Friday, August 23, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sifat Jaiz Allah

Syarah HPT Bab Iman

Artikel ke: 64

Mmatan HPT:

يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُبَيَدِهِ اْلأَمْرُ كلُّهُ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ

Dialah yang menjadikan sesuatu menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada ditangan-Nya dan kepada-Nya akan kembali (15).

 

Sebelumnya telah kami sampaikan mengenai sifat wajib dan sifat mustahil bagi Allah. Sifat wajib adalah sifat yang harus ada bagi Allah, sementara sifat mustahil adalah sifat yang tidak mungkin ada bagi Allah. Sementara sifat jaiz adalah sifat yang terkait dengan kehendak Allah untuk melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu.

Contoh sifat jaiz bagi Allah adalah penciptaan alam raya. Menjadi hak Allah untuk menciptakaan atau tidak menciptakan. Demikian juga merupakan hak Allah menetukan masa masa tertentu bagi umur alam raya.

Dalam kitab Ushulu Ahlissunnah wal jamaah karya Abu Hasan Al-Asyari dijelaskan bahwa menjadi hak Allah untuk memasukkan seseorang ke surga atau neraka. Seorang hamba sama sekali tidak mempunyai hak untuk menentukan atau mengharuskan seseorang masuk surga. Bisa saja Allah memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka, atau bisa saja memasukkan seluruh manusia ke dalam surga. Semua menjadi wewenang dan kehendak mutlak Allah. Allah tidak membutuhkan ibadah hamba, karena Allah Maha Atas Segala sesuatu. Hambalah yang sesungguhnya membutuhkan Allah ta’ala. Ibadah hamba sesungguhnya merupakan sarana bagi hamba untuk bertawasul dan berharap atas karunia Allah.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al Anbiya’: 23

Dalam madzhab Asyari, seseorang masuk surga karena fadhilah dan anugerah dari Allah dan bukan karena amal perbuatan bak yang pernah ia lakukan di dunia.  Tentu ini berbeda dengan pandangan kelompok Muktazilah yang mengatakan bahwa Allah harus memasukkan manusia yang salih ke dalam surga. Bagi muktazilah, amal salih manusia yang beriman, menjadi syarat mutlak manusia dapat masuk surge. Menurut mereka, pendapat ini menunjukkan mengenai bentuk keadilan Allah kepada hambanya. Karena dalam kitab suci, amal Salih selalu dibarengi dengan balasan surge, dan Allah tidak inkar atas janji-janjinya.

Bagi Ahli sunnah, bahwa amal perbuatan manusia, selamanya tidak akan mampu menandingi nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Jika manusia dari lahir beribadah kepada Allah dan tidak pernah melakukan kesalahan serta maksiat sedikitpun, ibadahnya tersebut saa sekali belum mampu untuk menandingi satu nikmat sehat, atau nafas yang diberikan Allah kepadanya. Nikmat Allah terlalu besar dan luas sehingga manusia pun tak akan mampu menghitungnya.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Nikmat tadi, oleh Allah dibagi kepada manusia secara berfariasi dan tidak sama. Ada yang mendapatkan nikmat sehat, sementara yang lain mendapatkan nikmat hatta. Di sisi lain, ada yang mendapatkan nikmat anak, ada yang mendapatkan nikmat jabatan, dan seterusnya. Menurut Imam Asyari, menjadi hak Allah dan sifat jaiz bagi Allah untuk memberikan nikmat dan anugerahnya kepada siapa saja yang dikehendaki.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalifah di bumi dan meninggikan setengah kamu atas setengahnya yang lain beberapa darjat, kerana Ia hendak menguji kamu pada apa yang telah dikurniakanNya kepada kamu. Sesungguhnya Tuhanmu amatlah cepat azab seksaNya, dan sesungguhnya Ia Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (QS. Al-An’am: 165)

 

Nabi pun, Allah bedakan derajat antar mereka, sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan mereka bersama dengan kaumnya. Satu Musa as. diberi mukjizat dapat berbicara dengan Allah, nabi Isa as diberi mukjizat dapat menghidupkan orang mati, dan nabi Ibrahim mendapatkan mukjizat tidak terbakar dalam kobaran api. Sementara Nabi Muhammad saw sebagai nabi terahir mendapatkan mukjizat al-Qur’an yang akan kekal hingga ahir zaman. Kelebihan dan perbedaan derajat antar nabi tersebut menjadi hak Allah semata.

تِلْكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَٰتٍۢ ۚ وَءَاتَيْنَا عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ٱلْبَيِّنَٰتِ وَأَيَّدْنَٰهُ بِرُوحِ ٱلْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعْدِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ وَلَٰكِنِ ٱخْتَلَفُواْ فَمِنْهُم مَّنْ ءَامَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Rasul-rasul Kami lebihkan sebahagian daripada mereka atas sebahagian yang lain (dengan kelebihan-kelebihan yang tertentu). Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata dengannya, dan ditinggikanNya (pangkat) sebahagian daripada mereka beberapa darjat kelebihan. Dan Kami berikan Nabi Isa ibni Maryam beberapa keterangan kebenaran (mukjizat), serta Kami kuatkan dia dengan Ruhul-Qudus (Jibril). Dan sekiranya Allah menghendaki nescaya orang-orang yang datang kemudian daripada Rasul-rasul itu tidak berbunuh-bunuhan sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan (yang dibawa oleh Rasul mereka). Tetapi mereka bertelingkah, maka timbulah di antara mereka: orang yang beriman, dan orang yang kafir. Dan kalaulah Allah menghendaki tentulah mereka tidak berbunuh-bunuhan; tetapi Allah melakukan apa yang dikehendakiNya. (QS Al-Baqarah: 253)

Allah berhak untuk mensucikan dan membersihkan hati hambanya membiarkan begitu saja.

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.  (QS. Al-Ahzab: 33)

Manjadi hak Allah juga untuk memanjangkan umur seseorang, atau memendekkan umur seseorang. Firman Allah:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.(QS. An Nahl: 70).

 

Jika kita percaya dan yakin dengan sifat jaiz Allah, maka kita akan berserah diri sepenuh hati kepada Allah. Jika kita mendapatkan kebaikan, ia akan bersyukur. Sementara jika mendapatkan musibah, ia akan bersabar. Ia sadar bahwa manusia tidak mempunyai daya upaya sedikitpun. Manusia tidak mempunyai ha katas apapun, termasuk atas dirinya sendiri. Karena sesungguhnya, alam raya beserta isinya adalah milik Allah. Apa yang ada dalam genggaman kita, sesungguhnya adalah amanah dari Allah agar dapat kita manfaatkan sebaik mungkin., kapan saja, Allah akan mengambil amanah yang ada dalam diri kita, termasuk umur kita sendiri. Maka sabda rasulullah saw:

مُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, rasulullah saw juga bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu”, tetapi katakanlah, “Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki”, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.

Dengan sikap tawakal tersebut, ia akan selalu tenang dan hidup bahagia. Ia tidak akan merasa bersedih dan gundah. Apa yang telah lau, menjadi kehendak Allah, sementara apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, pun ia serahkan sepenuhnya kepada Allah. Sebagai seorang hamba, ia hanya akan berusaha sekuat tenaga, beramal shalih dan mencari yang terbaik. Setelah itu, segala urusan diserahkan kepada Allah.

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nine − one =

*