Wednesday, April 24, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sisi Maqashid Suksesi Pertama Kepemimpinan Islam

Setelah Rasulullah saw wafat, kaum muslim bermusyawarah di Madinah untuk mencari pengganti Rasulullah saw yang dapat memimpin umat Islam. Kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di Saqifah bani Sa’idah. Di sana terjadi perdebatan panjang terkait siapa yang berhak untuk menjadi khalifah. Masing-masing kubu, baik dari Muhajirin atau Anshar mengajukan calonnya masing-masing disertai dengan argumentasi politik mereka. Kaum Anshar sendiri mencalonkan Said bin Ubaidillah. Ia adalah pemuka dari suku al-Khajraj.

Dalam kondisi tersebut Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah menyampaikan pendapatnya terkait pemimpin yang layak menjadi khalifah. Bagi mereka, yang paling berhak untuk menjadi khalifah pasca Rasulullah saw wafat, adalah utusan dari kaum Muhajirin. Hal ini mengingat bahwa kaum Muhajiri yang membela Rasulullah saw sejak awal. Kaum Muhajirin yang menerima siksaan, cacian dan tekanan luar biasa dari kaum Qurasiy saat awal-awal dakwah Islam. kaum Muhajirin yang setia mendampingi Rasulullah saw dalam perjuangan Islam pertama yang sangat berat dan penuh dengan rintangan.

Pendapat kaum Muhajirini ini mendapat pertentangan dari al-Hubab bin munzir dari kalangan Anshar. Bagi mereka, kaum anshar lebih berhak. Kaum anshar yang menolong Rasulullah saw tatkala beliau melaksanakan hijrah ke Madinah. Kaum anshar yang memberikan tempat bernaung bagi Rasulullah saw dan para sahabatnya dari kalangan Muhajirin.

Di tengah perdebatan sengit tersebut, Abu Bakar mengajukan dua calon khalifah yaitu Abu Ubaidah bin Zahrah dan Umar bin Khattab, namun kedua tokoh ini menolak usulan tersebut. Terjadi perdebatan yang sangat alot antara kaum Muhajirin dengan Anshar. Kedua kelompok merasa paling berhak untuk menduduki pimpinan tertinggi bagi umat Islam. keduanya sama-sama mengajukan argumentasi politik terkait jasa mereka semasa Rasulullah saw masih berada di tengah-tengah mereka. Dengan mengungkap kedekatan dan jasa mereka tersebut, diharapkan salah satu dari dua kelompok dapat bersikap legowo dan mau menerima kepemimpinan dari kelompok lain. Namun ternyata, hal ini tidak terjadi. Keduanya tetap sama-sama bersikukuh untuk menjadi pemimpin umat.

Jika hal ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif bagi umat Islam. bisa saja, terjadi perpecahan yang membahayakan dan merugikan umat Islam secara keseluruhan. Perpecahan politik, yang memang tidak semestinya terjadi. Melihat kondisi tersebut, Umar bin Khattab segera maju ke depan. Beliau tidak ingin memperpanjang persoalan di kalangan umat Islam. Dengan suara yang sangat lantang, beliau berdiri lalu membaiat Abu Bakar untuk menjadi khalifah bagi kaum muslimin. Sikap Umar tersebut lantas diikuti oleh Abu Ubaidah dari kalangan Muhajirin. Kemudian proses pembaiatanpun berlanjut dan dilakukan oleh sahabat lainnya seperti Basyir bin Saad beserta mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut. Kaum Muhajirin yang pada awalnya menginginkan khalifah dari kubu mereka, pada akhirnya juga mengikuti jejak kaum Muhajirin dan memberikan baiat kepada Abu Baar ash-Shidik. Sejak itu, resmilah Abu Bakar menjadi khalifah kaum muslimin.

Di manakah posisi ijtihad maqashidi dalam pemilihan khalifah di atas? Poin yang dapat kita lihat adalah sikap Umar bin Khatab yang berijtihad untuk memilih Abu Bakar sebagai khalifah. Di antara alasan yang disampaikan oleh Umar bin Khatab adalah perintah nabi Muhammad saw yang meinta Abu Bakar ash-Shidiq untuk menjadi Imam shalat menggantikan posisi Rasulullah saw sewaktu beliau sakit keras. Perintah Rasulullah saw tersebut menjadi isyarat bahwa Abu Bakar merupakan orang yang paling layak untuk menjadi pemimpin umat Islam menggantikan Rasulullah saw. Pemimpin dalam Islam, bukan sekadar kewajiban dunia, namun juga tanggungjawab agama. Imam shalat, menjadi salah satu indikasi tersebut.

