yang tak mungkin tercapai oleh akal dengan firman-Nya yang berbunyi: ”Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya”. (QS.Syura: 11). Diapun telah menjelaskan bahwa kekuatan akal itu terbatas dan bahwa Dia meliputi semua manusia, dalam firman-Nya: “Dia tahu segala yang ada dimuka dan dibelakang mereka sedang pengetahuan mereka tak mungkin mendalami-Nya.” (Surat Thaha ayat 110). Bagi orang mukmin cukuplah bila mereka memikirkan segala makhlukNya, guna membuktikan ada-Nya, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya.(

===
Ini adalah pendapat ulama kalam ahli sunnah secara umum termasuk Asyari mutaqaddimin. Hanya saja, yang sangat ketat dengan pendapat ini dari kalangan Hambali. Di sinilah mereka melakukan tafwidh. Asyari mutaakhirin untuk kalangan awam melakukan tafwid, namun tatkala berhadapan dengan para filsuf, sering melakukan takwil. Bisa dibandingkan antara kitab akidatul awam, jauharu attauhid dengan al ibkar, syarhul maqashid dan syarhul mawaqif. Meski sama-sama asyari, namun cita rasanya berbeda karena menghadapi audien yang berbeda.
====

َانُ بِالمَلَائَِكَةِ يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُؤْمِنَ بِأَنَّ االلهَ تَعَالَى مَلاَئِكَةً اُوْلِى أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ (19 (وَأَنَّهُمْ عِبَادٌ مُكْرَمُوْنَ لاَ يَعْصُوْنَ االلهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ (20 (وَلاَ يَأْآُلُوْنَ وَلاَ يَشْرَبُوْنَ (21 (وَلاَ يَتَزَوَّجُوْنَ وَلاَ يَنَامُوْنَ (22 (يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتَرُوْنَ (23 (وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنهُم مَقَامٌ مَعْلُوْمٌ (24 (فَمِنهُمْ حَمَلَةُ الْعَرْشِ (25 (وَمِنهُمْ سَفَرَةٌ (26 (آَجِبْرِيْلَ (27 (وَمِيْكَائِيْلَ (28 (وَمِنهُمْ حَفَظَةٌ وَمِنهُمْ آَتَبَةٌ (29 (وَلاَ يَجُوْزُ لَنَا أَنْ نَصِفَ مَلاَئِكَةَ إِلاَّ بِمَا وَرَدَ عَنِ الشَّرْعِ (31.

( IMAN KEPADA MALAIKAT Kita wajib percaya, Allah itu mempunyai malaikat yang bersayap, ada yang dua, ada yang tiga dan ada yang empat (19). Dan mereka adalah hamba Allah yang dimuliakan yang tidak pernah menentang perintah-Nya dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan (20). Mereka tidak makan dan tidak minum (21). Tidak menikah dan tidak tidur (22). Dan sepanjang masa tidak putus-putusnya mereka mensucikan Tuhan (23). Dan masing-masing dari mereka mempunyai kedudukan atau tugas tertentu (24). Ada yang memikul Arsy tuhan (25) ada yang menjadi utusan (26), seperti Jibril (27), dan Mikail (28) dan ada yang mengamati serta mencatat (amal manusia) (29). Kita tidak boleh menggambarkan tentang malaikat kecuali dengan apa yang diterangkan oleh syara’ (30).

تَنْبِيْهٌ لَمْ يُطَالِبْنَا االله بِأَنْ نَعْلَمَ مَاهِيَّةَ مَلاَئِكَةِ بَلْ اَمَرَنَا االله بِالإِيْمَانِ بِوُجُوْدِهِمْ وَقَدْ رَآهُمُ الأَنْبِيَاءُ فِى صُوْرَةٍ بَشَرِيَّةٍ وَغَيرِهَا (31 (وَقَدْ تَوَاتَرَ خَبَرُ ذَالِكِ وَلاَ يُمْكِنُنَا أَنْ نَصِفَ مَلاَئِكَةَ اِلاَّ بِمَا وَرَدَ عَنِ المَعْصُومِ صَلّى االله عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِنَقْلٍ صَحِيحٍ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ (مُدَثِّر: 31(

