Friday, July 28, 2017
Artikel Terbaru
 border=

Sifat Allah Termanifestasikan Dengan Hamba, Benarkah?

download (6)

 

Dalam sebuah ceramah, Prof. Dr. N Umar Pernah menyatakan sebagai berikut:

Allah memanifestasikan Asmaul Husna melalui makhluknya, Allah Maha penerima taubat, maka ada orang orang berdoa yang memohon taubat Kepada-Nya.  Allah Maha Pengampun, maka ada orang-orang berdosa supaya Maha Pengampun termanifestasikan.

 

Kalau tidak ada orang yang berbuat dosa, maka Asmaul Husna Dzat yang Maha Pengampun tidak termanifestasikan.

 

Pertanyaannya apakah benar demikian?  Benarkah bahwa sifat Allah tidak akan termanifestasi tatkala tidak ada hamba? Pendapat di atas merupakan pendapat kelompok manakah dalam ilmu kalam?

 

Jawabnya sebagai berikut:

Pendapat di atas tidak benar karena cenderung menganggap bahwa sifat Allah tidak sempurna. Hal ini terlihat dari pernyataan di atas bahwa Allah memerlukan makhluk-Nya hanya sekadar untuk dapat memanifestasikan asmaul husna. Sesuaai dedngan  sifat kkesempurnaan, Allah tidak membutuhkan apapun termasuk untuk memanifestasikan asma-Nya yang agung.

 

Seluruh ulama kalam dari semua aliran berpendapat bahwa Allah sifatnya qadim. Ia azal dan berdiri sendiri tanpa membutuhkan apapun juga. Allah ada sebelum alam raya ini ada. Karena Allah qadim, maka sifat-sifat Allah juga qadim. Selain sifat, asma Allah juga qadim. Asma’ullah al-Husna, adalah nama lain dari Allah.  Ia merupakan sifat kamal (kesempurnaa) dan sering disebut engan sifat ismiyah.

 

Allah selamanya akan menjadi Sang Maha Pencipta, meski Allah belum menciptakan alam raya, atau ketika alam raya sudah tercipta, atau bahkan ketika alam raya telah sirna.  Allah selamanya akan menjadi Dzat Yang Maha Pengampun meskipun Allah tidak menciptakan manusia.

 

Asma Allah, sebagaimana yang disebutkan oleh Muhammad Zaki Ibrahim dalam kitab Khulashatul Aqaid Fil Islam bahwa  menurut Ahli Sunnah, ,namaa-namaa tersebut sifatnya tauqifi. Umumnya dikenal jumlahnya ada 99 nama. Sebagian ulama menghitungnya lebih dari 1000 nama.

Terkait hal ini dapat dilihat dari matan kitab Jauharatuttauhid karya Burhanuddin Ibrahim bin Ibrahim al-Laqqani al-Maliki sebagai berikut:

 

‏38- وَعِنْدَنَا أَسماؤهُ العَظِيْمَهْ                        كَذَا صِفَاتُ ذاتِهِ قَدِيْمهْ

39- واْخِتْيرَ أَنَّ اسْماهُ تَوْقِيفيَّةْ              كذَا الصِّفاتُ فاحفَظِ السّمعيَّةْ

 

Keterangannya sebagai berikut:

Menurut ahli sunnah bahwa Allah mempunyai asma atau nama Yang Agung

Allah juga mempunyai sifat dzatiyyah yang qadim

Ahli sunnah memilih pendapat yang mengatakan bahwa asma Allah sifatnya tauqifi.

Ahli sunnah juga berpendapat bahwa sifat Allah tauqifi. Keduanya hanya dapat diketaui melalui dalil  sam’iy seperti yang tercantum dalam kitab suci atau sunnah nabi.

 

Manusia tidak diperkenankan memberikan julukan lain bagi Allah yang tidak terdapat dalam kitab suci maupun sunnah nabi Muhammad saw, meski ia menunjukkan kepada kesempurnaan.

 

Jadi terkait dengan sifat dan asma Allah yang sempurna dan tidak membutuhkan makhluk-nya untuk memanifestasikan sifat-sifat tersebut, sudah menjadi kesepakatan seluruh ulama kalam. Pendapat Prof. Dr. Nazaruddin Umar di atas tidak ada lama kelompok kalam manapun.

 

Perbedaan ulama kalam hanya terletak pada sifat Allah, apakah ia ainudzat ataukan sifat zaidah. Ahli sunnah berpendapat bahwa ia merupakansifat zaidah, sementara muktazilah berpendapat bahwa ia ainudzat.

 

Apakah Allah harus mengampuni hamba yang bertaubat sebagai wujud manifestasi sifat pengampun-Nya?

Seperti yang saya sampaikan, Allah tidak butuh makhluk untuk manifestasi sifat-Nya. Apakah Allah pasti akan menerima taubat hamba-Nya karena Allah Maha Pengampun?

 

Menurut  ahli sunnah, bahwa Allah mempunyai kehendak mutlak. Alah tidak wajib mengampuni atau menyiksa hamba. Jika Allah memberikan ampunan bagi hamba, itu karena anugerah dan rahmat Allah kepada hamba-Nya.  Jika ia tidak memberikan ampunan, itu juga menjadi keadilan dan hak mutlak Allah. Dalam hal ini, Allah berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى  كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(QS. Al-Baqarah: 284)

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa: 48).
Bagi Ahli Sunnah, tidak ada kewajiban apapun bagi Allah untuk hamba-Nya. Demikian juga bagi hamba, tidak boleh mengharuskan Allah untuk melakukan sesuatu. Pernyataan ahli sunnah dapat dilihat dari bait syiir dalam kitab Jauharatuttauhid berikut ini:

50- فإنْ يُثِبْنَا فَبِمَحْضِ الفَضْلِ                   وإنْ يُعذِّبْ فَبِمَحْضِ العَدْلِ

51- وَقَولُهُمْ إنَّ الصَّلاحَ واجِبُ                    عليه زُورٌ مَا عَلَيْهِ واجِبُ

 

Maksudnya sebagai berikut:

Jika seorang hamba mendapatkan pahala, itu karena anugerah Allah. Jika ia diadzab, itu juga keadilan Allah.

Pendapat muktazilah yang mengatakan bahwa sh-shalah bagi Allah adalah sebuah kewajiban merupakan pernyataan yang berlebihan dan tidak beradab. Karena sesungguhnya tidak ada keharusan apapun bagi Allah.

 

 

Yang dimaksud ash-shalath adalah bahwa allah wajib atau pasti akan melakukan sesuatu sesuai dengan maslahat hamba-Nya. Allah pasti akan mengadzab orang yang maksiat dan akan memberikan pahala bagi orang yang taat.

 

Sementara itu, menrut muktazilah bahwa Allah pasti akan mengampuni hamba-Nya yang bertaubat. Hal ini sesuai dengan keadilan Allah dan janji Allah dalam kitab suci. Firman Allah:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS. Ali Imran: 9)

 

Pernyataan di atas merupakan paham kalam muktazilah terkait ash-shalah wal ashlah.  Wallahu a’lam.

 

rujukan:

Muhammad Zaki Ibrahim, Khulashatul Aqaid Fil Islam, Matbuat wa rasail; al-asyirah al-muhammadiyah, 2001, hal. 2001Jauharatuttauhid, Maktabah Mujallad Arabiy, 2017, hal. 42

 

===============

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>