Thursday, December 3, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Solusi Dari Krisis Dai Muhammadiyah

ponpesdarussalam

 

Sebelum menulis lebih lanjut, coba berhatikan data base Amal Usaha Muhammadiyah berikut ini.

 

Database Persyarikatan

Data Amal Usaha Muhammadiyah

 

NoJenis Amal UsahaJumlah
1TK/TPQ4.623
2Sekolah Dasar (SD)/MI2.604
3Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs1.772
4Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK/MA1.143
5Pondok Pesantren67
 6Jumlah total Perguruan tinggi Muhammadiyah172
7Rumah Sakit, Rumah Bersalin, BKIA, BP, dll457
8Panti Asuhan, Santunan, Asuhan Keluarga, dll.318
9Panti jompo *54
10Rehabilitasi Cacat *82
11Sekolah Luar Biasa (SLB) *71
12Masjid *6.118
13Musholla *5.080
14Tanah *20.945.504   M²

 

Coba bandingkan jumlah sekolah Muhammadiyah dengan pesantren Muhammadiyah.

Sekolah Muhammadiyah:

Sekolah Dasar (SD)/MI2.604
Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs1.772
Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK/MA1.143

Jumlah keseluruhan: 5519

Lalu bandingkan dengan jumlah pesantren Muhammadiyah. ternyata jumlahnya hanya 67 pesantren.

 

Ketika sekolahan jumlahnya hingga ribuan, pesantren Muhammadiyah kurang tujuh puluh. Ini artinya apa? Bahwa anggota Muhammadiyah lebih cenderung untuk membangun sekolahan dari pesantren. Artinya, anggota Muhammadiyah jauh lebih suka sekolahan dari pondok pesantren.

 

Dampak negatifnya sangat terasa sekali. Saat ini Muhammadiyah tidak hanya krisis ulama, tapi juga krisis dai. Akibatnya, amal usaha Muhammadiyah seperti kehilangan ruh bermuhammadiyah. Banyak pengurus AUM Muhammadiyah yang bersifat prakmatis. Ghirah dakwah Muhammadiyah mulai luntur. Parahnya, pengurus AUM kadang tidak tau tentang gerakan Muhammadiyah.

 

Sebagai gerakan Islam, sejatinya harus ada perimbangan antara yang umum dan agama. Jika tidak sampai 50%:50%, minimal 75%:25%. Artinya, pesantren Muhammadiyah seperempat persennya saja, itu sudah cukup.

 

Kenyataanya tidak demikian. Kondisi sangat tidak berimbang. 5519 sekolahan dan hanya 67 pesantren. Kita terlau memberikan perhatian lebih terhadap sekolah umum dibandingkan dengan sekolah agama.

 

Muhammadiyah yang merupakan gerakan Islam dengan jargon kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Dan itu hanya bisa digawangi oleh para ulama yang mengerti Quran sunnah. Jika kita krisis ulama dan dai, lantas dikemanakan jargon itu?

 

Krisis ulama dan dai sudah menjadi kenyataan. Sekarang apa solusinya? Solusi terbaik adalah dengan membuat lembaga kaderisasi dai dan ulama. Ini menjadi kewajiban bersama dan harus menjadi bagian dari program besar Muhammadiyah. Jika mengandalkan gerakan sukarela dari jamaah saja, rasa-rasanya sanagt berat.

 

Langkah-langkah kongretnya dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Mendirikan Pesantren Muhammadiuyah.

Bagaimanapun juga, pesantren menjadi lembaga yang sangat efektif untuk mencetak para dai dan ulama dibandingkan dengan sekolah umum. Memang ada juga para dai yang keluaran dari sekolahan umum, tapi biasanya basic keilmuan agamanya tidak mendalam. Kita ingin dai yang berkualitas dan paham benar keilmuan Islam, bukan dai panggung yang ilmunya hanya dari google saja. Atau dai artis yang prilakunya lebih layak jadi selebriti dibandingkan dengan dai.

