Thursday, December 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Tempat Ilmu Pengetahuan

     

Seri Syarah HPT Bab Iman.
Artikel ke-36

 

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

 

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

 

Yang harus digarisbawahi adalah ungkapan berikut:

وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا

 

Di sini setidaknya ada dua pendapat, pertama ulama kalam dan kedua para filsuf. Para ulama kalam berpendapat bahwa letak ilmu pengetahuan manusia adalah al-qalb (jantung). Pendapat mereka mengambil dari banyaknya firman Allah yang sering menggunakan kata al-qalb ketika bericara kepada manusia untuk berfikir.   Dari pemahaman literal terhadap banyaknya teks inilah, maka para ulama kalam berkesimpulan bahwa tempat ilmu, memang dalam qalb secara hakikat. 

 

Di antara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

 
قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُۥ نَزَّلَهُۥ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
 
Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam jantungmu (qalb) dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 97)
 
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُۥ فِى الْحَيَوٰةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِى قَلْبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi jantungnya (qalb), padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS. Al-Baqarah: 204)
 
مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِنۢ بَعْدِ إِيمٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُۥ مُطْمَئِنٌّۢ بِالْإِيمٰنِ وَلٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya: Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal jantungnya (qalb) tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An-Nahl: 106)
 
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
 
Artinya: Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qalb (jantung) yang bersih, (QS. Asy-Syuara: 89)

فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ 

Artinya: “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Masih banyak lagi ayat-ahat al-Quran yang menggunakan kata qalb yang bearti jantung untuk menunjukkan tentang ilmu dan pemikiran. Banyaknya ayat tadi, bukanlah sekadar makna kiyasan, namun ia mempunyai makna sesungguhnya. Ia bukan sekadar simbul, namun hakekat. Artinya, hati manusia yang selama ini menjadi tujuan daripada firman Allah baik perintah dan larangan, merupakan hati di mana ia tempat manusia untuk melakukan proses berfikir. 

 

Pendapat ini berbeda dengan pendapat para filsuf. Menurut mereka bahwa letak ilmu pengetahuan sesungguhnya ada dalam jiwa manusia. Ia bukan terletak pada anggota badan manusia yang sifatnya fisik, karena ilmu pengetahuan sendiri sifatnya tidak fisik. Kesamaan non fisik itulah, maka yang paling layak untuk dijadikan tempat ilmu pengetahuan adalah jiwa manusia, dan bukan jantung.    Jika al-Quran menggunakan kata jantung, itu sekadar sebagai kiyasan karena jantung merupakan pusat hidup manusia. Jantung yang akan memompa darah dan menjadi sarana untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Jantung menjadi simbul kehidupan manusia.

 

Di bahasa Indonesia, kata qal sering diterjemahkan menjadi hati, padahal sesungguhnya makna qalb it jantung dan bukan hati. Namun terjemahan ini sudah sangat berkembang dan dterima luas oleh masyarakat. Terjemahan itu sudah menjadi bagian bahasa Indonesia. Dari sini, tatkala kita menerjemahkan kata qalb menjadi jantung, kesannya menjadi aneh. Padahal, yang disebut segumpal darah dalam hadis nabi, sesungguhnya adalah jantung dan bukan hati. Perhatikan hadis berikut ini:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ 

Artinya: ” Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah Qolbu”. (Hadis Riwayat Bukhori).

Qalb dalam hadis tersebut sesungguhnya maknanya jantung dan bukan hati. 

Berikut kami sampaikan nukilan dari pendapat ulama terkait letak ilmu pengetahuan:

  {ختم الله على قلوبهم}[البقرة:6]، يدل على أن محل العلم هو القلب واستقصينا بيانه في قوله:{ نزل به الروح الاَمين على قلبك}، [الشعراء 193].[19]

Dalam tafsir kabirnya, Imam Fatkhurrazi menyatakan sebagai berikut: “Allah telah mengunci-mati jantung mereka”, Ayat ini menunjukkan bahwa tempat ilmu berada dalam jantung. Hal ini dapat diketahui juga dari ayat berikut ini:

أما قوله ذاك فهذا نصه: «وأما قوله على قلبك ففيه قولان؛ … الثاني: أن القلب هو المخاطب في الحقيقة لأنه موضع التمييز والاختبار، وأما سائر الأعضاء فمسخرة له

Adapun frman allah على قلبك ada dua pendapat. Pendapat yang kedua adalah bahwa jantung sebagai yang dituju dari pembicaraan tersebut secara langsung karena jantung sebagai tepat sebagai pembeda. Sementara anggota badan lainnya mengikuti jantung.

    ثم اعلم أن محل العلم الحادث سواء كان متعلقا بالكليات أو بالجزئيات عند أهل الحق غير متعين عقلا، بل يجوز عندهم عقلا أن يخلقه الله تعالى في أي جوهر أراد من جواهر البدن لكن السمع دل على أنه القلب، قال الله تعالى‏:‏ ‏{‏فتكون لهم قلوب يعقلون بها‏}‏ وقال‏:‏ ‏{‏أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها‏}‏ ‏(‏1/ 15‏)‏‏.‏

Syahrastani dalam kitab Nihayaul Aqdam mengatakan sebagai berikut: Ketahuilah bahwa tempat dari ilmu makhluk baik yang terkait dengan persoalan global atau partikular menurut pendapat Ahlul Haq, tidak harus terletak di tempat tertentu, namun Allah bisa saja meletakkan pengetahuan tersebut di mana saja dalam bagian anggota tubuh. Hanya saja, menurut nas, yang menjadi tempat ilmu adalah jantung seperti firman allah berikut: “lalu mereka mempunyai jantung yang dengan itu mereka dapat memahami” Juga firman Allah, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”

   قال المتكلمون الحواس الخمس مشتملة على إدراكات خمس تختلف أنواعها وحقائقها والإنسان يجد من نفسه أنه يرى ببصره ويسمع بأذنه كما يجد أنه يعلم بقلبه فالبصر محل الرؤية والأذن محل السمع كالقلب هو محل العلم وكما يجد التفرقة بين العلم والإدراك يجد التفرقة بين محل العلم ومحل الإدراك نهاية الإقدام (352

Syahrstani juga berkata, “Ulama kalam menyatakan bahwab panca indera gunanya untuk mengindera lima hal yang berbeda pada diri manusia. Manusia bisa melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya, seperti halnya ia dapat mengetahui dengan jantungnya. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar seperti halnya jantung sebagai temat ilmu pengetahuan.  

قال الحكماء‏:‏ محل العلم الحادث النفس الناطقة

Menurut para filsuf, tempat ilmu makhluk adalah dalam jiwa

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open