Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Tafsir dan Takwil

 

sdaghh

Penanya: Apa beda tafsir dengan takwil ust?

 

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc

Ulama mutaqaddimin tidak membedakan antara tafsir dan takwil. Ulama mutaakhirin mecenderung membedakan antara tafsir dan takwil. Tafsir semacam keterangan atas ayat al-Quran, sementara takwil memalingkan makna ayat dari makna zhahir kepada makna lain yang sesuai dengan adanya infikator tertentu. Indikator bisa berupa akal, tradisi, syariat, bahasa dan lainnya.

 

Penanya: Tapi kenapa sebagian ummat Islam sepertinya alergi dengan istilah ta’wil.. bahkan menyamakannya dengan ta’thil yang dilakukan muktazilah?

 

umumnya mereka ini mutaahirin yang masuk dalam golongan Ghulah Hanabilah. Mereka memandang makna takwil sesuai perspektifnya sendiri. Misal kata tangan, wajah, dan lain-lain dimaknai dengan tangan dan wajah sesuai makna bahasa. Konsekwensinya, Allah mempunyai tangan seperti tangan manusia atau tangan makhluk lainnya, punya kaki seperti makna kaki makhluk, dan demikian seterusnya. Pada akhirnya, Allah diserupakan dengan makhluk, padahal dalam al-Quran, Allah berfirmann:

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

 

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syura: 11).

 

Mereka menisbatkan perkataan mereka itu kepada padahal para fuqaha termasuk imam Ibnu Hambal, padahal Imam Ibnu Hambal tidak memaknai ayat-ayat mutasyabihat seperti itu.

Dalam kitab Thabaqat Hanabilah, Imam Ibnu Hambal berkata:

 قال عبد الله بن أحمد: إن أحمد قال: من زعم أن الله لا يتكلم فهو كافر، إلاَّ أننا نروي هذه الأحاديث كما جاءت.

 

Abdullah bin Ahmad berkata, sesungguhnya Ahmad berkata, siapapun yang berpendapat bahwa allah tidak berbicara maka ia kafir. Hanya saja, kami meriwayatkan hadis ini seperti apa adanya.

Ibnu Jauzi al-Hanbali dalam kitab Daf’u Syubahi at-Tasybih bi akuffi at-Tanzih berkata, “Imam Ahmad tidak pernah menyatakan bahwa Allah berada di tempat tertentu”. Pernyataan ini juga dinukil oleh Qadhi Badruddin bin Jamaah dalam kitab Idhahuddalil fi Qat’I hujaji ahli at-Ta’thil.

 

Diriwayatkan dari al-baihaqi bahwa Imam Ahmad menakwilkan ayat {وَجَاءَ رَبُّكَ}dengan  جاء ثوابه

 

Imam Malik berkata:

 

الاستواء معلوم والكيف مجهول والايمان به واجب والسؤال عنه بدعة

Istiwa sudah diketahui, caranya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya bid’ah.

 

Makna ma’lum, adalah sesuatu yang sudah diketahui bersama. Karena sudah diketahui bersama ini, maka para sahabat tidak memperdebatkan maknanya. Agar makna tidak dibayangkan secara inderawi, maka Imam Malik mengikat kata tadi dengan “والكيف مجهول  Artinya bahwa bagaimana makna sesungguhnya dari ayat-ayat tadi, tidak diketahui oleh manusia.

 

Pendapat seperti ini adalah pandangan ulama madzhab dan juga salah satu maslak dari paham Asy’airah. Ia menjadi bagian paham Ahli Sunnah.

 

Yang dimaksud dengan والكيف مجهول adalah bahwa ada perbedaan antar manusia yang mahluk dengan Allah yang khaliq, antara manusia yang berada di alam tabiah (fisik) dengan Allah yang di alam maa ba’da at-Thabi’ah (metafisik), antara manusia yang berada di alam syahadah (fisik) dengan Allah yang alam ghaib. Karena perbedaan antara manusia dengan Allah, maka kita sebagai manusia tidak bisa mengetahui bagaimana makna istiwa, tangan, kaki, dan lain sebagainya secara pasti. Inilah makna majhul itu. Wallahu a’lam
================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one × five =

*