Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Soal Koreksi Waktu Subuh, Prof. Tono Saksono; Teori Pak Thomas Djamaluddin Salah


Tono Saksono
ISRN-UHAMKA
11 September 2017

Melalui tiga orang kolega, di hari yang sama, saya menerima tanggapan atas tulisan saya di
Suara Publika pada 31/8/2017, dari Pak Thomas Djamaluddin (versi WA). Pada ketiga kolega ini,
langsung saya sampaikan bahwa saya segera tulis jawabannya, tapi akan saya kirim ke
Republika setelah tulisan Pak Thomas tersebut diterbitkan oleh Republika. Sampai hari ini,
11/9/2017, saya belum lihat tulisan Pak Thomas dimuat (mungkin saya terlewat?), maka saya
publikasikan saja balasan saya berikut.
1. Semua laporan hasil penelitian ISRN (Islamic Science Research Network) UHAMKA sampai saat
ini telah menggunakan sekitar 200 data riel yang diambil dari stasiun pengamatan di Depok dan
di OIF UMSU, Medan. Jadi, sebaiknya, dalam memberikan bantahan, Pak Thomas memberikan
hasil dengan menggunakan data riel, bukan cuma teori. Apalagi, teori yang diberikan juga salah
karena kontradiktif dengan teori-teori dari pakar Astronomi lainnya di dunia (lihat butir ke 7
sampai 9).
2. Untuk pemrosesan data SQM yang kami miliki, ISRN telah membangun empat algoritma.
Dengan menggunakan algoritma ini baik secara individu maupun kolektif (untuk mencari harga
weighted mean), tidak ada satu fakta saintifikpun yang mendukung bahwa fajar shadiq telah
muncul pada dip -20o

. Semuanya mengerucut pada angka -13o
(+/- 1.5o
) (untuk subuh) dan -11
(+/- 1.2) derajat untuk isya. Dari hasil 200 data tersebut, tidak ada satupun yang melebihi 3 kali
deviasi bakunya. Dengan demikian, sekitar 68.27% hasil hitungan kami berada pada rentang
statistik antara -14.5o dan -11.5o

(untuk subuh), dan pada rentang antara -12.2o dan -9.8o
(untuk

isya);
3. ISRN juga menggunakan alat All Sky Camera (ASC) untuk pemotretan panoramik 360 derajat
untuk memverifikasi kemungkinan hadirnya fajar pada dip -20o

. Dari beberapa citra ASC yang
kami proses dengan image processing, kami mendapati bahwa fajar shodiq malah sekitar 18
menit lebih lambat dari apa yang diperoleh melalui SQM. Kami masih mempelajari mengapa ini
bisa terjadi;
4. Pada 21 Agustus 2017, kami memberikan presentasi di depan para pakar yang diundang oleh
Jakarta Islamic Center (JIC). Dua hari kemudian, tim falakiyah JIC melakukan pemotretan di Pulau
Pramuka, Kepulauan Seribu. Berikut adalah kutipan laporan yang kami terima dari tim ini:
“Menindaklanjuti masalah masuknya waktu subuh, Tim Falakiyah Jakarta Islamic Centre telah
melakukan rukyatul fajar di pantai Timur Pulau Pramuka tadi pagi Rabu 23 Agustus 2017. Di
saat masjid Al Makmuriyah mengumandangkan adzan Subuh, tim mengamati seluruh langit
sebelah timur masih nampak gelap gulita, kecuali bintang-bintang yang bertebaran di langit.
Belum nampak adanya tanda-tanda hadirnya fajar baik Fajar Kadzib maupun Fajar Sidik. Tim
terus melakukan pengamatan yang disertai dengan foto-foto termasuk jam yang tercantum di
kanan bawah. Dari bukti foto di bawah bahwa pada pukul 05.15 baru muncul sinar tipis secara
berangsur-angsur, lalu pada pukul 05.20 baru nampak jelas garis ufuk yang mempertemukan
kaki langit dengan laut, dan baru tim ketahui di depan kurang lebih 100 meter ada mangrove

yang semula tidak diketahuinya karena terlalu gelap di saat adzan Subuh pukul 04.41. Dari
pengamatan itulah maka tim dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh Profesor Tono
dan Kyai Haji Agus 2 hari yang lalu di JIC”;
5. ISRN telah mengirimkan makalah terkait riset awal subuh ini ke Scientific Report (bagian dari the
Nature Publishing Group). Beberapa koreksi yang diinginkan oleh reviewer telah kami
laksanakan dan kami kririmkan kembali. Ini adalah salah satu komentar reviewer paper tersebut:
“The astronomical twilight, assumed to end with the Sun 18° below the mathematical horizon is
a save limit for residual twilight. I have measured at a variety of latitudes and never detected a
twilight component with the Sun more than 18° below horizon. Residual light (above the
standard values) under these conditions, especially in the tropics, which are of interest here are
most likely due to zodiacal light or the milky way or artificial sky brightening.”
6. Sebuah hadits dikutip sebagai berikut:

