Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Tafsir Ulang Atas Rumusan Keilmuan Islam

ilmu-tafsir

Seri Counter Fikih Kebhinekaan. Artikel ke 32.

Di halaman 105, Muhammad Azhar berkata:

 

Kedua, epistemologi keislaman mendatang harus lebih operatif-burhani (rasional empiris) sebagaimana pernah diintroduksi oleh Ibnu Taimiyah sesuai konteks zamannya (al haqiqah fil a’yan la fi al adzhan). Perlu rekonstruksi ulang konsep keilmuan atau kuliah teologi Islam (akidah) dan etika Islam (akhlak) yang lebih bernuansa sosial, ketimbang semata-mata normatis-sosial. Dari nuansa metafisis ke empiris-saintifik.

 

Lalu di halaman 107, beliau mengatakan:

 

Urgensi epistemology Islam kontemporer ini terletak pada pentingnya upaya untuk mengkonktekstualisasi interpretasi keislaman sehingga tidak tertinggal jauh dengan perubahan social yang terus terjadi. Islam sebagai teks keagamaan (baca: Al-Quran) memang sudah final dan tidak akan mengalami perubahan, tetapi intepretasi, rumusan keilmuan Islam (Ulum al-Quran, ulum al-Hadis, ilmu akidah, ilmu fikih, tarikh dan lainnya harus selalu ditafsir ulang sesuai konteks zaman dan generasi muslim yang hidup era belakangan. Bukankah nabi Muhammad saw pernah berpesan, “Didiklah generasimu, karena mereka akan menghadapi zaman yang sama sekali berbeda dengan zamanmu”. Bila ditarik ke wilayah filsafat keilmuan Islam menjadi, “Buatlah epistemology Islam yang baru, karena yang lama sudah tidak sesuai dengan zaman kini dan mendatang”.

 

 

Mari kita lihat:

Di atas, Muhammad azhar menawarkan tentang epistemology kontemporer, namun uniknya epistemology kontemporer itu ternyata burhani. Padahal jika kita tilik lagi bahwa episteme burhan itu bukan epistemology Islam kontemporer. Ia adalah salah satu dari tiga model epistemology klasi. Jadi di manakah letak kontemporernya itu?

 

Padahal ia mengatakan, “Bila ditarik ke wilayah filsafat keilmuan Islam menjadi, “Buatlah epistemology Islam yang baru, karena yang lama sudah tidak sesuai dengan zaman kini dan mendatang”. Jika ia konsisten dengan pendapat ini, mestinya ia tidak akan menggunakan episteme burhan. Namun membuat episteme baru yang sesuai dengan zamannya. Kenyataannya tidak. Satu sisi menganggap episteme klasik tidak relevan, dan dianggap ketinggalan zaman, namun di sisi lain ia menawarkan satu dari tiga model episteme Islam klasik

 

.

 

Beliau juga mengatakan:

Dalam kesempatan ini perlu diperhatikan bahwa al-Quran merupakan wahyu Tuhan yang Maha absolut-objektif. Adapun penafsiran atau pemahaman manusia (ulama) terhadap al-Quran tentu bersifat relative-subjektif. Wahyu al-Quran merupakan desin Allah, sedangkan tafsir merupakan desain manusia (ulama). Al-Quran merupakan kumpulan syariat, sedangkan kitab-kitab tafsir merupakan kumpulan fikih (pemahaman para ulama). Wahyu (syariat) bersifat tetap atau permanen sampai akhir zaman. Sedangkan tafsir (fikih) kebenarannya bersifat kontemporer, terbatas, terkait ruang dan waktu saat kitab tafisr (fikih) ditulis oleh ulama yang terikat dengan zamannya, latar belakang pendidikan sang ulama, konteks social, politik, ekonomi di sekitar kehidupan sang penulis kitab tafsir (fikih) tersebut.  Itulah sebenarnya umat tidak perlu heran mengapa muncul perbedaan madzhab tafsir, madzhab akidah dan madzhab fikih.

 

Mari kita lihat:

Benar bahwa al-Quran adalah wahyu Tuhan yang pasti benar. Wahyu Tuhan yang sifatnya terbatas dan tidak aka nada penambahan lagi. Wahyu tuhan yang sudah berakhir dengan meninggalnya nabi Muhammad saw.

 

Namun apakah tafsir para ulama sifatnya subyektif dan relative?

 

Penafsiran ulama atas wahyu tuhan yang berupa syariat, ada yang sifatnya tsawabit (qat’iyyat) yang tidak akan bias berubah sampai kapanpun juga. Namun ada yang sifatnya mutaghayyirat (bias berubah) atau multi tafsir, yaitu ayat-ayat yang masuk dalam wilayah adz-dzanniyat.

