Wednesday, February 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Taklid dan Ijtihad

 fdsadsagMuhammad al-Ghazali adalah seorang yang sangat peduli terhadap kondisi umat Islam. Ia sangat prihatin melihat orang yang memiliki semangat Islam tinggi, namun pengetahuan Islamnya sangat minim. Lebih parah lagi jika yang bersangkutan tidak ada keinginan untuk menuntut ilmu. Ia hanya menjadi orang yang pasif.

Sangat rugi jika kita meninggalkan kekayaan warisan ulama kita terdahulu yang berupa ilmu pengetahuan, namun kita sama sekali tidak mampu memanfaatkannya. Banyak kalangan muda yang tidak sadar bahwa umat Islam memiliki kekayaan intelektual yang luar biasa besar. Jika warisan para ulama kita dapat dieksploitasi dengan baik niscaya akan menjadi sumbangan besar terhadap peningkatan kecerdasan dan kemajuan umat Islam. Sebagian umat Islam masih taklid dan belum berani melangkah lebih jauh lagi, yaitu berijtihad. Padahal saat ini ijtihad menjadi satu keharusan. Banyak persoalan umat yang semakin menumpuk dan membutuhkan solusi alternatif yang lebih sesuai dengan konteks kemodernan.

Berbeda dengan generasi yang mempunyai cahaya hati, generasi yang menyadari mengenai eksistensi dirinya. Ia akan berusaha menggali berbagai warisan intelektual tersebut untuk kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ia berani melangkah lebih maju, melakukan berbagai terobosan dalam berijtihad. Ia adalah generasi yang selalu lapang, istiqamah dan penuh semangat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ia adalah orang yang selalu berpikir mengenai hakikat hidup.

 

Muhammad al-Ghazali pernah mengikuti seminar dengan para mufti. Ada suatu persoalan yang sedang diangkat, yaitu ketika ia melihat suatu kejadian di Iskandariyah. Salah seorang bapak membunuh anaknya sendiri setelah menceraikan istrinya. Ia membunuhnya karena tidak mau menanggung beban nafkah untuk anaknya. Secara hukum Negara, ia harus dihukum dengan dibuang ke luar negeri. Namun secara hukum Islam, ia harus menjalani hukuman qishas. Dari sini muncul perselisihan antara hukum Negara dengan hukum Islam. Sejatinya hukum syariat lebih utama dibandingkan dengan hukum Negara. Hukuman qishash dilandasi dari hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan Umar bin Khatab ra.. para mufti kemudian memberikan ketetapan hukum bahwa seandainya seorang membunuh anaknya dengan sengaja, maka ia akan diqishas. Namun jika ia membunuh karena ketidaksengajaan, maka ia akan dikenai hukum Negara. Menurut Imam Malik, apa pun yang terjadi, maka hukum Islamlah yang harus digunakan. Maka hukuman manapun tidak dapat menjadi ganti untuk meringankan hukuman bagi para pembunuh tersebut.[1]

Dalam diskusi tersebut, Muhammad al-Ghazali hanya mengatakan: “Islam adalah agama komprehensif (syamil), agama yang mudah dan agama yang selalu memandang maslahat bagi umat manusia.”[2] Mengapa kita selalu mempersulit terhadap perkara yang dianggap mudah oleh syariat? Jika kita merujuk kembali kepada perilaku Rasulullah Saw., maka kita akan melihat bahwa beliau selalu mengambil yang termudah dan yang paling mengandung maslahat bagi umatnya selama itu tidak menimbulkan dosa.

 



[1] Ibid., hal. 120

[2] Ibid.,  hal. 23

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

17 + 3 =

*