Saturday, October 19, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sifat-sifat Allah

Syarah HPT Bab Iman
Artikel ke: 55

 

الْحَىُّ القَيُّوْمُ ( 9)السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ( 10 ) وَهُوَ عَلَى آُلَِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ( 11 إِنَّمَا اَمْرُهُ اِذَا اَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ آُنْ فَيَكُوْنُ ( 12 ) وَهُوَ عَلِيْمٌ بِمَايَفْعَلُوْنَ ( 13 ) اَلْمُتَّصِفُ بِالْكَلاَمِ وَآُلِّ آَمَالٍ. المُنَزَّهُ عَنْ آُلِّ نَقْصٍ وَمُحَالٍ ( 14 ).( يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ. بَِيَدِهِ اْلأَمْرُ آُلُّهُ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ ( 15

(9). Yang mendengar dan yang melihat (10). Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu (11). Perihal-Nya apabila ia menghendaki sesuatu Ia firmankan: “Jadilah”! maka
jadilah sesuatu itu (12). Dan dia mengetahui segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari sifat mustahil dan segala kekurangan (14). Dialah yang menjadikan sesuatu menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada ditangan-Nya dan kepada-Nya akan kembali (15).
sifat/si•fat/ n 1 rupa dan keadaan yang tampak pada suatu benda. Artinya bahwa dengan sesuatu yang nampak itu, kita bisa mengetahui tentang sesuatu yang melekat pada benda. Sifat ini juga bisa berlaku pada seseorang. Artinya, dengan melihat perilaku dan sesuatu yang nampak pada dirinya, kita dapat memberikan sifat pada seseorang tersebut. Jadi sifat adalah sesuatu yang dapat memberikan pemahaman dan pemaknaan atas sesuatu yang lain. Ketika kita mengatakan bahwa seseorang dermawan, dermawan adalah sifat atas seseorang. Dengan ungkapan itu, kita bisa memahami bahwa orang adalah suka memberi bantuan kepada orang lain. Ketika kita mengatakan bahwa seseorang berilmu, maka kita dapat mengetahui bahwa ia mnempunyai ilmu. Sifat tadi, memberikan keterangan dan pengertian kepada orang tadi.
Allah sebagai Tuhan pencipota alam, juga mempunyai sifat-sifat. Bagaimana kita bisa mengethaui sifat allah sementara allah adalah dzat yang maha gaib? Tentu saja kita dapat mengetahui sifat-sifat Allah tersebut dari kitab suci dan sunnah nabi Muhammad saw. Artinya kita mengetahui sifat allah melalui nas. Itu pun tidak semua nas. Hanya nas yang mutawatir saja yang dapat dijadikan sebagai sandaran. Hal ini karena sifat allah terkait erat dengan akidah, sementara bagi ulama kalam dan juga Muhammadiyah, seperti yang termuat dalam HPT hanya menerima berita mutawatir untuk urusan akidah.
Dalam al-Quran adalah kitab Allah yang sifatnya mutawatir dan qat’i. Di dalam al-Quran, Allah banyak menyebutkan mengenai sifat-sifat-Nya seperti dalam firman Allah:
ان الله سميع عليم
Pada ayat di atas, ada ada dua sifat yaitu:
سميع
عليم
قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. Ar-Ra’d: 16)
Ayat di atas menunjukkan bahwa allah adalah pencipta segala sesuatu. Ini menunjukkan bahwa allah adalah maha pencipta.
Semua sifat tersebut, menunjukkan mengenai kemahasempurnaan Allah swt. Dengan itu, manusia hendaknya menyadari mengenai segala kekurangan yang ada pada dirinya. Oleh karenanya, manusia hendaknya hanya menyembah Tuhan yang maha esa dan mempunyai kesempurnaan. Hanya kepada Allah, tempat manusia berserah diri dan menggantungkan segala urusan.
Jika kita membuka kitab karya Imam Asyari, seperti kitab al-Luma dan fi raddi ala ahli az-Zaigh wal bida’, Risalatu ila Ahli at-Tsaghri dan kitab al-Ibanah, kita akan menemukan bahwa imam Abu Hasan al-Asyari di awal-awal kitab menyebutkan mengenai sifat-sifat Allah. Hanya memang beliau tidak menyebutkan sifat dua puluh. Sifat dua puluh ini baru dirumuskan oleh Imam as-Sanusi 832-895 H/1428-1490 M seperti yang beliau tulis dalam kitab al-Barahain/al-Akidah as-Shughra. Beliau mnenyatakan sebagai berikut:
فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً.
“Maka di antara sifat wajib bagi Allah Tuhan Kita-Yang Maha Agung dan Maha Perkasa-adalah 20 sifat
Ternyata, apa yang dilakukan oleh Imam Sanusi mendapatkan sambutan luar biasa dari para ulama Asyari pada generasi setelah beliau. Bisa dikatakan bahwa pembatasan sifat dua puluh seperti yang ditulis oleh Imam Sanusi, menjadi pedoman penulisan kitab-kitab tauhid pada masa-masa setelahnya seperti Nazhm Jauharah at-Tauhid karya Ibrahim al-Laqqani (W. 1041 H/1631 M), Kifayatul Awam karya al-Fadhali ( w. 1236 H/1820 M) Nazm Aqidah al-Awam karya al-Marzuqi ( w. 1281 H/1864 M), dan selainnya).
Sifat dua puluh tersebut bukanlah karangan imam Sanusi. Beliau sekadar merapikan dan memberikan sistematisasi agar para penuntut ilmu lebih mudah dalam memahami sifat Allah. Memang di kalangan ulama kalam, terdapat perbedaan pendapat mengenai sifat Allah tersebut, termasuk batasan-batasannya. Perbedaan berkisar seputar sufat Allah, apakah semua sifat yang menunjukkan kesempurnaan, secara otomatis dapat disebut sebagai sifat Allah dan dapat dinisbatkan kepada Allah? Imam Sanusi sendiri sesungguhnya berpendapat bahwa sifat allah tidak terbatas. Hal ini mengingkat kesempurnaan Allah juga tidak ada batasannya. Namun dua puluh sifat tadi, setidaknya memberikan cakupan dan berdasarkan pada dalil aqli sehingga dapat memberikan pemahaman mendasar tentang tauhid bagi setiap insan muslim.

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × 4 =

*