Tuesday, November 20, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Teks Akidah Pun Ahistoris?

alkohol

 

 

Seri counter buku fikih kebinekaan. Artikel ke 39.

 

Di halaman 107, Muhammad Azhar berkata:

 

Padahal semua penafsiran Al-Quran umumnya bersifat lokal, temporal bahkan prosedural-institusional (termasuk pelbagai institusi syariah dan khilafah). Belum lagi semakin berjaraknya (ahistoris) teks-teks akidah, fikih, tafsir klasik, maka semakin berjarak pula antara idealitas teks dimaksud dengan kondisi kekinian. Bukankah semua teks-teks Islam klasik seperti tafsir, fikih, akidah—termasuk dimensi asbâb al-nuzûl ayat-ayat Al-Quran—dalam banyak hal telah memiliki nuansa historis, psikologis dan sosiologis, yang berbeda dengan kondisi masyarakat masa kini, terlebih lagi kondisi masyarakat masa depan.

 

 

Mari kita lihat:

Benarkah bahwa semua penafsiran al-Quran umumnya bersifat lokal, temporal bahkan prosedural-institusional (termasuk pelbagai institusi syariah dan khilafah)?

 

Jawabnya, tentu saja. tidak. Keterangan terkait hal ini sudah saya uraikan secara rinci pada artikel-artikel sebelumnya. Prinsipnya adalah bahwa dalam al-Quran ada nas yang bersifat qat’iyat dan zhanniyat. Qat’iy tidak akan pernah berubah menyesuaikan ruang waktu dan perkembangan zaman. Qat’iyat mencakup persoalan ghaibiyat, ibadat, akhlak dan persoalan-persoalan fikih praktis yang rinciannya sudah diatur oleh hukum syariat.

 

Sementara dzanni adalah nas yang masih mempunyai banyak makna sehingga fungi mufassir adalah melakukan tarjih dengan memilih makna yang menurutnya lebih sesuai dengan melihat pada indikator (qarinah) yang ada. Indokator tadi, bisa berupa indikator bahasa, syariat, tradisi, atau lainnya. Ada pula persoalan yang muncul di masyarakat yang membutuhkan pemecahan dengan melihat pada sisi teks, baik dengan melakukan kiyas atau interpretasi ulang terhadap pendapat para ulama.

 

Merubah sesuatu yang qat’iy atau menganggap bahwa semua produk fikih adalah bersikap lokal serta terpengaruh budaya tempatan adalah kesalahan yang sangat fatal. Penafsiran seperti ini, bukan saja dapat merubah hukum fikih, namun merubah hukum syariat Islam secara keseluruhan.

 

Tafsir tentang Tuhan, kiamat, surga, neraka, shalat beserta jumlah bilangan rekaat, puasa, haji, akhlak, kadar zakat, hudud, qisas, waris dan lainnya adalah persoalan-persoalan yang terkait erat dengan ayat-ayat muhkamat. Menafsirkan ulang ayat ini, sama artinya meninggalkan kitab suci dan membuat hukum baru yang bertentangan dengan syariat Islam.

 

Bagaimana dengan asbabunnuzul? Dalam ulumul Quran, asbabunnuzul sekadar menjadi alat bantu untuk memahami nas, namun tidak menjadi justifikasi tentang ahistoritas nas. Tidak ada satu pun ulama mu’tabar yang menganggap bahwa asbabunnuzul dapat dijadikan argument untuk merubah banyak hukum fikih atau sebagai justifikasi tentang perubahan pemahaman atas nas dan ahistoris nas.

 

Ada dua kaedah yang sangat masyhur di kalangan ulama ushul untuk menyikapi asbabunnuzul ini. Pertama

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

Maknanya adalah bahka yang terpenting, hukum yang turun dari ayat tersebut, bukan sebab dari turunnya ayat tadi.

 

Contoh,
يسئلونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما

 

Artinya “ Mereka bertanya kepadamu tentang Khamr dan judi, Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa besar dan bermanfaat bagi manusia, tapi madaratnya lebih besar dari pada manfaatnya… “
( Q.S. Al Baqarah : 219 )
Asbab an nuzul dari ayat tersebut ialah bahwa pada waktu Rasulullah SAW. diutus menjadi Rasul, masyarakat pada waktu itu memiliki kebiasaan suka meminum khamar. Bagi masyarakat Jahiliyah bahwa meminum khamar merupakan suatu kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu, hampir semua masyarakat pada meminum khamar. Akibat dari meminum khamar tersebut prilaku mereka sangat jauh bertentangan dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itulah Allah menurunkan ayat tersebut untuk menetapkan keharaman khamar dengan menyebutkan bahwa khamar itu memiliki kemadaratan yang lebih besar bagi manusia meski khamr tersebut juga memiliki manfaat.

