Saturday, October 19, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Seputar Akidah HPT

Belakangan ini, kami mencoba untuk melakukan studi komparasi antara matan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Bab Iman yang menggunakan teks bahasa arab, dengan kitab-kitab turasatau kitab kuning. upaya untuk membandingkan antersebut berangkat dari sifat penasaran penulis, sesungguhnya dari manakah sumber-sumber rujukan yang digunakan oleh para ulama tarjih awal dalam merumuskan HPT bab iman? Hal ini, mengingat HPT sama sekali tidak disertakan sumber rujukan. Menurut penulis, tidak mungkinlah para ulama kita itu, ijtihad sendiri lepas dari turas sama sekali. Bahkan ketika mencantumkan dalil al-Quran dan hadis nabi, sisi istidlalnya dipastikan kembali kepada kitab kuning. setidaknya, mereka membuka kitab-kitab hadis.

Dari penelusuran itu, ingin melihat lebih jauh mengenai literasi para ulama tarjih dan juga arah dari madzhab akidah Muhammadiyah. Selama ini, di kalangan jamaah Muhammadiyah, sering sekali muncul sebuah pertanyaan terkait madzhab akidahnya Muhammadiyah, apakah ahlu sunnah atau bukan? Pengetahuan tentang aliran tersebut seperti dalam HPT, akan memudahkan kita dalam memberikan pendalaman kajian untuk jamaah Muhammadiyah. Kita jelas dalam mengambil kitab lain sebagai bahan pengayaan. Ada titik kesepakatan bersama sehingga tidak terjadi simpang siur dalam kajian furu akidah di Muhammadiyah. Selain itu, juga menghindari keterputusan Muhammadiyah dengan turas Islam. Literasi tersebut, sekalihus menyambungkan pemikiran modernis Muhammadiyah dengan warisan intelektual umat Islam masa lampau yang sangat kaya.

Memang terkait ideology Muhammadiyah, tidak bias sekadar melihat HPT bab iman saja. Ideology Muhammadiyah, sesungguhnya adalah nafas yang mengalir di berbagai keputusan majelis tarjih Muhammadiyah dan karya-karya besar Muhammadiyah. Ideologi Muhammadiyah, berada dalam dada jamaah Muhammadiyah yang dibuktikan secara nyata dan ril dengan amal usaha Muhammadiyah. Ideologi Muhammadiyah, adalah pandangan jamaah Muhammadiyah dalam memandang Islam dan kehidupan sehingga terbangun amal nyata dalam upaya mesujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Meski tidak mencerminkan ideologi Muhammadiyah secara komperhensif, namun kajian bab iman dalam HPT tetap menempati posisi sangat penting. Ia terkait dengan pandangan fundamental Muhammadiyah dalam berislam. Bahkan ia adalah energi utama yang mampu membangkitkan pergerakan Muhammadiyah. ia terkait dengan iman, Islam dan ihsan. Ia terkait dengan pandangan kita tentang Tuhan, malaikat, kenabian, alam raya, dan juga persoalan al-ghaibiyat seperti perjalanan manusia setelah mati. Ia merupakan persoalan ushul, yang jika seseorang inkar bahasan tadi, atau sebagian dari bahasan tadi, maka ia dianggap kafir dan keluar dari Islam.

Benar bahwa ada persoalan ushul akidah yang disepakati bersama oleh seluruh kelompok Islam, baik ahli sunnah, khawarij, syiah, muktazilah dan lain sebagainya. Inkar dari persoalan pokok dan ushul, dapat mengeluarkan seseorang dari keberislaman.

Di sisi lain, ada persoalan furu akidah yang menjadi perdebatan di kalangan para ulama kalam. berbeda dalam menyikapi persoalan furu ini, tidak akan mengeluarkan seseorang dari keberislaman, namun bisa jadi dianggap sesat dan masuk golongan ahli bid’ah. Dalam bab iman HPT, Muhammadiyah selain mencantumkan persoalan pokok, juga merajihkan beberapa persoalan furu. Muhammadiyah telah memilih pendapat yang dianggap paling kuat.

Meski sudah ditarjih, namun jika kita melihat ke lapangan dan terjun ke jamaah Muhammadiyah, ada semacam dua aliran yang berbeda yang sama-sama diajarkan di muhammadiyah. Pertama adalah alirah wahabiyah dengan merujuk kepada kitab-kitab karya Muhammad bin Abdul Wahab. Kedua adalah aliran Asyariyah dengan merujuk kepada kitab-kitab aliran madzhab Asyari. Antara dua aliran tersebut, sama-sama saling berebut pengaruh dan ingin mengambil hati jamaah Muhammadiyah.

Pertanyaannya, mengapa bisa terjadi dua kutub aliran yang berbeda di tubuh Muhammadiyah? bukankah persoalan furu akidah, sesungguhnya sudah dirajihkan ke HPT? Mengapapa jamaah Muhammadiyah tidak kembali ke HPT Muhammadiyah? beberapa kali penulis menanyakan hal ini ke jamaah Muhammadiyah. Ada yang mengatakan bahwa HPT bab iman sangat ringkas sehingga sulit untuk dijadikan sebagai rujukan. Hpt dianggap terlalu ringkas hanya mencantumkan hal rajah serta dalil saja.  Maka yang dibutuhkan oleh jamaah Muhammadiyah sesungguhnya adalah syarah dari HPT. Syarah tadi, setidaknya dapat dijadikan pegangan bagi jamaah dalam mengkaji tentang persoalan iman.

