Thursday, December 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Skeptis Dalam Perkara Akidah


Seri Syarah HPT Bab Iman.
Artikel ke-41

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.
Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa Imam Ghazali menjadikan skeptis metodologis sebagai epistemologi untuk mendapatkan kebenaran. Dalam kitab mizanul amal, Imam Ghazali menyatakan sebagai berikut:
إذ الشكوك هي الموصلة للحق فمن لم يشك لم ينظر، ومن لم ينظر لم يبصر، ومن لم يبصر بقي في العمى والضلالة

Sesungguhnya ragu merupakan jalan menuju kebenaran. Barangsiapa yang tidak pernah ragu, maka ia belum menatap, barangsiapa yang belum menatap, bearti dia belum melihat,dan barang siapa yang belum pernah melihat, bearti ia selalu dalam kebutaan dan kesesatan.
Pernyataan Ghazali tersebut berlaku dalam semua urusan, termasuk dalam bab akidah. Bahkan jika kita buka kitab al-Munqidz Minadhalal yang ditulis pasca beliau menghadapi kebingungan sampai seperti kaum sopies, yang beliau teliti terlebih dahulu adalah persoalan yang terkait dengan akidah. Perhatikan kalimat berikut ini:
“Aku melihat bahwa anak seorang yang beragama Kristen, jika besar selalu beragama menjadi Kristen. Anak orang yang beragama Yahudi, jika besar ia juga menjadi pengikut agama Yahudi. Demikian juga anak muslim, setelah besar menjadi seorang muslim.
Aku teringat hadis nabi muhammad berikut:
كل مولودٍ يولدُ على الفطرةِ، فأبواهُ يُهودانه، وينُصرانه، ويُمجِّسَانه
Artinya: “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Kasus di atas menjadikan aku berfikir ulang, sehingga aku mulai mencari kebenaran tentang fitrah itu, serta keyakinan seseorang yang selalu mengikuti orang tua dan gurunya. Saya coba untuk membedakan antara sikap taklid yang awalnya bermula dari warisan. Aku ingin bisa membedakan antara yang hak dan batil.
Di atas adalah pernyataan Ghazali. Di bab-bab awal kitab al-Munqidz Minaddalal, kajian pertama terkait dengan ilmu kalam yang berhubungan erat dengan ilmu akidah. Beliau menyatakan bahwa untuk memperdalam ilmu kalam, beliau banyak membaca buku karya ulama terdahulu. Beliau sampai paham benar terkait dengan seluk-beluk ilmu kalam. Bahkan beliau banyak menulis buku-buku yang terkait dengan ilmu kalam.
Menurut Ghazali, tujuan dari ilmu kalam ahli sunnah wal jamaah adalah untuk menjaga akidah Islam agar selalu selaras dengan apa yang dikehendai Nabi Muhammad saw. Ilmu kalam ahli sunnah dijadikan sarana untuk membersihkan akidah umat dari berbagai paham menyimpang dan aliran sesat dari kalangan ahli bidah. Menurut Ghazali, dengan mengikuti akidah yang benar, dalam hal ini akidah ahli sunnah wal jamaah, maka manusia akan selamat baik di dunia maupun di akhirat.
Hanya saja, bahasa ilmu kalam sangat mendetail dan rumit. Menurutnya tidak semua orang bisa mengerti terkait dengan detail-detail bahasan ilmu kalam. Untuk memperdalam ilmu ini, membutuhkan piranti logika yang kuat guna mempertahankan argumen pendapatnya. Selain itu, logika tadi, juga dijadikan sebagai sarana untuk mencounter berbagai pendapat lawan.
Ghazali sendiri tidak menafikan bahwa sebagian orang dapat menemukan kebenaran melalui ilmu kalam ini. Hanya saja, ia bukan manhaj yang dapat diterima semua kalangan. Ia menjadi kajian yang sifatnya terlalu elitis.
Selanjutnya Ghazali membahas tentang kebenaran para filsuf. Di situ, Ghazali membagi beberapa aliran para filsuf, sepert ialiran dahriyun, tabiiyun, dan ilahiyyun. Pertama, dahriun adalah aliran filsafat yang sekadar membahas alam fisik keluar dari alam metafisik. Alam ada secara kebetulan dan berjalan secara mekanis.