Berikut hadis yang menjadi dalil dan sumber ijtihad maqashidi para sahabat dengan memilih Abu Bakar sebagai khalifah:

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَقُلْتُ لَهَا : أَلَا تُحَدِّثِينِي عَنْ مَرَضِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَتْ : بَلَى ، ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ ، فَأَفَاقَ فَقَالَ : ” أَصَلَّى النَّاسُ ؟ ” فَقِيلَ : لَا ، هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَالنَّاسُ عُكُوفٌ لِصَلَاةِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ ، قَالَتْ : فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ، فَأَتَى الرَّسُولُ فَقَالَ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ، قَالَتْ : فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَكَانَ رَجُلًا رَقِيقًا : يَا عُمَرُ صَلِّ بِالنَّاسِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : أَنْتَ أَحَقُّ بِذَلِكَ قَالَ : فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ بِهِمْ ، ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ بَيْنَ رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا الْعَبَّاسُ لِصَلَاةِ الظُّهْرِ وَأَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فَلَمَّا رَآهُ أَبُو بَكْرٍ ذَهَبَ لِيَتَأَخَّرَ ، فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا يَتَأَخَّرَ وَقَالَ لَهُمَا : ” أَجْلِسَانِي إِلَى جَنْبِهِ ” . فَأَجْلَسَاهُ إِلَى جَنْبِ أَبِي بَكْرٍ فَجَعَلَ أَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي وَهُوَ قَائِمٌ بِصَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ ، قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ : فَدَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ فَقُلْتُ : أَلَا أَعْرِضُ عَلَيْكَ مَا حَدَّثَتْنِي بِهِ عَائِشَةُ عَنْ مَرَضِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : هَاتِ فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ حَدِيثَهَا فَمَا أَنْكَرَ مِنْهُ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ : سَمَّيْتَ الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ مَعَ الْعَبَّاسِ قَالَ : قُلْتُ : لَا قَالَ : فَهُوَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا .

Diriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah r.a.: Saya mendatangi ‘Aisyah r.a., saya berkata kepadanya, “Sudikah engkau menceritakan tentang sakit Rasulullah saw?” Dia menjawab, “Ya, setelah Nabi SAW sakit parah, beliau bertanya, ‘Apakah orang orang sudah shalat?’ Kami menjawab, ‘Belum, mereka sedang menunggu engkau wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Ambilkan air untukku di bejana itu!’

Kami pun melaksanakannya, lalu beliau mandi. Setelah itu, beliau berusaha untuk bangun, tetapi beliau pingsan. Setelah siuman, beliau bertanya, ‘Apakah orang orang sudah shalat?’ Kami menjawab, ‘Belum, mereka sedang menunggu engkau wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Ambilkan air untukku di bejana itu!’

Kami pun melaksanakannya, lalu beliau mandi. Setelah itu, beliau berusaha bangun, tetapi beliau pingsan kembali. Setelah siuman, beliau bertanya, ‘Apakah orang orang sudah shalat?’ Kami menjawab, ‘Belum, mereka sedang menunggu engkau wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Ambilkan air untukku di bejana itu!’

Kami pun melaksanakannya, lalu beliau mandi. Setelah itu beliau berusaha untuk bangun, tetapi beliau pingsan kembali. Setelah siuman, beliau bertanya, ‘Apakah orang orang sudah shalat?’ Kami menjawab, ‘Belum, mereka sedang menunggu engkau wahai Rasulullah.'”

‘Aisyah berkata, “Waktu itu orang orang sedang berdiam di masjid menunggu Rasulullah saw mengerjakan shalat isyanya yang terakhir. Lalu Rasulullah SAW mengutus seseorang kepada Abu Bakar agar dia mengimami orang orang shalat berjamaah. Utusan itu pergi kepadanya dan memberitahukan bahwa Rasulullah saw memerintahkannya untuk mengimami orang orang shalat berjamaah. Lalu Abu Bakar r.a., seorang yang sangat halus perasaannya, berkata, ‘Wahai ‘Umar, shalatlah bersama orang orang menjadi imam!’ ‘Umar berkata, ‘Engkaulah yang lebih berhak menjadi imam.’