 

Idealnya, setiap daerah Muhammadiyah ada satu pesantren Muhammadiyah. Ini akan menjadi jembatan yang baik untuk menanggulangi krisis dai dan ulama. Jika satu daerah ada pesantrennya, minimal di daerah tersebut tersuplai para kyai kampung yang bisa dijadikan rujukan untuk membimbing umat.

 

  1. Muhammadiyah Boarding School

Sekolah Muhammadiyah yang sudah ada, bisa dirubah menjadi Muhammadiyah Boarding School. Artinya, sekolah umum Muhammadiyah dibuatkan asrama, lalu pelan-pelan wajib berasrama.  Materi keagamaan ditambah dan disesuaikan dengan kebutuhan persyarikatan. Di sini, para santri tidak hanya digembleng dengan ilmu umum, namun juga dilengkapi dengan pendalaman ilmu agama. Tentu saja tidak semua sekolah Muhammadiyah lalu dirubah menjadi Muhammadiyah Boarding School. Jika satu daerah minimal ada 1 Muhammadiyah Boarding School saja, itu sudah lumayan. Sukur-sukur bisa lebih dari satu.

 

  1. Pesantren Mahasiswa

Universitas Muhamamdiyah cukup banyak. Keberadaan universitas ini bisa dijadikan sarana efektif untuk kaderisasi dai. Apalagi jika di universitas tersebut ada jurusan keagamaan, seperti jurusan Pendidikan Islam, ushuluddin, syariah dan lain sebagainya.

 

Untuk pendalaman keagamaan, bisa dengan membuatkan asrama dan kemudian diberikan materi keagamaan. Bisa jadi kelak dari mereka, sambil mengamalkan spesialis ilmu yang mereka dalami, mereka bisa sambil berdakwah di masjid Muhammadiyah atau di tempat mereka bekerja. Meski tidak mendalami benar tentang materi keagamaan, namun pesantren mahasiswa bisa memberikan bekal cukup untuk sekadar menjadi dai Muhammadiyah. Saat ini sudah ada pesantren mahasiswa di beberapa universitas Muhammadiyah. Hanya saja, keberadaannya perlu dimaksimalkan kembali.

 

  1. PUTM

Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) merupakan bagian dari gerakan amal usaha Muhammadiyah yang mempunyai program khusus, yaitu mendidik dan mempersiapkan ulama’ tarjih Muhammadiyah yang memiliki kompetensi utama dalam mengembangkan keilmuan pada bidangtafaqquh fi ad-din, keulamaan, da’wah, pendidikan dan kepemimpinan Islami, yang mampu mengintegrasikan iman, ilmu dan amal. Prinsipnya, PUTM untuk mencetak ulama Muhammadiyah. jumlah PUTM di Muhammadiyah tidak hanya beberapa saja. Untuk itu, perlu ditingkatkan kuantitasnya.

 

  1. Pembentukan majelis tersendiri yang mengurusi pesantren. Selama ini, pesantren masih menginduk ke Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah. Padahal secara substansi dan karakter, pesantren berbeda dengan sekolahan.

 

Karena karakter pesantren berbeda dengan karakter sekolahan, maka para pengurus majelis baru ini harus dari para alumni pesantren. Mereka inilah yang tau jeroannya pesantren.

 

Dengan adanya majelis tersendiri yang mengurusi pesantren, diharapkan bisa mendorong kualitas dan kuantitas pesantren di lingkungan Muhammadiyah.

 

Lima poin di atas barangkali menjadi solusi alternatif untuk menanggulangi krisis dai dan ulama di Muhammadiyah.  kita sangat berharap muktamar kali ini bisa membawa perubahan besar di Muhammadiyah, terutama krisis dai dan ulama yang sedang melanda jamaah Muhammadiyah. wallahu alam.

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen − eleven =

*