Kedua, aliran tabi’iyun, yaitu mereka yang mengkaji alam fisik, dan mengaitkan dengan alam metafisik. Mereka mengakui Tuhan sebagai pencipta alam raya. Sayangnya, pengakuan mereka tentang Sang Pencipta tidak berlanjut pada hal lain. Mereka tidak mempercayai hari kiamat, surga neraka dan lain sebagainya.
Ketiga adalah filsuf ilahiyun, yang juga berbicara terkait alam fisik yang dikaitkan dengan alam metafisik. Mereka percaya dengan Tuhan. Hanya saja, mereka menganggap bahwa Tuhan tidak mengetahui atas persoalan partikular, menganggap bahwa alam qadim, dan kelak manusia dibangkitnya secara rahani saja. Filsafat ilahiyun ini yang mulanya berasal dari Yunan, diikuti oleh para filsuf muslim seperti Ibnu Sina, Al-Farabi dan lain sebagainya. Pemikiran mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Aristoteles.
Imam Ghazali dalam buku tersebut juga berbicara tentang aliran Batiniyah, serta mencounter berbagai pendapat menyimpang yang terdapat dalam pemikiran dan akidah mereka. Imam Ghazali mengumpulkan dan merapikan pendapat-pendapat nyleneh mereka, lalu memberikan counter secara ilmiah. Sikap al-Ghazali yang mengumpulkan pendapat nyleneh aliran Batiniyah, terutama terkait dengan persoalan akidah, banyak diprotes rekan-rekannya. Mereka khawatir bahwa dengan ini, Ghazali dianggap berperan dalam menyebarkan aliran pemikiran dan akidah batiniyah. Setidaknya, Ghazali menjadi informan atas pemikiran mereka. Hanya saja, hal ini dianggap hal lumrah oleh Ghazali. Ia pun tidak khawatir orang membaca pikiran dan akidah Batiniyah karena selain menguraikan dan pencantumkan pendapat mereka, Ghazali juga memberikan counter ilmiah.
Terakhir, Ghazali bicara tasawuf dan makrifat Tuhan serta keimana dari kacamata ilmu tasawuf. Ilmu ini, menurut Ghazali didapat dari mujahadah dan riyadhah. Pada waktunya, Allah akan memberikan ilmu pengetahuan yang sifatnya wijdani, atau ilham.
Jika kita teliti, semua bahasan dalam kitab al-Munqidz Minaddalal, terkait erat dengan keyakinan dan akidah. Hal ini, karena akidah adalah hal paling prinsipil dalam kehidupan umat manusia. Jika akidah benar, maka kehidupan manusia, baik di dunia dan akhirat akan benar. Jika salah, maka kehidupan dia di dunia dan akhirat juga akan salah. Ia akan mengalami kesengsaraan abadi.
Jika kita perhatikan, Ghazali melakukan nazhar, dan bersikap skeptis atas kebenaran, bukan saja terkait dengan berbagai pemikiran dan filsafat yang berkembang di zamannya, namun juga bersikap skeptis terhadap persoalan akidah. Hanya saja, skeptis di sini adalah skeptis metodologis, yaitu skeptis sebagai epistem dan pisau analisis temporal guna menghasilkan kebenaran yang sebenarnya.
Imam Ghazali sebagaimana di mukadimah kitab, mengatakan bahwa ia sampai derajat skeptis faktual, atau ragu atas segala sesuatu. Bahkan ia sampai menyatakan bagai orang sopis. Hanya saja, secara lisan ia tidak demikian. Artinya bahwa secara lisan, ia tetaplah muslim. Ia tetap mengakui Allah sebagai Tuhan, nabi Muhammad saw sebagai nabi terahir dan semua ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah benar dan harus diikuti. Imam Ghazali tetap melaksanakan semua rukun Islam dan percaya dengan rukun iman.
Artinya, sebuah kesalahan besar tatkala seseorang menyatakan bahwa ia dalam proses pencarian kebenaran, proses riset dan sedang skeptis atas semua kebenaran, lalu ia tidak menjalankan hukum syariat. Ia tidak shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya. Tidak dibenarkan orang yang mengadakan penelitian, lantas melepaskan akidahnya secara mutlak, dengan dalih untuk menjamin obyektifitas. Jika ini dia lakukan, maka ia dianggap telah keluar dari Islam. Ia menjadi orang kafir.
