Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Solusi Krisis Kader, Perbanyak Pesantren Muhammadiyah, MBS dan Trensain

hqdefault

 

Dalam sebuah diskusi di GWA, terjadi dialog terkait dengan minimnya kader Muhammadiyah. Padahal jika dilihat dari jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Muhammadiyah sudah sangat banyak. Dari TK hingga PTM jumlahnya sampai ribuan dengan murid yang tentunya ratusan ribu. Namun jika dilihat dari porsi pengurus Muhammadiyah, banyak pengurus yang sampai dobel tujuh. Sungguh ini sangat memilukan.

 

Sebelumnya saya pernah menulis terkait dengan perubahan paradigm di pendidikan Muhammadiyah, yaitu bahwa lembaga pendidikan Muhammadiyah sejatinya berorientasi kader, dan bukan sekadar amal usaha saja. Dengan demikian, akan dapat menanggulangi krisis kader yang selama ini terasa di persyarikatan.  Lengkapnya bisa di baca link sebelumnya di sini: http://almuflihun.com/merubah-paradigma-sekolah-kader/

 

Hanya saja, perubahan paradikma saja tidak mencukupi. Harus ada kemauan untuk membuat brand sekolah Muhammadiyah yang mempunyai kualitas keilmuan dan keagamaan mumpuni. Terkait hal ini, juga pernah saya singgung. Link lengkapnya ada di sini: http://almuflihun.com/inilah-brand-sekolah-muhammadiyah-hafal-beberapa-juz-al-quran-dan-berakhlak-mulia/

Terlait dampak negatif orientasi lembaga pendidikan Muhammadiyah yang sekadar untuk amal usaha, bisa dibaca di link berikut: http://almuflihun.com/begini-akibatnya-jika-lembaga-pendidikan-sekadar-sebagai-amal-usaha/

 

Untuk membentuk kader militan dan merubah paradigma sekolah kader, nampaknya perlu perubahan carapandang terkait system pendidikan di Muhammadiyah. Banyak sekolah Muhammadiyah yang materi keagamaan sangat minim, dan bahkan sekadar membebek pada materi diknas. Tentu saja ini tidak mencukupi dan bahkan mengecewakan. Tidak heran jika kemudian banyak alumni dari sekolah Muhammadiyah yang tidak bisa baca Quran secara benar.

 

Di GWA, ada yang berkomentar demikian:

Di depok 2 timur ada SD Muhammadiyah, ada keinginan sy utk menyekolahkan anaknya sy dua-duanya ke sana, tapi saat saya tanya porsi pendidikan agamanya, sangat sedikit. Pendidiakan Agamanya yaitu Pendidikan Agama Islam sesuai kurikulum diknas, sejarah Islam dan kemuhammadiyahan, dah itu aja. Pdhl sy ingin, anak sy jg bisa bacaan qur’annya lebih baik dan ada target hafalan qur’annya jg minimal tmaat SD Juz’ama hafal. Batal lah sy, disamping masalah lokasi ke sekolah yg utk ukuran anak2 ya cukup jauh, harus ada antar jemput. Akhirnya, sy masukan anak saya ke SD Islam yang biasa, tp secara kurikulum agama dan bbrp kegiatan siswa nya yg cukup bagus. Dari sisi biaya memang lebih besar, tp ga jauh2 amat dan di Depok rasanya sekolah-sekolah Islam brpa pun biayanya mesti laris.

 

Pernyataan di atas, semacam menjadi pembuktian mengenai kelemahan materi keagamaan di sekolah Muhammadiyah. Mudah-mudahan saja, ini hanya beberapa sekolah, dan bukan menjadi fenomena umum bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah.