PERHATIAN Oleh Allah kita dituntut untuk mengetahui hakekat Malaikat, kita hanya diperintahkan agar percaya akan adanya, adapun para Nabi, mereka pernah melihatnya dalam rupa manusia ataupun lain-lainnya (31). Tentang hal ini 7 beritanya telah mutawattir (menyakinkan). Namun kita tidak boleh menggambarkan tentang Malaikat, kecuali dengan dasar keterangan dari Nabi s.a.w. yang sampai kepada kita dengan pemberitaan yang menyakinkan.” Dan tiada seorangpun yang mengetahui hakekat tentara (Malaikat) Tuhannmu selain Dia.” (Surat Mudatstsir:31)

الإِيمَانُ بِالكُتُبِ يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِأَنَّ االلهَ عَزَّ وَجَلَّ اَنْزَلَ آُتُبًا عَلَى رَسُوْلِهِ لِإِصْلاَحِ الْبَشَرِ فِى دِيْنِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ (32 (مِنْهَا الزَّبُوْرُ لِدَاوُدَ (33 (وَالتَّورَاةُ لِمُوسَى (34 (وَالإِنْجِيلُ لِعِيسَى (35 (وَالقُرْانُ لِمُحَمَّدٍ (36 (خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاّمُ (37 (وَأَنَّ الْقُرْآنَ آَلاَمُ االلهِ وَآخِرُ الْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ وَاَنَّهُ يَشْتَمِلُ عَلَى مَالَمْ يَشْتَمِلْ عَلَيهِ غَيْرُهُ مِنَ الشَّرَائِعِ وَمَكَارِمِ الأَخْلاَقِ وَفَضَائِلِ الأَحْكَامِ (38.(

IMAN KEPADA KITAB Kita wajib percaya bahwa Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada Rasul-rasulNya untuk memperbaiki manusia tentang urusan dunia dan agama mereka (32). Di antara kitab-kitab itu, ialah Zabur kepada Nabi Dawud (33), Taurat kepada Nabi Musa (34), Injil kepada Nabi ‘Isa (35) dan qur’an pada Nabi Muhammad (36) yang menjadi penutup sekalian Nabi ‘alaihimus shalatu was salam (37). Dan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah dan kitab terakhir yang diturunkan, yang memuat apa yang tidak termuat pada lainnya, mengenai syaria’t, budi luhur dan kesempurnan hukum (38).

8 تَنْبِيْهٌ يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِىُّ صَلَّى االله عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الْقُرْآنُ وَمَا تَوَاتَرَ الْخَبَرُ عَنهُ تَوَاتُرًا صَحِيحًا مُسْتَوْفِيًا لِشُرُوْطِهِ وَإِنَّمَا يَجِبُ الإِعْتِقَادُ عَلَى مَا هُوَ صَرِيْحٌ فِى ذَالِكَ فَقَطْ وَلاَ تَجُوْزُ الزِّيَادَةُ عَلَى مَاهُوَ قَطْعِىٌّ بِظَنِّىٍّ لِقَوْلِهِ تَعَالَ: إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا (يُونُس: 36 .( وَشَرْطُ صِحَّةِ الإِعْتِقَادِ فِى ذَالِكَ أَنْ لاَ يَكُونُ فِيهِ شَيئٌ يَمَسُّ التَّنْـزِيْهَ وَعُلُوَّ الْمَقَامِ الْاِلهِىِّ عَنْ مُشَابَحَةِ الْمَخْلُوْقِينَ فَاِنْ وَرَدَ مَا يُوْهِمُ ظَاهِرُهُ ذَالِكَ فِى الْمُتَوَاتِرِ وَجَبَ الإِعْرَاضُ عَنْهُ بِالتَّسْلِيْمِ لِلّهِ فِى العِلْمِ بِمَعْنَاهُ مَعَ الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ الظَّاهِرَ غَيْرُ المُرَادِ أَوْ بِتَأْوِيلٍ تَقُومُ عَلَيهِ القَرَائِنُ الْمَقْبُوْلَةُ.

