Sunday, July 5, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Siapa Yang Berhak Memakzulkan Pemimpin?

ayatollah-khomeini (2)

Sebelumnya saya sempat menulis tentang sikap kelompok Islam terdahulu terkait dengan pemimpin yang tidak menerapkan hukum Islam, apakah dia dimakzulkan atau tidak. Di tulisan tersebut, saya sudah kupas mengenai pendapat masing-masing kelompok. Pertanyaannya, sebenarnya siapakah yang berhak memakzulkan pemimpin?

 

Ahlu Sunnah, Muktazilah dan Khawarij berpendapat bahwa yang berhak memakzulkan Imam atau pemimpin adalah ahlul halli wal Iqdi. Mereka ini yang mengangkat pemimpin, dan mereka ini pula yang berhak memakzulkan pemimpin.

 

Mengapa mereka yang memakzulkan? Karena mereka yang mengawasi pemimpin. Mereka mengetahui apakah pemimpin sudah melenceng dari konstitusi atau belum. Jika dipandang pemimpin sudah melenceng dari konsitusi, ahlul halli wal Iqdi berhak untuk memanggil pemimpin untuk meminta keterangan darinya. Jika setelah itu sang pemimpin kembali kepada konstitusi, yaitu menjalankan hukum al-Quran dan Sunnah, maka ia berhak untuk tetap jadi pemimpin. Namun jika ia bersikeras dengan kesalahannya, maka ahlul halli wal iqdi sudah berhak untuk diturunkan.

 

Persoalannya adalah, ketika pemimpin bersikukuh dan tidak mau dimakzulkan. Di sini, ada tiga pendapat seperti yang sudah saya singgung sebelumnya.

 

Di mana posisi Syiah? Untuk syiah memang pandangan politiknya agak berbeda. Bagi mereka pemimpin itu berdasarkan wasiat dari pemimpin sebelumnya. Pemimpin mendapatkan ilham dari Allah dan ia sifatnya maksum. Pemimpin inilah yang kemudian disebut dengan para imam syiah. Untuk syiah 12, sejak hilangnya Imam ke-12, secara otomatis tidak ada lagi Imam atau pemimpin.  Padahal, keberadaan negara hukumnya wajib. Lalu apa yang harus dilakukan?

 

Untuk menanggulangi kekosongan pemimpin ini, mereka membuat konsep baru yang dinamakan dengan wilayatul fakih. Secara prinsip, wilayatul fakih mirip dengan ahlul hal wal iqdi di sunni atau kelompok Islam lainnya. Anggota wilayatul fakih akan mengangkat Naibul Imam (wakil pemimpin) dan memakzulkan Naibul Imam.

 

Siapa Naibul Imam ini? Dia adalah pemimpin negara. Dia tidak disebut Imam karena imam yang sesungguhnya adalah imam yang 12 itu. Dia hanya wakil dari Imam yang seharusnya ada. Karena dia wakil, makanya panggilannya naibul Imam, yang artinya wakil dari pemimpin.  Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

16 − 13 =

*