Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ternyata Solusi Krisis Adalah Tafsir Hermeneutika?

sarter

Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 22.

 

Setelah menuduh tafsir pra-modern mengalami krisis, Hamim Ilyas mengusulkan apa yang disebut dengan paradigma rahmat, lalu beliau menyebutkan 7 metode dalam penafsiran. Selengkapnya, berkut ungkapan beliau:

 

Penafsiran dengan paradigma rahmat dan indikator seperti itu secara epistemologis meniscayakan penggunaan metode holistik. Metode demikian meliputi 7 metode dalam penafsiran ayat dapat diterapkan secara simultan dan dapat pula secara sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan perumusan teologi yang sistematis, praktis dan fungsional dalam rangka kebudayaan yang telah dijelaskan di depan.

Tujuh metode itu adalah sebagai berkut:

  1. Tafsir tradisional / al manhaj an-naqliy.

(sumber: hadis dan aqwal; pendekatan: otoritas)

  1. Tafsir rasional/al-manhaj al-aqliy

(sumber: akal/rasio; pendekatan: logika)

  1. Tafsir murni/al-manhaj al-lughawi

(sumber: bahasa; pendekatan: linguistik dan sastra)

  1. Tafsir ilmi/al manhaj al-ilmiy

(sumber: ilmu  pengetahuan; pendekatan: eklektik)

  1. Tafsir sufistik/al-manhaj al-isyari

(sumber: intuisi dan filsafat; pendekatan mistis)

  1. Tafsir perbandingan/al manhaj al-muqarin

(sumber: tafsir yang telah ada; pendekatan: perbandingan)

  1. Tafsir kontekstual/al manhaj as-siyaqi

(sumber: konteks (internal dan eksternal); pendekatan: kontekstual)

 

Paradigma dengan metode holistik ini diterapkan dalam teori hermeneutika untuk menemukan makna al-Quran yang relevan dengan tempat dan waktu di mana dan kapan ia diterapkan. Umat Islam sekarang hidup dalam koneks negara-bangsa dan pada zaman modern-industrial. Mereka mau tidak mau harus menggunakan teori itu untuk menemukan makna yang relevan dalam pengertian bermakna dalam menghadirkan diri secara benar sesuai dengan tantangan negara-bangsa dan zaman industry yang dihadapi. (fikih kebhinekaan: 100)

 

Jika kita menelaah kembali 7 motode yang disampaikan oleh Hami Ilyas, ternyata satu pun tidak ada yang baru. Para ulama kita terdahulu sudah menggunakan berbagai varina tafsir tersebut. Namun anehnya dia berkesimpulan, “Paradigm dengan metode holistik ini diterapkan dalam teori hermeneutika untuk menemukan makna al-Quran yang relevan dengan tempat dan waktu di mana dan kapan ia diterapkan”.

 

Bukankah ulama kita terdahulu belum mengenal hermneutika? Lantas, hermeneutika aliran siapa yang dijadikan sebagai acuan Hamim Ilyas? Benarkah hermeneutika modern mengakomodasi berbagai varian tafsir tadi? Jika 7 metode tadi tidak ada yang baru, lantas di mana posisi rekonstruksi ilmu fikih sebagaimana yang tertera dalam judul? Di mana pula krisis tafsir pra-modern sebagaimana yang dia sampaikan sebelumnya, jika pada akhirnya dia kembali menggunakan model penafsiran ulama terdahulu?

 

Kesimpulan terakhir:

  1. Penulis tidak menguasai materi. Ini dibuktikan dengan tema bahasan dan isi tulisan yang tidak nyambung.
  2. Judulnya rekonstruksi ilmu fikih, namun yang dikaji ternyata pemetaan tafsir
  3. Tidak ada konsistensi dalam mengekspresikan ide. Satu sisi menyerang tafsir klasik (baca; tafsir pra-moder), tapi terkadang mendukung. Kadang menuduh tafsir klasik tidak menginspirasi kejayaan dan terjadi krisis, namun di ahir bahasan justru membuat metode yang semuanya berasal dari tafsir klasik.
  4. Berupaya menampilan model tafsir hermeneutika, namun tidak jelas, aliran hermeneutika siapa yang dijadikan rujukan.

Demikian Wallahu a’lam

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

two × 2 =

*