Saturday, August 18, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Thaharah Bagi Wanita Muslimah; Haid (I)

 haidHaid secara etimologi adalah sesuatu yang mengalir. Secara terminologi, adalah darah yang keluar dari pangkal rahim wanita, tidak disebabkan karena ia sedang melahirkan atau sakit, dan terjadi dalam batas-batas waktu tertentu. Biasanya darah haid berwarna kehitaman, panas dan ketika keluar terasa perih. Mengenai hal ini, Allah berfirman:

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى

 

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah:”Haid itu adalah suatu kotoran” (QS. al-Baqarah: 222)

 

Ummul mukminin, Sayyidah Aisyah per-nah menangis karena tiba masa haidnya pada waktu haji, sementara ia belum bertahallul. Meli-hat istrinya seperti itu, Rasulullah kemudian bersabda:

 

إن هذا أمر كتبه الله على بنات آدم (رواه مسلم)

Artinya: “Ini adalah sesuatu yang telah dituliskan Allah kepada waita anak turunan Adam.” (HR. Muslim)

 

Waktu Haid

 

Terkadang haid bagi wanita dimulai ketika ia menginjak umur 9 tahun dan berakhir sampai pada usia menopause (berhenti haid). Jika terlihat darah sebelum atau sesudah umur tersebut, biasanya darah penyakit. Dengan kata lain, itu bukan darah haid. Bisa jadi ia sedang terkena pendarahan atau penyakit lainnya.

 

Wanita yang sudah haid, dianggap telah dewasa. Dalam bahasa agama sering disebut dengan aqil balig. Dengan demikian, ia telah  terkena beban hukum syariat. Dalam istilah agama, ia sudah dapat disebut sebagai orang mukallaf.  Maka, ia sudah wajib menjalankan shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Jika ia tidak menjalankan kewajiban tersebut, ia sudah dianggap melakukan perbuatan dosa. Persoalannya kemudian, jika wanita katakanlah sudah berumur 20 tahun, namun belum juga haid, bagaimana cara mengetahui bahwa ia sudah dianggap wanita dewasa? Para ulama mengatakan bahwa ketika wanita berumur 15 tahun, maka ia sudah dapat digolongkan sebagai wanita dewasa atau balig, baik itu ia sudah haid atau belum.

 

Sampai kapan wanita akan mengalami haid (menopause)? Di sini, terjadi perbedaan  pendapat dikalangan para ulama. Perbedaan tersebut muncul karena tidak ada keterangan sharih, baik dari nash al-Qur’an maupun al-Hadis. Maka di sini para ulama melakukan ijtihad dengan melakukan berbagai penelitian dan analisa terhadap kondisi wanita.

 

Menurut madzhab Hanafi, usia menopause bagi wanita ketika ia sudah mencapai umur 55 tahun. Sementara dalam madzhab Maliki, usia menopause ketika wanita sudah mencapai umur 70 tahun. Madzhab Syafi’i sendiri menganggap, tidak ada batas pasti mengenai usia menopause. Menurut madzhab ini Syafi’i, selama wanita masih hidup, maka masih memungkinkan terjadinya haid. Hanya saja, pada umumnya, wanita sudah tidak haid lagi ketika ia berusia 62 tahun.

 

Madzhab Hanbali  berpendapat bahwa usia menopause adalah 50 tahun. Hal ini berlandaskan pada perkataan Aisyah Ra., “Jika wanita telah sampai umur 50 tahun, maka ia telah terbebas dari darah haid.” Beliau juga  pernah berkata, “Kamu sekalian tidak akan melihat seorang anak di perut(ibunya) setelah ia berumur lima puluh tahun.

 

Batasan Masa Haid

 

Banyak perbedaan pendapat mengenai batasan minimum dan maksimum masa haid. Menurut madzhab Syafi’i, batasan minimum masa haid adalah satu hari satu malam (24 jam), sedangkan menurut mazhab Hanafi, batas minimum masa haid selama 3 hari. Untuk batas maksimum menurut Imam Malik dan Syafi`i adalah 15 hari, sedangkan menurut Imam Abu Hanifah batas maksimum selama 15 hari.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open