 

Meski asbabunnuzul ayat tadi terkait dengan kondisi social masyarakat jahiliyah, bukan bearti bahwa khamar saat ini menganudng manfaat sehingga dibolehkan. Khamar tetap mudarat dan merupakan perbuatan yang harus dihindari. Khamar adalah haramHal itu dikuatkan dengan ayat lain yang juga terkait dengan asbabunnuzul, yaitu ayat berikut:

 

ياأ يّها الذين امنوا لا تقربوا الصلاة وانتم سكارى حتى تعلموا ما تقولون

( النساء : 43)

 

Artinya ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” Q.S. An Nisa :43

 
Asbab an Nuzul ayat di atas ialah bahwa setelah berlaku hukum khamar seperti yang disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 219, masyarakat Arab Jahiliyah masih saja meminum khamar. Ada kasus bahwa seorang sahabat melakukan shalat sedangkan ia dalam keadaan mabuk hingga ucapan dalam shalatnya jauh dari apa yang seharusnya dia ucapkan dalam keadaan shalat. Dari sini, maka Allah menurunkan surat An Nisa ayat 43 yang berisi tentang keharaman seseorang meminum khamar sedangkan ia akan melakukan shalat.

 

Ayat tersebut semakin menguatkan bahwa khamar hukumnya haram. Hanya saja, di sini baru sebatas peringatan agar umat Islam waktu itu tidak meminum khamar saat melaksanakan shalat.

 

Hukum haram ditegaskan dengan ayat yang turun kemudian, yaitu sebagai berikut:

 

يا أيها الذين أمنوا إنما الخمر والميسر والانصاب والازلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون  ( المائدة : 90

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Asbab an Nuzulnya adalah bahwa ketika telah turun ayat 43 surat An Nisa dan hukum khamar ialah haram, tetapi tidak secara mutlak. Para shahabat saat itu masih ada sebahagian dari mereka yang meminum khamar dan mabuk-mabukkan.  Oleh karena itulah pada tahapan selanjutnya Allah menurunkan ayat 90 surat Al Maidah yang berisi pengharaman khamar secara mutlak. Dalam ayat ini Allah mengharamkan khamar melalui beberapa sebutan, yakni, lafal rijsu (رجس ) yang berarti al najasah ( النجاسة ) dan sesuatu yang menjijikkan. Ini artinya, bahwa khamar sebagai sesuatu yang najis dan menjijikkan harus dijauhi dan dilarang untuk diminum.

 

Jika kita lihat, bahwa khamar tadi terkait dengan asbabunnuzul masyarakat jahiliyah. Apakah kemudian hukum yang berlaku dari ayat tersebut hanya untuk masyarakat jahiliyah? Kenyataannya tidak. Asbabunnuzul sekadar alat bantu untuk memahami ayat. Namun makna dari ayat berlaku umum dan mencakup seluruh umat Islam. Khamar hukumnya haram.

 

Ada pula kaedah lain yang biasa digunakan oleh ulama ushul yaitu

العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ

 

Maknanya adalah bahwa makna yang terkandung dalam ayat, hanya terkhusus pada orang yang diturunkan ayat tadi. Lantas bagaimana dengan orang yang tidak terkena asbabunnuzul ayat? Mereka yang tidak terkena asbabunnuzul ayat tetap terkena beban hukum, hanya tidak melalui khithab ayat secara langsung, namun dengan kiyas terhadap ayat tadi.

 

Contoh bahwa khamar turun untuk orang tertentu di masyarakat tertentu saja. Jadi khithab ayat khusus dan tidak umum. Sementara bagi umat Islam lainnya, tidak terkena khithab ayat secara langsung. Umat Islam tetap terkena beban hukum seperti dalam ayat tadi, namun melalui jalur kiyas. Artinya, persoalan yang ada dikiyaskan kepada ayat yang turun kepada sahabat tertentu itu. Jika kita analisa, baik ulama yang menggunakan kaedah pertama atau kedua, hasilnya sama.

 

Persoalan kedua, bahwa tidak semua ayat mempunyai asbabunnuzul. Bahkan ayat-ayat yang dicantumkan asbabunnuzulnya secara rinci, sangat sedikit. Contoh surat al-fatihah yang tidak ada asbabunnuzulnya. Apakah karena ia tidak mempunyai asbabunnuzul, lantas ayat tadi dibuang begitu saja dan dianggap ahistoris? Betapa banyaknya ayat yang tidak akan terpakai, jika pemahaman fikih kita selalu dikaitkan dengan asbabunnuzul.