 

 

Ayat yang masuk dalam wilayah Qat’iyyat dapat dibagi menjadi tiga macam, pertama terkait dengan akidah, kedua terkait dengan akhlak dan ketika terkait dengan muammalah dunyawiyyah.[1]

 

Di antara ayat qat’iy yang terkait dengan akidah contohnya adalah surat al-ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿

Artinya: 
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

 

Ayat ini disebut dengan tsawabit atau qat’iyyat. Bahwa Allah hanya satu, tidak bisa ditafsirkan ulang. Sejak kapanpun, dalam kondisi apapun, bagaimanapun perubahan dunia, tidak dapat merubah konsep keesaan Allah. Jadi, ayat tsawabit dalam akidah ini sama sekali tidak bisa dirubah.

Atau ayat-ayat yang terkait dengan alam ghaib seperti surg, neraka, kiamat dan lain sebagainya. . Ia adalah urusan akidah yang tidak bisa ditafsirkan ulang. Ia adalah ayat-ayat yang tsawabit atau qatiyyat.

Kedua terkait dengan muammalah dunyawiyah, contoh ayat waris:

 

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوۡلَـٰدِڪُمۡ‌ۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ‌ۚ;

 

Artinya: Allah perintahkan kamu mengenai (pembagian harta pusaka untuk) anak-anak kamu, yaitu bagian seorang anak lelaki menyamai bagian dua orang anak perempuan….(Q.S. An-Nisa: 11).

Siapapun yang membaca ayat ini langsung paham bahwa bagian laki-laki menyamai dua bagian perempuan. Atau 2 banding 1. Ayat ini tidak bisa dipahami dengan makna lainnya. Karena ia hanya mempunyai satu makna saja, maka ini yang disebut dengan ats-tsawabit atau al-Qat’iyyat.

 

Contoh dalam akhlak:


لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan mizan (neraca, keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Qs. al-Hadid/57: 25)

 

Ayat di atas memerintahkan kita berlaku adil. Di ayat lain Allah berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )النحل : 90

 

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs. an-Nahl: 90)

 

Ayat di atas memerintahkan kita untuk selalu berbuat adil kepada siapapun juga. Meski dunia berubah dan masyarakat semakin modern, keadilan tidak bisa diganti dengan kezhaliman. Karena ia sifatnya pasti dan tidak bisa dirubah, maka ia disebut dengan ats-tsawabit tau al-Qat’iyat.

 

Apakah penafsiran atas ayat-ayat di atas masih harus menyesuaikan ruang waktu? Apakah kita masih akan mempertanyakan tentang tafisr keesaan Tuhan, Allah sebagai pencipta alam, tentang kenabian, kitab suci, hari akhir, surge dan neraka? Tafsir yang bagaimanakah yang sesuai dengan konteks kontemporer yang kitanya bisa merubah atas ayat- di atas?

 

Apakah perintah shalat, puasa, zakat dan haji juga harus menyesuaikan ruang waktu? Dengan demikian, ibadha-ibadah yang telah diterangkan secara jelas oleh syariat dapat dirubah sesuai dengan subyektifitas pembaca? Apakah ayat-ayat terkait etika juga bisa berubah sesuai ruang waktu, sehingga berbohong, korupsi, manipulasi, berlaku hedois danegois, menyakiti orang lain dan sederet norma dalam hokum syariat dapat berubah sesuai dengan tafsir subyektif manusia?

 

Tentu saja tidak. Karena ia terkait dengan ayat-ayat qat’iyyat yang tidak bisa berubah oleh siapapun penafsirnya. Bukankan para ulama ushul meletakkan kaedah berikut:

 
تغير الفتوى واختلافها بحسب تغير الازمنة والامكنة والاحوال والنيات والعوائد

 

 

Artinya: Perubahan fatwa dan perbedaannya terjadi menurut perubahan zaman, tempat, keadaan, niat dan adat istiadat

 

 

Benar bahwa ulama meletakkan kaedah tersebut. Hanya saja, kaedah tadi tidak berhubungan dengan hokum yang sifatnya qat’iy. Para ulama tetap memperhatikan kaedah-kaedah lain dalam ushul fikih dan tidak mencukupkan dalam satu kaedah saja. karena pada dasarnya, kaedah ushul fikih, satu sama lain saling terkait.

 

 

Jadi, terkait dengan ayat qat’iyyat tadi, para ulama satu suara. Tidak ada alasan merubah berbagai penafsiran terkait ayat-ayat yang sifatnya tsawabit tersebut. Menafsirkan ulang dengan alasan karena harus menyesuaikan perubahan zaman, sama artinya akan merubah substansi hukum syariah secara keseluruhan. Wallahu a’lam.

 

===============

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

9 + nineteen =

*