Lalu Abu Bakar menjadi imam dalam beberapa hari itu. Setelah Rasulullah saw merasa sakitnya berkurang, beliau menuju masjid dengan dipapah oleh dua orang laki laki, salah satunya ‘Abbas, untuk mengerjakan shalat zuhur, sedangkan Abu Bakar waktu itu sedang mengimami orang orang shalat berjamaah. Setelah Abu Bakar melihat beliau, dia mundur dari tempatnya, tetapi Nabi SAW memberi isyarat agar dia tetap di tempatnya. Lalu beliau berkata kepada dua orang yang memapahnya agar beliau didudukkan di samping Abu Bakar. Lalu beliau pun didudukkan di samping Abu Bakar, ketika itu Abu Bakar berdiri mengikuti shalat Nabi SAW, orang orang mengikuti shalat Abu Bakar, sedangkan Nabi SAW mengerjakan shalat sambil duduk.”

‘Ubaidullah berkata, “Saya menemui ‘Abdullah bin Abbas r.a dan berkata kepadanya, ‘Maukah saya sampaikan kepada engkau mengenai cerita ‘Aisyah tentang sakit Nabi saw?’ Dia menjawab, ‘Ya, sampaikanlah kepadaku!’ Lalu saya ceritakan hadits ‘Aisyah itu kepadanya, tetapi dia sama sekali tidak menyangkalnya, tetapi dia berkata, ‘Apakah ‘Aisyah menyebutkan nama orang yang bersama ‘Abbas itu?’ Saya menjawab, ‘Tidak.’ ‘Abdullaj bin Abbas berkata, ‘Dia adalah ‘Ali  r.a.'”  (HR. Muslim)

Proses pengangkatan Abu Bakar ra, sebagai khalifah pertama, menunjukkan betapa pentingnya umat Islam mempunyai satu pucuk pemimpin. Para sahabat sangat serius dalam melakukan suksesi kepemimpinan dengan sistem musyawarah yang sangat terbuka. Para sahabat memberikan teladan politik moral yang sangat berharga bagi kita umat Islam. Pemilihan kepemimpinan didasarkan pada sisi maslahat, kualitas keagamaan dan kemampuan mengelola masyarakat secara profesional. Apalagi waktu itu, negara Islam sedang dalam posisi berat. Banyak wilayah yang memerdekakan diri dan tidak tunduk pada negara Madinah. Banyak pembesar suku yang mengaku sebagai nabi dan lepas dari kepemimpinan khalifah Islam. dalam rentang yang tidak lama, yaitu kisaran dua tahun, Abu Bakar teruji dan mampu menyelesaikan persoalan berat tersebut secara baik dan mengagumkan.

Proses pemilihan juga menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam, bukanlah melihat dari sisi garis keturunan dan kekeluargaan. Meski Ali bin Abi Thalin karamallahu wajhah adalah orang yang sangat dekat dengan Rasulullah saw dan merupakan kerabat nabi, namun tidak secara otomatis beliau menjadi khalifah bagi umat Islam. Para sahabat tetap bermusyawarah dengan melakukan debat terbuka untuk menentukan pemimpin ideal yang dapat mengayomi umat.

Artinya bahwa seorang putra presiden, atau pendiri partai politik, atau saudara dan keluarga presiden, tidak serta merta bisa diajukan untuk menjadi pemimpin bangsa. Semua harus melalui mekanisme yang berlaku, yaitu musyawarah dengan standar kompetensi yang memadai. Inilah sistem suksesi yang dicontohkan oleh para sahabat. Suksesi penuh moral yang menjadi teladan umat sepanjang zaman. Suksesi yang penuh kejujuran, jauh dari intrik politik dan kepentingan individu. Jauh dari pencitraan, politik uang, menghancurkan karakter lawan, menyebar berita palsu atau lainnya. Suksesi yang damai tersebut, pada ahirnya membawa berkah bagi umat Islam secara keseluruhan.