“Beliau selesai shalat subuh ketika seseorang mengenali teman duduknya, dan beliau membaca 60 hingga
100 ayat (Muttafaq ‘alaih; Abu Daud (66); Nasai (92); Thahawi (105), Ahmad (4/420, 423-425).
Selama tiga minggu, saya melakukan simulasi untuk hadits Rasul ini dengan mulai sholat pada
dip -13o
(52 menit sebelum syuruq, listrik dipadamkan saat mulai shalat). Jika saat shalat subuh
sendiri saya membaca sekitar 100 ayat, maka saya memerlukan waktu sekitar 26 menit
(termasuk: sholat qabliah, subuh, dan dzikir). Saat selesai, saya dapat membedakan jenis-jenis
pohon di samping dan depan rumah. Ini tidak mungkin terjadi jika saya mulai melakukan
rangkaian sholat subuh (qabliyah) saat Matahari masih pada dip -20 derajat. Karena perbedaan
antara dip -20 derajat ke dip -13 derajat adalah sekitar 28 menit. Pada dip -13 derajat, jelas
masih gelap karena nilai magnitudonya masih sekitar +16;
Jadi, sebaiknya Pak Thomas berikan saja data empiriknya yang membuktikan fajar shodiq telah
muncul pada dip -20 derajat. Saya akan cukup puas jika Pak Thomas menggunakan 100 data
pengamatan riel saja, namun jelas statistical measure-nya. Jangan hanya pakai 11 data seperti
ketika merubah kriteria IR MABIMS dari 2-3-8 menjadi 4-6.4. Jangan juga hanya
membandingkan dengan teori astronomi yang dibangun puluhan atau ratusan tahun lalu, dan
teori inipun ternyata salah karena kontradiksi dengan teori yang saya sebutkan berikut ini:
7. Sebuah situs Astronomi Terapan yang sangat prestisius, www.timeanddate.com yang berbasis di
Norwegia, menulis: The length of twilight depends on latitude. Equatorial and tropical regions
tend to have shorter twilights than locations on higher latitudes.
8. Pada 7 November 2012, Institute of Astronomy, University of Cambridge menerbitkan jawaban
atas pertanyaan seorang Muslim Inggris yang bertanya tentang terbitnya fajar untuk memulai
puasa (http://www.ast.cam.ac.uk/public/ask/2445). University of Cambridge adalah salah satu
universitas terbaik di dunia. Meskipun tidak jelas siapa yang memberi jawaban atas pertanyaan
berikut, namun, Prof. Stephen Hawking ada di Institute ini. Jadi, orang yang memberikan
jawaban mustinya bukan ahli Astronomi sembarangan:
Pertanyaan:

As you may know the Holy month of Ramadan is approaching and as a Muslim I am going to
observe the fasts in this one month. However Similar to last year there is many conflicting
opinions on when the fast should close. For this reason I have decided to make my own enquiries
and get external information. We have to close our fast when there is some light in the sky. Some
Scholars are saying that is when the sun is below the horizon at 18degrees and others are saying
12 or 15degrees. This is causing great confusion. Can you please clarify this …
Jawaban:
The confusion I’m afraid is because unlike sunrise and sunset it is difficult to properly define
‘twilight’. There are three rough ‘bands’ of twilight that are generally agreed upon, civil twilight
– the sun is less than 6 degrees below the horizon, nautical twilight – the sun is between 6 and 12
degrees below the horizon, and astronomical twilight – the sun is between 12 and 18 degrees
below the horizon. Civil twilight is what most people would think of as ‘twilight’, and at the start
of which is when you would see the characteristic reflected red-orange glow from high clouds,
there is generally still enough light to see by and the horizon is clearly visible. Most people would
likely think of nautical twilight as being ‘darkness’, in that bright stars will be visible and it would
be difficult or impossible to tell which direction is East or West simply by looking for the glow of
the sun below the horizon, at the start/end of nautical twilight when the sun is 12 degrees below
the horizon even the horizon itself will be indistinct and for almost all intents it is completely
dark. Even after this though there will still be enough scattered sunlight around that it is not
ideal for observing faint, diffuse, objects like nebulae until the sun is more than 18 degrees below
the horizon.
I expect that for your purposes nautical twilight would be quite sufficient and that civil twilight
is probably adequate, but that is something that you should decide for yourself.
9. Astronom Mesir, Hassan dkk. melakukan pengamatan fenomena twilight pagi menggunakan
mata telanjang. Mereka melakukannya selama 4 tahun di Tubruq, Libya, dan 4 tahun di Mesir
(Baharia, Matrouh, Kottamia, dan Aswan). Hasilnya dip di wilayah-wilayah tersebut adalah –
14.7o
. Jadi, kalau ISNA untuk Amerika Utara yang terletak di lintang 45o

-47o memperoleh dip –

15o
, Hassan memperoleh dip -14.7o di lintang 27o di Timur Tengah, dan ISRN memperoleh dip –
13o di wilayah khatulistiwa, ini tampaknya konsisten dengan teorinya www.timeanddate.com
pada butir 7 di atas. Jadi teori Anda dip di Indonesia -20o

itu sungguh absurd.

Jadi sekali lagi, tolong Pak Thomas bantah hasil penelitian ISRN dengan menggunakan data
empirik yang riel. Kalau perlu, kita saling bertukar data. Silahkan proses data yang kami miliki,
dan izinkan kami memproses data yang Anda miliki. Kita bandingkan algoritma dan hasilnya.
Baru kita membandingkan apple to apple. Terima kasih.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open