===
وَلاَ تَجُوْزُ الزِّيَادَةُ عَلَى مَاهُوَ قَطْعِىٌّ بِظَنِّىٍّ

Ini adalah pendapat ulama kalam secara umum dan banyak ditolak oleh ahlul hadis. Karena banyak sekali hadis ahad yg shahih dan menerangkan mengenai perkara akidah. Jika konsisten dengan pendapat ini maka akan banyak sekali hadis ahad yang harus disingkirkan.
====

PERHATIAN Kita wajib percaya akan hal yang di bawa oleh Nabi s.a.w. yakni AlQur’an dan berita dari Nabi s.a.w yang mutawattir dan memenuhi syaratsyaratnya. Dan yang wajib kita percayai hanyalah yang tegas-tegas saja, dengan tidak boleh menambah – nambah keterangan yang sudah tegas – tegas itu dengan keterangan berdasarkan pertimbangan (perkiraan), karena firman Allah: “Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (Surat Yunus:36). Adapun syarat yang benar tentang kepercayaan, dalam hal ini ialah jangan ada sesuatu yang mengurangi keangungan dan keluhuran Tuhan, dengan mempersamakan-Nya dengan makhluk. Sehingga andaikata terdapat kalimat-kalimat yang kesan pertama mengarah kepada arti yang demikian, meskipun berdasarkan berita yang mutawattir (menyakinkan), maka wajiblah orang mengabaikan makna yang tersurat dan menyerahkan tafsir arti yang sebenarnya kepad Allah dengan kepercayaan bahwa yang terkesan pertama pada pikiran bukanlah yang dimaksudkan, atau dengan takwil yang berdasarkan alasan-alasan yang dapat diterima.

9 الإِيمَانُ بِالرُّسُلِ يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنُ بِاَنَّ االله الحَكِيْمَ اَرْسَلَ رُسُلاً لِهِدَايَةِ النَّاسِ إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى االلهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ (39 (وَ الرُّسُلُ هُمْ بَشَرٌ مِثْلُنَا يَأْآُلُونَ وَيَشْرَبُونَ وَيَمْشُونَ فِى الأَسْوَاقِ (40 (اِصْطَفَاهُمْ االله لِرِسَالَتِهِ وَاخْتَصَّهُمْ بِالْوَحْىِ وَهُمْ صَادِقُونَ (41 (أُمَنَاءُ (42 (مُبَلِّغُونَ الرِّسَالَةَ (43 (فُطَنَاءُ يَفْهَمُونَ وَ يُفْهِمُونَ (44 ( وَاَنَّهُمْ بَشَرٌ يَعْتَرِيْهِمْ مَايَعْتَرِى سَائِرُ الاَفْرَادِ مِمَّا لاَ يَمَسُّ آَرَامَتَهُمْ فِى مَرَاتِبِهِمُ العاَلِيَةِ (45 .(وَمِنَ الرُّسُلِ الَّذِيْنَ وَرَدَتْ اَسْمَاءُ هُمْ فِى القُرْآنِ هُمْ اَدَمُ, إِدْرِيْسُ, نُوْحٌ, هُوْدٌ, صَالِحٌ, إِبْرَاهِيمُ, اِسْمَاعِيْلُ, اِسْحَاقُ, يَعْقُوبُ, يُوسُفُ, لُوطٌ, اَيُّوبُ, شُعَيْبٌ, مُوسَى, هَارُونُ, ذُوالكِفْلِ, دَاوُدَ, سُلَيمَانُ, اِلْيَاسُ. اَلْيَسَعُ, يُونُسُ, زَآَرِيَّا, يَحْيَى, عِيسَى, مُحَمَّدٌ عَلَيهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ (46 (وَمِنهُمْ مَنْ لَمْ يَقْصُصْهُمُ االله عَلَيْنَا(47 (وَاِنَّ مِنْ اُمَّةٍ اِلاَّ خَلاَفِيْهَا نَذِيْرٌ. (48 (وَقَدْ اَيَّدَهُمُ االله بِالآيَاتِ وَالمُعْجِزَاتِ البَاهِرَةِ (49.(