 

Apalagi hokum Islam tidak selalu terkait dengan ayat-ayat fikih secara langsung. Banyak ayat al-Quran yang berupa cerita, namun menjadi dalil atau argument bagi seorang mujtahid untuk menentukan hukum fikih. Contoh sederhana adalah bolehnya seseorang yang mempunyai kualitas keilmuan, etika dan system adminiustrasi unggul untuk meminta jabatan kepada pemerintah. Tidak ada ayat spesifik terkait hal ini. Namun para ulama menyandarkan dari kisah nabi Yusus yang mengajukan diri untuk menjadi menteri kepada Raja Mesir waktu itu.

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

  1. berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (QS. Yusuf: 55 )

 

Mana asbabunnuzul dari ayat ini? Tidak ada. Meski demikian, ia bisa dijadikan sebagai sandaran hokum fikih. Ia memberikan inspirasi sangat banyak bagi para ulama untuk merumuskan fikih tata negara.

 

Pernyataan berikut beliau berikut ini: Bukankah semua teks-teks Islam klasik seperti tafsir, fikih, akidah—termasuk dimensi asbâb al-nuzûl ayat-ayat Al-Quran—dalam banyak hal telah memiliki nuansa historis, psikologis dan sosiologis, yang berbeda dengan kondisi masyarakat masa kini, terlebih lagi kondisi masyarakat masa depan, menjadi sangat fatal kaena menyebutkan persoalan akidah yang juga dianggap mengandung dimensi historis. Akidah yang dibawa oleh Nabi Muhamamd saw untuk umat Islam sudah harus berbeda karena kondisi kita yang berbeda? Apakah urusan akidah ini masuk ranah historis? Apakah dengan keberadaan kita di abad modern, maka akidah kita juga has berubah, dari Tuhan yang satu menjadi Tuhan materi? Tuhannya para positifism? Atau tidak bertuhan sama sekali karena Tuhan telah mati?

 

 

Jika urusan akidah juga dianggap persoalan historis, lantas apa yang tertinggal dari iman kita? Apa yang tersisa dari akidah kita? Tafsir yang bagaimana yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman yang berbeda dengan sosio kultural masa lalu itu?

 

Jika urusan ibadah juga dianggap historis, lantas ibadah yang bagaimana yang akan kita lakukan? Apakah dengan membentuk ritual-ritual baru, dengan Tuhan yang baru dan keyakinan yang baru? Jika hukum fikih dianggap historis, apakah kita tidak perlu berzakat lagi, puasa atau haji? Tidak perlu mengindahkan aturan syariat terkait dengan halal haram, riba, larangan manipulasi, korupsi dan sejenisnya?

 

 

Menafsirkan al-Quran ada tata caranya. Para ulama telah menulis berjilid-jilid buku agar kita bisa memahami isi al-Quran sesuai dengan hukum syariat. Para ulama seperti imam Suyuthi, Imam Zarkasyi, Imam Harun Assulami, Imam Ibnu Jarir At-Thabai telah melakukan berbagai studi mendalam sehingga dapat merumuskan kitab-kitab ulumul Quran. Di tambah lagi dengan kitab-kitab ushul fikih, seperti yang telah ditulis oleh Imam Haramain, Imam Ghazali, Imam Amidi, Imam Baidhawi dan seterusnya. Rumusan dalam kitab-kitan itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan rambu-rambu kepada kita terkait cara menafsirkan al-Quran.

 

Jika kita meninggalkan kitab warisan ulama terhadulu lalu beralih kepada metodologi Barat, maka yang terjadi bukan tafsir al-Quran, namun dekonstruksi nilai al-Quran. Kebenaran penafsir dianggap nisbi dan relative. Ayat al-Quran punya sisi historis dan ahistoris. Setiap penafisr dianggap mempunyai sisi-sisi kebenaran meksi ia bertolak belakang dengan makna sharih ayat. Jika demikian, tidak ada yang tersisa dari al-Quran selain hanya tulisannya saja. Sementara pemahaman kita, jauh berbeda dengan spirit al-Quran. Sikap seperti ini sesungguhnya bukan mendekatkan kita kepada al-Quran, namun justru menjauhkan kita, sejauh-jauhnya dari al-Quran. Wallahu a’lam

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open