 

Biasanya, militansi kader dibentuk karena rasa memiliki yang mendalam terhadap persyarikatan. Hal ini bisa dibentuk jika ada hubungan spiritual antara siswa, guru dan lembaga tempat siswa belajar. Di sekolah-sekolah Muhammadiyah, tiga unsur ini kadang tidak terpenuhi. Siswa belajar sekadar mengejar nilai, guru menyampaikan ilmu, sementara sekolah sebagai sekadar menjadi sarana pendidikan semata. Apalagi banyak juga guru-guru pengampu yang mereka itu bukan orang Muhammadiyah. Akibatnya, terjadi krisis dengan kurang munculnya keterikatan antara siswa, guru dan lembaga tempat mengajar. Tentu ini akan mempengaruhi terhadap jiwa kemuhammadiyahan siswa.  Paling maksimal, siswa hanya bangga karena pernah sekolah di Muhammadiyah. Ia akan memamerkan kebanggaannya mengenyam pendidikan di Muhammadiyah di waktu dibutuhkan, seperti ketika kampanye politik misalnya. Namun sumbang sih ke Muhammadiyah bisa dikatakan nol.

 

Jika kita lihat, bahwa di Muhammadiyah sesungguhnya mempunyai sistem pendidikan yang memenuhi tiga syarat menjadi kader militan, berwawasan Islam dan kemuhammadiyahan yang mumpuni. Juga lembaga pendidikan yang mempunyai ikatan spiritual antara siswa dengan guru dan siswa dengan lembaga tempat dia belajar. Model pendidikan ini dikenal dengan Pesantren Muhammadiyah, Muhammadiyah Boarding School (MBS) dan Trensains.

 

Pesantren Muhammadiyah adalah lembaga pendidikan yang titik tekannya pada pendalaman ilmu agama. Di sini, target utamanya adalah menjadikan santri sebagai kader ulama Muhammadiyah. Maka materi yang digeluti juga materi-materi terkait pendalaman bahasa arab serta kitab kuning. Materi terkait dengan keilmuan Islam lebih dominan disbanding dengan materi umum.

 

Beda dengan MBS. Ia umunya titik tengah antara pesantren dan sekolah umum. Pelajaran umum dan agama, 50:50. Visi misi pembentukan MBS tidak harus karena ghirah ingin menjadikan santri menjadi ulama tarjih, namun bisa jadi karena keinginan untuk mencetak ilmuan yang mempuni dan mempunyai skil keagamaan yang cukup.

 

Selain MBS, ada juga Trensains yang digagas oleh Kyai Gus Pur. Perbedaan antara MBS dengan Trensain adalah dari sisi paradigm keilmuan. MBS tidak merubah paradigma keilmuan Islam. Ia tetap mengacu ilmu umum dari pemerintah. Artinya bagaimanapun bentuk kurikulum pemerintah, meski terkadang sekuler dan bertentangan dengan prinsip fundamental ajaran Islam, tetap diterima oleh MBS. Hanya kemudian pelurusannya tidak diletakkan dalam kurikulum sainsnya, namun dari materi keagamaannya.  Ia menjadi penyeimbang dari sekularisasi dikatat pendidikan.

 

Sementara Trensain merupakan pesantren sains yang berusaha melakukan proses “islamisasi ilmu pengetahuan”. Trensain menjadikan al-Quran sebagai basic epistemology. Perubahan paradigma bearti perubahan dalam cara berfikir. Maka di trensains diajarkan filsafat ilmu. Juga diberikan materi keilmuan terkait sejarah tokoh para ulama sains Islam masa lalu untuk memacu santri agar dapat berjuang seperti mereka.

 

Untuk membentuk trensains butuh SDM dan kesiapan yang tidak mudah. Namun sesungguhnya bisa menjadi sekolah alternative Muhammadiyah ke depan.  Jika berat untuk menjadikan sekolah Muhammadiyah menjadi trensains, maka bisa ditempuh jalur tengah-tenga itu, yaitu merubah sekolah Muhammadiyah menjadi MBS. Kelebihan MBS, ia sangat lentur. Sekolah kejuruan pun, bisa bermetamorfosis menjadi MBS.

 

Umumnya para alumni model pendidikan seperti ini (baca; pesantren, MBS dan Trensains) akan mempunyai militansi yang tinggi terhadap persyarikatan. Para alumni lebih dapat diandalkan.  Dengan menggiatkan tiga model lembaga pendidikan seperti ini, barangkali menjadi solusi alternatif untuk menangani minimnya kader persyarikatan. Wallahu a’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open