Monday, February 17, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Tauhid Itu Bukan Sekadar Mengesakan Tuhan

fdsaghh

 

 

Dalam sebuah diskusi ada yang menyatakan bahwa para tokoh posutivisme juga percaya pada Tuhan dan percaya dengan alam metafisik. Jika demikian, apakah mereka bertauhid?

 

Saya sampaikan bahwa para filsuf Barat sejak masa Yunani, baik Socrates, Plato, Aristoteles, lalu para filsuf skolastik abad pertengahan memang banyak yang masih meyakini keberadaan alam metafisik. Kepercayaan didasari dari pandangan filsafatnya atas alam raya yang bersifat fisik sehingga mengantarkan otak manusia ke alameta fisik. Relasi alam fisik dan alam metafisik ini dalam filsafat biasa disebut dengan teori illat ma’lul.

 

Keberadaan wujud sebagai ma’lul tidak independen dan tidak datang seketika. Ia tidak muncul dari ketiadaan. Ia membutuhkan faktor lain untuk mewujudkannya. Ia butuh illat. Illat tadi, apakah juga butuh illat lain untuk mewujudkannya? Jika ia, maka akan terjadi kebutuhan yang bersambun. Mustahil ia bersambung tiada batas. Batas ahir itulah yang disebut dengan illat al ula (sebab pertama) atau istilah Ibnu Sina demgan akal pertama. Sebab pertama itu harus tunggal dan tidak boleh berbagi. Ia harus Esa.

 

Pandangan illat malul ini sudah muncul sejak masa Yunani, lalu diadopsi oleh para filsuf muslim. Pemikiran ini juga berkembang pada masa filsafat Barat abad pertengahan. Di sini yang terjadi sebenarnya saling keterpengaruhan antara satu filsuf dengan yang lainnya.

 

Konsep utama sesungguhnya sekadar pembuktian alam metafisik melalui akam fisik dengan logika. Keyakinan adanya alam metafisik akan berimplikasi kepada bangunan filsafat lainnya semisal filsafat etika. Hanya saja, pijakannya dari logika. Jika kitab suci, hanya dijadikan sebagai justifikasi belaka sebagai penguat terhadap apa yang dihasilkan oleh logika.

 

Percaya dengan adanya satu Tuhan belum tentu dianggap bertauhid. Mengapa? Karena  tauhid bukanlah sekadar kepercayaanengenai Keesaan Tuhan, atau pengakuan Tuhan sebagai pencipta alam raya saja (illat ma’lul). Jika sekadar percaya adanya Sang Pencipta, maka orang kafir Quraisy pun percaya bahwa Allah adalah pencipta alam raya. Firman Allah:

 

 
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚفَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚفَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

(QS. Yunus: 31)

 

 

Namunengapa mereka dikafirkan dan dianggap musyrik? Itu karena mereka sebatas percaya Tuhan, namun mempunyai sekutu lain selain Tuhan. Atau mereka percaya Tuhan, namun tidak mau percaya dengan aturan Tuhan yang sudah termaktub dalam kitab suci. Tauhid itu, percaya penuh adanya Sang Pencipta Yang Maha Tunggal. Tauhid itu percaya bahwa yang mempunyai kekuasaan mutlak di jagat raya ini adalah Tuhan saja. Tauhid itu percaya bahwa pengatur jagat raya seutuhnya termasuk di dalamnya aturan bagi umat manusia hanya berasal dari Tuhan dan merupakan hak mutlak Tuhan. Tauhid itu percaya dan tunduk dengan hukum Tuhan dan percaya dengan utusan Tuhan dan segala sesuatu yang dibawa olehnya.

 

Singkatnya tauhid itu percaya dengan Allah dan seluruh kandungan al-Quran serta hadis nabi. Jadi pintu pertama tauhid adalah berislam. Tidak mungkin orang bertauhid tanpa masuk ke dalam agama Islam. Dari sini kita bisa memahami firman Allah berikut:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” [Al-Hujuraat: 14]

 

Jadi, para filsuf itu, meskipun mereka percaya dengan alam metafisik, meski mereka percaya dengan eksistensi Tuhan, jika mereka tidak berislam maka mereka tidak bertauhid.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen − nine =

*