Selain itu, tetkala Ghazali melihat imannya para muqallid, dengan menyatakan bahwa orang muslim terlahir dalam keadaan Islam, karena mengikuti jejak orang tuanya. Bagi Ghazali, iman mereka tetap dianggap sah. Hal ini karena setiap manusia mempunyai tingkatan pengetahuan yang bermacam-macam.
Dalam kitab lujjamul Awwam fi ilmil kalam, imam Ghazali membagi manusia menjadi dua, yaitu kalangan intelektual dan kalangan awam. Nazar dengan bermula dari sikap skeptis, hanya diwajibkan bagi kalangan intelektual saja, dan bukan kalangan awam. Bahkan orang awam dilarang untuk belajar ilmu kalam. Hal ini, karena ilmu kalam bukanlah ilmu pengetahuan sederhana yang bisa dipahami semua orang. Jika orang awam yang tidak mempunyai latar belakang keilmuan yang memadai, ilmu kalam akan berbalik kepadanya dan menjadikan ia bingung serta ragu, bukan sebaliknya. Tentu ini membuat mudarat bagi dirinya.
Untuk kalangan intelektual, nazhar yang bermula dari sikap skeptis ini penting, karena tatkala ia memperoleh kebenaran, maka ia akan memperjuangkan kebenaran sebpenuh hati. Dalam sejarah, banyak sekali manusia yang mengorbankan jiwa raganya demi mempertahankan kebenaran yang ia yakini. Hal ini bisa kita lihat dengan tukang sihir dari para pengikut Firaun. Awalnya mereka kafir dan menjadi pendukung setia Firaun. Lantas datang nabi Musa dengan membawa mukjizat yang benar. Pada akhirnya, mereka ragu dan skeptis atas keyakinan yang mereka anut. Setelah melalui nazhar dan sikap skeptis tersebut, mereka pindah haluan dan berbalik percaya dengan Tuhan seperti yang disembah oleh Nabi Musa.
Mereka mendapatkan ancaman dan intimidasi luar biasa dari Firaun. Tubuh mereka akan dimultilasi dan digantung di atas pohon kurma. Namun ancaman Firaun ini ternyata tidak dapat menggoyahkan keyakinan mereka. Ya, karena mereka telah yakin atas kebenaran. Mereka tetap teguh pendirian dan mempertahaknkan keimanan, meski pada ahirnya mereka dihukum mati dengan dimultilasi oleh Firaun.
Dalam al-Quran, banyak sekali Allah memberikan bukti-bukti kebenaran kepada kaum kafir Quraisy agar melakukan nazhar. Hal ini diharapkan akan berimplikasi kepada sikap mereka dalam memandang kebenaran. Dengan bukti-bukti tersebut, diharapkan agar mereka meragukan atas kebenaran yang selama ini mereka yakini yang berasal dari keyakinan nenek moyang. Lantas dengan bukti kebenaran, mereka berpindah hati, dengan percaya secara penuh kepada Tuhan yang maha kuasa. Di antara ayat-ayat yang menerangkan tentang nazhar tersebut adalah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٢

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. () Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, pada hal kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah:21-22)

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ

Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedangkan mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. (QS. Al-Anbiya 21: 32).

قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64)

Kesimpulannya, skeptis Ghazali juga berlaku pada persoalan keyakinan. Skeptis itu sifatnya temporal dan metodologis. Skeptis seperti ini, hanya dalam kondisi faktual dan bukan lisan. Ia tetap menjalankan seluruh ajaran Islam.
Skeptis terus-menerus dilarang oleh agama dan harus dihindari. Orang yang percaya dan beriman dengan ajaran Islam, atau muslim turunan, tetap dianggap sah. Orang yang melepaskan keyakinan dan akidahnya dengan dalih sedang riset agar lebih obyektif dan guna mencari kebenaran, adalah salah dan ia dianggap telah murtad. Wallahu a’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open