IMAN KEPADA RASUL Kita wajib percaya bahwa Allah Yang Maha Bijaksana telah mengutus para rasul untuk memberi petunjuk ummat manusia akan jalan yang lurus. Mereka adalah pembawa berita gembira dan peringatan, agar bagi manusia tiada alasan untuk membantah Allah setelah diutusnya para Rasul (39). Para rasul itu adalah manusia seperti kita: makan, minum dan pergi ke pasar (40). Yang telah dipilih oleh Allah, menjadi utusan-Nya dan mengistimewakan mereka dengan diberi wahyu. Mereka adalah orang-orang yang jujur (41), terpercaya (42) menyampaikan tugas mereka (43) dan cerdas, dapat memhami dan memahamkan (44). Mereka adalah manusia yang mengalami yang biasa dialami oleh orang lain selagi tidak mengurangi kehormatan mereka dalam martabat mereka yang luhur (45). Diantara para Rasul yang tersebut nama mereka dalam qur’an adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Luth, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa. Yunus, Zakariya, Yahya, Isa dan Muhammad ‘alaihimus-shalatu wassalam (46). Dan ada Rasul-rasul-Nya yang tidak diberitakan Allah kepada kita (47). Tiada ummat yang terdahulu melainkan pernah kedatangan Nabi (48). Dan Allah 10 telah mengokohkan mereka dengan beberapa pembuktian dan segala macam mu’jizat yang nyata (49).

تَنْبِيْهٌ لَقَدْ ثَبَتَ بِاَنَّ مِمَّا تَتَنَا وَلُهُ القُدْرَةُ الاِلهِيَّةُ أَنْ تُصْدِرَ أُمُوْرًا خَارِقَةً لِلعَادَةِ حَصَلَتْ لِاَنْبِيَاءِاالله, تَأْيِيْدًا لِرِسَالَتِهِمْ وَاِعْجَازًا لِمُعَارِضِيْهِمْ وَاَيَةً عَلَى مُنْكِرِيْهِمْ مِثْلَ مَاوَرَدَ فِى القُرْآنِ مِنْ عَدَمِ اِحْرَاقِ النَّارِ لِاِبْرَاهِيْمَ (50 ( وَانْقِلاَبِ العَصَا ثُعْبَانًالِمُوسَى (51 (وَاِحْيَاءِ المَوْتَى لِعِيْسَى(52 (واِنْزَالِ القُرْاَنِ لِمُحَمَّدٍ (53 (وَغَيرِ ذَالِكَ مِمَّا وَرَدَ فِى مَوَاضِعَ مُتَعَدِّدَةٍ وَآُلُّ مَاوَرَدَ مِنْ ذَالِكَ فَهُوَ حَقٌّ يَجِبُ الإِيْمَانُ بِهِ.

PERHATIAN Adalah suatu kebenaran, bahwa kekuasaan Allah dapat mengadakan halhal yang menyimpang dari hukum kebiasaan yang pernah berlaku bagi para Nabi untuk menguatkan penugasan dan menundukkan lawan-lawan mereka dan tanda kebenaran mereka terhadap mereka yang mengingkari, misalnya apa yang tersebut dalam Qur’an : api yang tak membakar Nabi Ibrahim (50), tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular (51), Nabi Isa yang dapat menghidupkan kembali orang mati (52), dan diturunkannya al-Qur’an bagi Nabi Muhammad (53) ,dan lain sebagainya yang tersebut dalam beberapa ayat, dan semua itu adalah hal yang wajib diimani.

