Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Siapa Yang Lebih Sempurna, Jin Atau Manusia?

Masih soal jin…meski pnjelasan ustadz sdh panjang lebar, ada hal yg sy masih ingin tanyakan biar smakin paham…

1).Jin dan manusia memang berbeda nature/materi, alam dan tabiatnya dan tentu jg syariatnya…tp sepertinya jin itu lebih tinggi ilmunya dr manusia, buktinya mereka bisa masuk kedalam tubuh manusia, bisa menggoda dan menyesatkan mnusia…tentunya jg bisa melihat manusia tapi sebaliknya mnusia scr umum tdk bisa berbuat sperti itu thd jin…benarkah dmikian ustadz

2).Apakah kegaiban jin itu mutlak -tdk bisa dilihat oleh manusia tanpa kecuali atau bersifat relatif- bisa dilihat bahkan diajak komunikasi oleh manusia tertentu..Kalo kegaibannya mutlak kok ada kiai ato orang pintar yg punya pasukan jin bhkan jin nya bisa disuruh nyoblos saat pilpres kemarin…

Mhon penjelasannya ustadz…trimakasih

 

Jawab:

Manusia adalah makhluk paling sempurna.  Kesempurnaan manusia bisa dilihat dari beberapa hal, di antaranya adalah:

Pertama, manusia sempurna dari bentuk penciptaan. Tidak ada makhluk di alam raya yang seindah dan sbagus manusia. Jin, dari sisi penciptaan,  jauh lebih buruk dan menaktukan dibandingkan manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut ini:

 

 

Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS.  At-Tin: 5)

Juga firman Allah berikut ini:

 

وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

Artinya: “Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna dibandingkan kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al-Israa’ : 70).

 

Rezki dan makanan yang dikonsumsi manusia, adalah makanan yang baik-baik. beda dengan jin yang suka makan tulang kotoran. Hal ini diterangkan oleh hadis nabi Muhammad saw berikut ini:

 

هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ ، وَإِنَّهُ أَتَانِى وَفْدُ جِنِّ نَصِيبِينَ وَنِعْمَ الْجِنُّ ، فَسَأَلُونِى الزَّادَ ، فَدَعَوْتُ اللَّهَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَمُرُّوا بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ إِلاَّ وَجَدُوا عَلَيْهَا طَعَامًا

Artinya: “Tulang dan kotoran merupakan makanan jin. Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah didatangi rombongan utusan jin dari daerah Nashibin dan mereka adalah sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepadaku. Lalu aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar setiap kali mereka melewati tulang dan kotoran, mereka mendapatkan makanan padanya”. (HR. Bukhari 3860)

Manusia mendapatkan kehormatan, baik ketika masih hidup, atau sudah meninggal dunia. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut ini:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna dibandingkan kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al-Israa’ : 70).

Juga sabda rasulullah saw berikut ini:

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

Artinya: ”Mematahkan tulang mayit, statusnya sama dengan mematahkan tulangnya ketika masih hidup.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

 

Nabi dan rasul hanya dari kalangan manusia, tapi tidak ada nabi dan rasul dari kalangan jin. Utusan allah, dari malaikat dan manusia. Tidak ada dari jin. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut ini:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Artinya: “Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia..” (QS. al-Hajj: 75).

oleh karena itu, dalam hokum syariat, jin mengikuti para nabi yang berasal dari manusia, seperti firman Allah berikut ini:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ . قَالُوا يَاقَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS. al-Ahqaf: 29-30).

Karena berbagai keistimewaan inilah, maka ketika manusia diciptakan, Allah memerintahkan kepada para malaikat dan jin (iblis) untuk bersujud dan memberi hormat kepada manusia (Nabi Adam) sebagaimana firman Allah berikut ini:

 

 

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

 

 

Artinya: “Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan Jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya” (QS. Al-Kahf: 50)

 

 

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

 

Artinya: “Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabbur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

 

 

Adapun jin bisa melihat manusia sementara manusia tidak bisa melihat jin, tidak menunjukkan bahwa jin lebih sempurna dari manusia. Hal itu, karena tabiat jin yang sudah diciptakan Allah seperti itu, sebagaimana firman Allah berikut ini:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkan–kepada keduanya–‘auratnya. Sesungguhnya, ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-A’raf:27)

Apakah manusia bisa melihat jin? Menurut Ibnu Hajar, seperti yang tertulis dalam kitab fathul bari bahwa bentuk asli jin tidak bisa dilihat manusia. Adapun ketika jin menampakkan diri dan dapat dilihat manusia, itu sesungguhnya bukan bentuk asli jin. Wallahu a’lam

 

 

==========
Bagi yang hendak wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun yang diasuh oleh Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +20112000489

Dapatkan berbagai konten islami di aplikasi Tanya Jawab Agama yang dapat didownload di PlayStore:https://play.google.com/store/apps/details?id=com.aridzon.tanyajawabagama

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 − 8 =

*