Tuesday, November 21, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ternyata Ulama Kita Terdahulu Sangat Ilmiah 

fgd
Tatkala saya membaca kitab kuning, yang selalu menarik adalah membaca mukadimah bukunya. Mukadimah buku, dalam kitab kuning sering disebut dengan khutbatul kitab.
Umumnya Khutbatul kitab ditulis ringkas dan padat. Di dalamnya disampaikan mengenai latar belakang penulisan buku, urgensi tema, tujuan penulisan, sistematika penulisan dan metodologi yang digunakan oleh penulis.
Khutbatul kitab, di dunia akademis mirip dengan khuthah bahts atau outline penelitian. Ia memberikan gambaran global atas apa yang akan dilakukan oleh seorang riseter. Jika kita buka kitab iyha ulumuddin di bagian mukadimah, kita akan menemukan model lhutbah kitab seperti yang saya sampaikan di atas. Dalam kitab ihya juga ditiskan mengenai outline daftar isi beserta gambaran global tiap bab.
Jika kita buka isinya, ya atau kitab kuning lainnya, ketika menukil pebdapat orang lain,  selalu disebutkan nama penulis dan kitab rujukan. Ulama kita umumnya menggunakan kutipan langsung dan belum memakai footnote seperti sekarang ini. Kadang di ahir kitab diberi kesimpulan singkat. Ini menunjukkan bahwa ulama kita telah mengenal penulan karya ilmiah secara rapi dan terstruktur.
Mukadimah buku atau khutbatul kitab merupakan frame yg hendak disampaikan penulis. Di sinilah oentingnya membaca mukadimah buku. Kita paham terlebih dahulu mengenai latarbelakang dan metodologi penulisan buku.
Menurut muhammad assayid al azhari, salah seorang ulama al azhar bahwa para masyayih al azhar sanga perhatian atas khutbah buku tersebut. Menurutnya, ada syaih azhar yang hanya mengajarkan mukadimah buku. Selesai satu buku, lalu pindah ke buku lain. Mukadimah buku yang hanya beberapa lembar, bisa diterangkan hingga tujuh jam tanpa henti sampai tunuh kali pertemuan.
 Kadang, khutbatul kitab menjadi satu buku sendiri yg independen. Ia menjadi pondasi pemikiran dan landasan teoritis untuk membangun proyek pemikiran yg lebih komperhensif.
Hal ini terlihat jelas dalam kitab  arrisalah karya imam syafii. Ia adalah mukadimah dan landasan filosofis utk menulis ensiklopedi fikih al umm. Contoh lain, kitab mukadimah ibnu khaldun. Dari namanya saja, sudah menggunakan judul mukadimah. Jadi ia memang ditulis sebagai landasan teoritis untuk ensiklopedi sejarah yang lebih luas yaitu tarih ibnu khaldun.
 Kita juga bisa melihat kitab mi’yarul ilmi, al qistas al mustaqim dan mahakkunnazhar karya ghazali. Buku-buku tafi meruoakan mukadimah dari ilmu filsafat, kalam atau ushul fimih. Dari mukadimah tadi, ghazali menulis banyak buku filsafat, kalam dan ushul.
Contoh lain adalah naqdhul mantiq dan arradu alal mantiqiyyin karya ibnu taimiyah. Bumu ini merupakan counter ibnu taimiyah terhadap logika aristetolian. Jadi yg diserang pertama oleh ibnu taimiyah adalah pondasi pemikiran para ulama kalam dan filsafat. Karena jika pondasi hancur, maka seluruh bangunan pemikiran yang telah dibangun, akan hancur dengan sendirinya. Dari dua buku ini, menghasilkan bangunan filsafat empiris yg mencounter ghazali dan ibnu sina.Buku tersebut adalah taarrudi al aqli wa annaqli yg ditulis hingga 11 jilid.
Jadi, para ulama kita sebelum membangun mercusuar pemikiran yang menjulang ke angkasa, mereka letakkan dulu pondasinya sekuat mungkin. Mereka menyadari benar bahwa sebuah pemikiran harus dilandasi oleh landasan teoritis sebagai pondasi awal. Jika tidak, maka bangunan pemikiran sangat rapuh.
Belakangan muncul pemikir muslim yg menghujat turas dan menganggapnya sejarah masa lalu. Turas dianggap tdk ilmiah dan terbelakang. Tutas belum mengikuti standar penulisan karya tulis ilmiah kontemporer.
Padahal jika kita lihat, ulama kita justru lebih dulu paham terkait tata cara penulisan karya tulis  ilmiah, sebelum model ini berpindah ke dunia Barat. Ulama kita dalam setiap penulisannya dilakukan seakurat mungkin dengan argumen yang cukup kuat.
Sudah selayaknya membuka kembali turas kita. Kita pelajari lagi warisan intelektual mereka sehingga kita akan bangga dan percaya diri tatkala bersentuhan dengan turas. Kita bisa angkat topi dan tidak jadi bangsa subordinat yang hanya mengekor pada peradaban Barat, sementara kita buta dengan warisan intelektual ulama kita terdahulu. Turas harus selalu dibongkar karena di dalamnya banyak permata yg tak ternilai harganya. Wallahu alam

================

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open