11 الإِيْمَانُ بِا لْيَومِالآخِرِ يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِا لْيَوم ِالآخِرِ وَمَا اشْتَمَلَ عَلَيهِ مِنْ خَرَابِ هَذِهِ العَوَالِمِ وَمَا اَخْبَرَ بِهِ رَسُوْلُ االله صَلَّى االله عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَتَوَاتَرَ مِنَ البَعْثِ (54 (وَالنَّشْرِ (55 (وَالحِسَابِ (56 (وَالجَزَاءِ (67 (فَيَقْضِى االله بَيْنَهُمْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ خَالِدًا فِيْهَا وَلاَ يَخْرُجُ مِنْهَا وَهُمُ الكَافِرُوْنَ وَالْمُشْرِآُوْنَ (58 (وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ فِيْهَا ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا وَهُمُ الْمُؤْمِنُونَ العَاصُوْنَ (59 (وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَيَخْلَدُ وَهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ الصَّادِقُونَ (60)

IMAN PADA HARI KEMUDIAN Kita wajib percaya tentang adanya hari akhir dan segala yang terjadi di dalamnya tentang kerusakan ‘alam ini’, serta percaya akan hal-hal yang diberitakan oleh Rasulullah dengan riwayat mutawattir tentang kebangkitan dari kubur (54), pengumpulan di Makhsyar (55), pemeriksaan (56) dan pembalasan (57). Maka Allah memberi keputusan tentang perbuatan orang, lalu ada yang masuk neraka selama-lamanya tidak keluar dari padanya, yaitu orang-orang kafir dan orang-orang musyrik (58), dan ada yang masuk kemudian keluar dari neraka, yaitu orang-orang mukmin yang berbuat dosa (59) dan ada yang masuk sorga dan kekal, yaitu orang-orang mukmin yang benar-benarnya (60).

===
Beberapa paragraph di atas merupakan pendapat umum di kalangan ulama kalam.
===

12 الاِيمَانُ بِالقَضَاءِ وَالقَدَرِ يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُؤْمِنَ بِأَنَّ االلهَ خَلَقَ آُلَّ شَيئٍ (6 (وَأَمَرَ وَنَهَى (62 (وَآَانَ أَمْرُااللهِ قَدَرًا مَقْدُوْرًا (63 (وَأَنَّ االلهَ قَدَّرَ آُلَّ شَيئٍ قَبْلَ خَلْقِ الْخَلْقِ يُصَرِّفُ الكَائِنَاتِ عَلَى مُقْتَضَى عِلْمِهِ وَاخْتِيَارِهِ وَحِكْمَتِهِ وَإِرَادَتِهِ (64 (وَالاَفْعَالُ الصَّادِرَةُ عَنِ الْعِبَادِ آُلُّهَا بِقَضَاءِ االلهِ وَقَضَرِهِ (65 (وَلَيْسَ لِلعِبَادِ اِلاَّ الإِخْتِيَارِ. فَالتَّقْدِيْرُ مِنَ االلهِ وَالكَسْبُ مِنَ الْعِبَادِ فَحَرَآَةُ الْعَبْدِ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا إِلَى قُدْرَتِهِ تُسَمَّى آَسْبًا لَهُ (66 (وَ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا قُدْرَةِ االلهِ خَلْقًا (67 (وَالْعِبَادُ يَتَصَرَّفُ نَصِيْبَهُ مِمَّا اَنْعَمَ االلهُ بِهِ عَلَيْهِ مِنَ الرِّزْقِ وَغَيْرِهِ (68.(

IMAN KEPADA QADLA DAN QADAR Kita wajib percaya bahwa Allahlah yang telah menciptakan segala sesuatu (61) dan dia telah menyuruh dan melarang (62). Dan perintah Allah adalah kepastian yang telah ditentukan (63). Dan bahwasanya Allah telah menentukan segala sesuatu sebelum Dia menciptakan segala kejadian dan mengatur segala yang ada dengan pengetahuan, ketentuan, kebijaksanaan dan kehendak-Nya (64). Adapun segala yang dilakukan manusia itu semuanya atas Qadla’dan Qadar-Nya (65), sedangkan manusia sendiri hanya dapat berikhtiar. Dengan demikian, maka segala ketentuan adalah dari Allah dan usaha adalah bagian manusia. Perbuatan manusia ditilik dari segi kuasanya dinamakan hasil usaha sendiri (66). Tetapi ditilik dari segi kekuasaan Allah, perbuatan manusia itu adalah ciptaan Allah (67). Manusia hanya dapat mengolah bagian yang Allah karuniakan padanya berupa rizki dan lain-lain (68).