Hal ini karena para sahabat menyadari bahwa kepemimpinan, bukan sekadar upaya untuk meraih kekuasaan. Kepemimpinan adalah sebuah amanah berat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Pemimpin membawa tanggungjawab besar terhadap semua rakyat yang dia pimpin. Jika ia dapat bersikap adil, maka jaminannya adalah surga sebagaimana sabda nabi Muhammad saw berikut ini:

: عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Ada tujuh golongan orang yang akan mendapat perlindungan dari Allah (pada hari kiamat) di mana pada hari itu tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya. Salah satu dari ketujuh orang tersebut adalah pemimpin yang adil.”

 

Namun sedikit ia tergelincir dan melakukan tebang pilih, cepat memanjarakan orang yang tidak sependapat dengannya, sementara di sisi lain, membiarkan pelaku kejahatan, atau melepas koruptor kakap yang keluar dari nilai keadilan, maka proses pertanggungjawaban kelak di akhirat sangat berat. Jika tidak ada ampunan dari Yang Maha Kuasa, maka ia dapat masuk neraka karena sikap ketidakadilan yang dia lakukan di dunia. Ketidak adilan ini muncul, seringkali karena ketidaksukaan kita kepada seseorang atau lawan politik. Padahal perbedaan pandangan dalam politik, adalah sesuatu yang lumrah. Pemimpin, harus tetap adil, tanpa pandang bulu dan tebang pilih. Firman Allah:

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلا تَعْدِلُوا

Artinya: “Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil.”

Jangan sampai menjadi pemimpin, hukum tumpul ke atas, sementara tajam ke bawah, Jika ini menjadi karakter suatu pemimpin, maka itu bertanda bahwa kepemimpinan tidak akan lama. Kepemimpinan seperti ini, akan hancur dengan sendirinya. Pemimpin yang tidak adil, dan hanya menerapkan hukum kepada kaum lemah dan lawan politik, sama halnya membuat kuburan untuk diri sendiri. terkait hal ini, Rasulullah saw bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ

Artinya: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya yang membuat rusak orang-orang sebelum kalian adalah, ketika orang-orang terpandang mencuri, mereka tidak menghukumnya, sementara jika orang-orang yg rendahan dari mereka mencuri mereka menegakkan hukuman had.”

Pemimpin bukan sekadar mengurusi perkara dunia. Ibnu Khaldu, Ibnu Taimiyah, Imam Mawardi dan para fuqaha lainnya bersepakat bahwa pemimpin punya tugas untuk mengurus agama dan dunia. Oleh karena itu, memilih pemimpin, harus mempertimbangkan dua haltersebut. Dalam Islam, tidak ada pemisahan antara pemimpin dunia dengan akhirat. Pemimpin pada hakekatnya adalah upaya untuk membahagia dan mensejahterakan rakyatnya, di dunia dan akhirat.

 

Inlah sesungguhnya sisi maqashid dari suksesi tersebut, yaitu maslahat dunia dan akhirat. Sisi ini, yang sekarang hilang dari belantara perpolitikan tanah air. Suksesi kepemimpinan tidak lagi mengedepankan politik moral, tidak mementingkan kemaslahatan dunia dan akhirat, namun sekadar melihat dari sisi prakgmatis semata. Partai politik banyak disusupi oleh sistem politik uang. Mengusung bakal calon, lebih melihat pada sisi kemungkinan kemenangan jagoan, lepas apakah bakal calon yang kita usung jauh dari agama atau tidak. Lepas pula dari pertimbangan, apakah bakal calon tersebut mempunyai kualitas keilmuan dan kemampuan kepemimpinan atau tidak. Yang dikedepankan adalah sisi “menjual” dengan membentuk sebuah pencitraan yang memuakkan.

Antar sesama kelompok, terkadang saling serang hingga menohok pada sisi-sisi pribadi yang tidak layak untuk diekspos di masyarakat. Lebih fatal lagi, saling fitnah, caci maki, dan menebar berita hoak. Tentu suksesi seperti ini tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat nabi yang mempunyai jiwa moral tinggi. Sistem suksesi yang penuh kejujuran dan mengedepankan sisi maslahat dunia dan akhirat. Pemilihan Khalifah Abu Bakar menjadi pealajaran bagi kita, bagaimana para sahabat melihat sisi maqashid dalam menentukan pilihan mereka untuk menentukan pemimpin umat.

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 

Comments

comments

 border=
 border=