Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Tema Bahasa Tafisr “Abad Tengah” Sangat Terbatas?

gfdsjj

 

Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 18.

Sebelumnya telah kami sampaikan mengenai tulisan Hamim Ilyas yang emnggunakan periodisasi sejarah Barat untuk menganalisa dan mengkaji pemikiran sejarah Islam. Telah saya sampaikan bahwa penggunaan periodisasi sejarah lain untuk menganalisa sejarah Islam akan menimbulkan kerancuan. Selanjutnya, kita akan melihat kepada bahasa lain dari ungkapan Hamim Ilyas yang saya anggap bertentangan dengan fakta sejarah seperti banyak tertuang dalam turas Islam. Dalam buku fikih beliau menulis sebagai berikut:

 

 

Tafsir agama yang dianut umat selama ini, sesuai tradisi yang diwarisi dari abad tengah, dikembangkan dalam ilmu-ilmu agama Islam; ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu kalam akidah dan ilmu tasawuf. Pengembangan tafir dalam ilmu-ilmu tersebut dominan dengan kerangka departementalis objek tiga ilmu terakhir; hukum, akidah dan spiritual. Penggunaan kerangka ini membuat mereka tidak memiliki wawasan kehidupan yang menyeluruh. Akibatnya mereka tidak mampu menyelenggarakan bidang-bidang kehidupan (sosial, ekonomi, politik dan lain-lain) dengan baik. Hal ini wajar karena wawasan penyelenggaraan saja mereka tidak punya, apalagi keterampilan menyelenggarakannya. (fikih kebhinekaan:84)

 

Menurut beliau, tafsir abad tengah sekadar dalam ranah berikut; ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu kalam akidah dan ilmu tasawuf. Kemudian, dari ketiga model tafsir tadi, dipadatkan menjadi tiga kajian, yaitu hukum, akidah dan spiritual, baru kemudian memberikan tudingan bahwa pengkaji tafsir abad tengah tidak memiliki wawasan keidupan yang menyeluruh. Dan tudingan ke empat adalah umat tidak mampu menyelenggarakan bidang kehidupan dengan baik. Benarkah demikian? Mari kita lihat:

 

 

Tafsir al-Quran, dibagi menjadi dua macam, pertama adalah tafsir al-Quran secara tahlili yaitu tafsir dari awal surat al fatehah hingga surat annas, dan kedua tafsir maudhu’iy yaitu tafsir tematis. Dalam turas islam, dua model tafsir ini berjalan seriring dan seimbang.

 

Tafsri tahlili sangat banyak dengan tema-tema yang cukup bervariatif sesuai dengan keahlian penafsirnya masing-masing. Maka ada tafsir isyari seperti karya imam Qusyairi, tafsir lughawi, seperti karya imam An-Nasafi, tafisir ahkam seperti karya imam Qurthubi, tafsir kalam dan filsafat seperti karya Imam Razi, tafsir retorika seperti karya zamasyari dan lain sebagainya. Semua tafsir al-Quran ini menjadi warisan kekayaan intelektual muslim yang patut dibanggakan.

 

Berbagai macam tafsir modern, yang menurut beliau adalah tafsir pasca industry, sesungguhnya merujuk pada tafsir-tafsir klasik itu. Tafsir al-Manar, Jauharutu Attafsir, Tafsir Maraghi, Shafwatu Attafasir dan lain sebagainya, jika kita lihat litelatur yang digunakan selalu merujuk pada kitab-kitab turas tafsir tersebut.

 

Selain tafsir tahlili, ada juga tafsir tematis yang ditulis berdasarkan tema bahasan. Model tafsir ini sangat berfariasi, seperti politik, ekonomi, fikih am, perwakafan, dan lain sebagainya. Berbagai kajian dalam kitab turas, pada umumnya merupakan bentuk dari tafsir tematik ini. Dikatakan demikian, karena kitab-kitab itu ditulis secara tematis dalam satu bahasan yang lengkap dengan tetap merujuk pada al-Quran maupun sunnah nabi. Semua bahasan dalam kitab-kitab turas tersebut merupakan upaya penulis untuk mencari solusi alternatif terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masanya.

 

Dalam bidang politik kita menemukan kitab al-Ahkamn Asulthaniyyah karya imam Mawardi, al-Ahkam Asulthaniyyah karya Qadhi Abu Ya’la al-Hambali, as-Siyasah as-Syar’iyyah karya Ibnu Taimiyyah, Thuruqul Hukmiyyah karya ibnul Qayyim, Ahkam Ahli adz-Dzimmah karya Ibnu Jauzi dan lain sebagainya. Kitab-kitab politik tersebut mencoba untuk memberikan solusi alternatif atas persoalan umat Islam waktu itu, khususnya dibidang politik dan urusan publik. Sebagai buku politik Islam, berbagai argumennya selalu disandarkan dari al-Quran dan Sunnah Nabi.

 

Dalam bidang ekonomi, kita menemukan kitab al-Kharraj karya Abu Yusuf, al-Amwal karya Ibnu Zanjawiyyah, Ahkamussuq karya Yahya bin Umar al-Andalusi dan lain sebagainya. Buku-buku tersebut merupakan kitab turas yang banyak mengkaji tentang system ekonomi Islam, pemasukan keuangan negara dan juga pengelolaan keuangan negara. Lagi-lagi, yang menjadi rujukan utama adalah al-Quran dan Sunnah Nabi.

 

Dalam bidang sosial, banyak kitab-kitab etika yang yang ditulis baik oleh para filsuf atau para sufi. Sebut saja misalnya tahdzibul akhlak karya ibnu miskawaih, ihya ulumuddin karya ghazali, risalah Qusyairiyah karya Imam Qusyairi dan lain sebagainya. Buku-buku tersebut, meski terkait dengan bahasan sufistik namun juga banyak dikaji seputar sistem interaksi kita dengan orang lain. Buku yang khusus bahas tentang fenomena sosial yang paling terkenal adalah mukadimah Ibnu Khaldun.

 

Masih banyak lagi buku-buku dari berbagai cabang ilmu keislaman. Apalagi jika kita buka kitab-kitab fikih yang sifatnya ensiklopedis, hampir semua bahasan terkait tema-tema tertentu ada jawabannya di sana. Lihat saja misalnya kitab al-Umm karya imam Syafii, al-Muhalla karya ibnu Hazm adz-Dzhahiri, Majmu Fatawa ibnu Taimiyah, Majmu Syarah Muhadzab karya imam Nawawi, al-Mughni karya Ibnu Qudamah dan lain sebagainya. Buku-buku fikih ensiklopedis yang kadang sampai 36 jilid tebal, memberikan solusi terhadap berbagai persoalan umat dari berbagai macam bidang kehidupan.

 

Dari paparan di atas, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa terkait dengan tafsir al-Quran, jangan sekadar fokus pada tafsir tahlili saja. Bagi saya, tafsir adalah upaya seorang ulama untuk memahami kitab suci al-Quran. Cara pemahaman seperti ini bisa dilakukan melalui tafsir tahlili dan tematik.

 

Kenyataannya, jika kita buka lembaran turas Islam, tafsir tematik ini sangat banyak dan bervariasi. Fakta dalam turas Islam tersebut sealigus menjadi bantahan atas tudingan Hamim Ilyas yang membatasi tafisr hanya dalam bebarap cabang keilmuan Islam saja  atau menjadi tiga model saja, yaitu hukum, akidah dan spiritual.  (Bersambung….)

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × four =

*