====
(وَلَيْسَ لِلعِبَادِ اِلاَّ الإِخْتِيَارِ. فَالتَّقْدِيْرُ مِنَ االلهِ وَالكَسْبُ مِنَ الْعِبَادِ فَحَرَآَةُ الْعَبْدِ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا إِلَى قُدْرَتِهِ تُسَمَّى آَسْبًا لَهُ (66 (وَ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا قُدْرَةِ االلهِ خَلْقًا (67 (وَالْعِبَادُ يَتَصَرَّفُ نَصِيْبَهُ مِمَّا اَنْعَمَ االلهُ بِهِ عَلَيْهِ مِنَ الرِّزْقِ وَغَيْرِهِ (68.(
Ini adalah pendapat yang sangat sharih dari kalangan Asyariyah
===

خَاتِمَةٌ هَذِهِ هِىَ أُصُوْلُ الْعَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ وَرَدَبِهَا القُرْآنُ وَالسُّنَّةُ وَشَهِدَتْ بِهَا الاَثَارُ المُتَوَاتِرَةُ. فَمَنِ اعْتَقَدَ جَمِيْعَ ذَالِكَ مُوْقِنًا بِهِ آَانَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَالسُّنَّةِ وَفَارَقَ أَهْلَ الْبِدْعَةِ وَالضَّلاَلِ. فَنَسْأَلُ االلهَ آَمَالَ الْيَقِيْنِ وَالثَّبَاتَ فِى الدِّيْنِ لَنَا وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ, اِنَّهُ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى االلهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

13 PENUTUP Inilah pokok-pokok ‘aqidah yang benar terdapat dalam quran dan hadits yang dikuatkan oleh pemberitaan-pemberitaan yang mutawattir. Maka barang siapa percaya akan semua itu dengan kenyakinan yang teguh, masuklah ia kepada golongan mereka yang memegang kebenaran dan tuntunan Nabi serta lepas dari golongan ahli bid’ah dan kesesatan. Selanjutnya kita mohon kepada Allah kenyakinan yang kuat dan keteguhan menjalankan agama-Nya. Kita berdo’a untuk kita seluruh ummat Islam. Sesungguhnya Tuhanlah Yang Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan kemurahan kepada junjungan Nabi Muhammmad s.a.w. penutup para Nabi dan Rasul serta kepada keluarga dan sahabatnya. 14 الاَدِلَّةُ (1

==
فَمَنِ اعْتَقَدَ جَمِيْعَ ذَالِكَ مُوْقِنًا بِهِ آَانَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَالسُّنَّةِ وَفَارَقَ أَهْلَ الْبِدْعَةِ وَالضَّلاَلِ.

Ini pernyataan yang paling mendekati sharih terkait paham Muhammadiyah. Hanya Muhamadiyah tidak menyebut sebagai berpaham ahli sunnah, namun paham ahlil haq wassunnah.

Jika kita lihat dari paparan di atas, Muhammadiyah justru nampak sekali menggunakan pendapat ulama dari kalangan ahli sunnah, terumata ulama Asyari. Hanya memang nukilan paham akidah Muhammadiyah, masih sangat sedikit dan global. Ketika bicara terkait detail-detail persoalan, masih ada ruang untuk dimasuki oleh paham apapun termasuk Syiah dan Muktazilah.

Ketidaksharihan Muhammadiyah dengan paham ahli sunnahnya, sesungguhnya mengandung sisi kelemahan, yaitu terdapat ruang kosong yang sangat mudah dimasuki oleh paham Syiah dan liberal tadi. Mereka tidak sekadar punya ambisi ideology, namun juga ada ambisi politik kekuasaan. Ruang kosong itu, idealnya ditutup rapat-rapat sehingga paham-paham sesat dan menyimpang dapat dibendung sedari awal.

Paham ahli sunnah, sejak dulu dikenal dengan sikap moderatnya. Disamping itu, ia sangat gigih dalam membela akidah Islam dari paham menyimpang. Di era kontemporer, Ahli sunnah, bisa dijadikan banteng pertahanan untuk melindungi akidah umat. Misalnya saja yang dilakukan oleh al-Azhar dengan melakukan muktamar internasional terkait madzhab Asyari. Mutamar internasional itu menghasilkan buku sebanyak 4 jilid tebal. Buku itu sangat bagus untuk literatur banteng akidah umat dalam kajian kalam Islam kontemporer.

Sementara untuk lileberalisme, Syaih Azhar Ahmad Thayib menulis buku “Aturats wa At-Tajdid, Munaqasyah wa Rudud”. Buku ini mengcounter kajian teologi Hasan Hanafi yang menggunakan pendekatan fenomenologi. Salim Abu Ashi menulis buku Asbabunnuzulnya. Beliau mencounter pendapat Nasir Hamid Abu Zaid yang menggunakan hermeneutika. Asbabunnuzul karya Abu Ashi menggunakan pendekatan ushul fikih dan kalam Asyari.

Bukan hanya dari kalangan Asyari yang dapat berinteraksi dan mencounter filsafat Barat, filsafat kalam hambali pun bisa. Lihat buku-buku karya Dr. Mustafa Hilmi, misalnya yang berjuful Assalafiyah Bainal Akidah al-Islamiyah wal Falsafah al-Gharbiyyah, Qawaid al-Manhaj Assalafi fil Fikri al-Islamiy, Manhaju Ulama’il Hadis Wassunnah fi Ushuliddin, Ma’rafatullah Azza Wa Jalla wa Thariqul Wushul Ilaihi Inda Ibni Taimiyah, Al-Islam wal Madzahib al-Falsafiyyah Nahwu Manhajin Lidirasatil Falsafah dan banyak lagi buku-buku beliau. Dr. Mustafa Hilmi, adalah dosen Darul Ulum yang sangat fanatic dengan pendapatnya Ibnu Taimiyah dan beraliran salafi (Hambali). Dengan paham pemikiran ahli sunnah model Ibnu Taimiyah tersebut, dapat dijadikan sebagai sarana untuk menghantam filsafat Barat modern.

Jadi, paham ahlu sunnah ini sudah teruji sangat kaya dan kuat. Muhammadiyah sesungguhnya tidak perlu memulai dari nol dengan membentuk paham pemikiran kalam sendiri. Kalam Muhammadiyah seperti yang terdapat dalam HPT dan MKCH sangat global sekali dan rawan untuk disusupi oleh pemikiran asing.

Oleh karenanya, saya mengusulkan agar di MKCH, untuk ditambahkan tiga poin sebagai penegasan pemikiran Muhammadiyah, yaitu:
1. Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang masih dalam naungan paham Ahli Sunnah
2. Dalam fikih, Muhammadiyah mengakui dan mengakomodir seluruh madzhab fikih Ahli Sunnah
3. Dalam berijtihad, Muhammadiyah menggunakan ijtihad tarjihi dan insya’i.

Dengan tambahan tiga poin itu, warga Muhammadiyah dapat berselancar di berbagai keilmuan Islam klasik, khususnya kalam maupun fikih. Pesantren Muhammadiyah juga makin leluasa dalam mengajarkan berbagai turas Islam. Tentu ini tidak akan mengkhawatirkan akan mengikis ideologi Muhammadiyah, karena di poin 3 jelas disebutkan bahwa dalam berijtihad menggunakan ijtihad tarjihi dan insya’i.

Turas Islam itu, dalam semua cabang keilmuan dapat dijadikan sebagai landasan kita untuk menatap ke depan. Kita tidak terputus dengan sejarah masa lalu. Kita bagian dari sejarah dan kita akan mengkaji sejarah secara kritis. Dari turas, kita berpijak, beraktivitas dan berkontribusi untuk membangun peradaban Islam kontemporer. Turas kalam klasik juga dapat dijadikan sebagai pijakan kita untuk merususkan kalam baru Muhammadiyah yang lebih sesuai dengan konteks kontemporer. Wallahu a’lam

======================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

thirteen + thirteen =

*