Karena di jamaah Muhammadiyah ada dua kutub pemikiran, wahabi dan asyari, maka kajian saya terfokus pada dua aliran tersebut. HPT saya cocokkan dengan kitab-kitab karya Imam Asyari seperti al-Ibanah, Alluma, ushulu ahli as-Sunnah wal Jamaah, istihsan ila ilmil kalam, maqalatul Islamiyin dan juga karya-karya Muhammad bin Abdul wahab seperti Kitabuttauhid, Kitabuttauhid, Ushulutsalatsah, Kitabuttauhid, Kasyfu asy-Syubuhat, Kitabu Ushulil Iman, kitabu Fadhil Islam, Kitabu Masail Jahiliyah dan lain-lain. Hasil dari kajian itulah yang kemudian kami jadikan pijakan dari upaya syarah HPT ini.

Dalam penelusuran tersebut, kami tidak menemukan persesuaian antara HPT dengan kitab-kitab karya Muhammad bin Abdul Wahab. Dalam HPT tertulis bahwa Muhammadiyah mengikuti aliran ahlil haq wassunnah. Ternyata istilah ini sama sekali tidak digunakan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Kemudian ketika saya membuka daftar isi, juga terjadi perbedaan mencolok. Umumnya kitab karya Muhammad bin Abdul Wahab membahas tentang makna tauhid, seperti yang tertulis dalam kitab Attauhid, mengkaji tentang makrifaturrab, makrifatul Islam, makrifaturrasul seperti dalam kitab Ushulutsalatsah, atau juga perbedaan antara tauhid dengan syirik seperti dalam kitab kasyfu asy-syubuhat. Dalam kitab fadhailul Islam, justru banyakbicara tentang persoalan bidah dan syirik.  Kami juga membandingkan dengan pendapat Ibnu Taimiyah seperti yang termaktub dalam kitab fatawa, al-Aqidah al-Hamwiyah al-Kubra, al-Akidah al-Wasithiyyah, kitabul iman, dan lain sebagainya.

Berbeda ketika kami membuka kitab-kitab karya Abu Hasan al-Asyari seperti buku-buku yang kami sebutkan di atas. Dari sisi istilah, yaitu Ahlul Haq Wassunnah, kami menemukan istilah itu dari kitab al-Ibanah. Juga istilah ahlul bidah wadhalal, kami temukan juga dalam kitab al-ibanah. Sementara jika kita buka daftar isi, kita menemukan urutan bahasan yang mirip, missal terkait firqah najihah, lalu ijmak ulama salaf, dilanjutkan dengan dalilul hudus dan sifat-sifat Allah. Persesuaian itu bisa dilihat dari tiga kitab Abu Hasan al-Asyari yaitu al-Ibanah, alluma dan ushul ahli as-Sunnah wal Jamaah.

Pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa Muhammadiyah secara akidah sama dengan paham Asyariyah. Guna memperjelas persoalan tersebut, kami menuliskan beberapa artikel sebagai syarah HPT. Artikel tersebut kami sebarkan baik melalui wa maupun facabook. Artikel bersambung dan tidak terasa sampai puluhan seri. Pada ahirnya kami putuskan untuk menyelesaikan bahasan bab iman bagian ilahiyat pada kitab HPT. Kami menggunakan kajian tahlili, yaitu dengan melihat kata demi kata, lalu kami urai dan analisa. Harapan kami, dengan kajian perkata secara runut, akan mempermudah kita dalam mengkaji HPT. Harapan kami, kajian ini kelak akan berlanjut kepada bahasan lain terkait dengan tema nubuwat, al-ghaibiyat dan juga bagian mukadimah terkait dengan iman, islam dan ihsan.

Apa yang kami tulis ini, sesungguhnya sekadar letupan dan upaya memunculkan wacana keilmuan di kalangan jamaah Muhammadiyah. kami tidak mengklaim bahwa apa yang kami tulis adalah sesuatu yang final dan pasti benar adanya. Siapapun yang membaca buku ini boleh berbeda dan tidak sepakat dengan analisa kami. Perbedaan adalah sesuatu yang lumrah dan biasa, apalagi jika diimbangi dengan karya tulis ilmiah. Maka perbedaan akan memunculkan wacana keilmuan yang luar biasa. Dari sini, maka dialog ilmiah di kalangan jamaah Muhammadiyah akan berkembang. Dialog ilmiah tersebut akan menjadi kekayaan intelektual dan kebanggaan bagi warga Muhamnmadiyah.

Buku ini kami bagi menjadi dua bagian, pertama terkait dengan kajian HPT bab iman bagian ilahiyat secara runut. Kedua terkait dengan kajian HPT bab iman yang bukan bagian dari tema ketuhanan, atau terkait dengan wacana dan opini penulis terhadap persoalan akidah di Muhammadiyah. Sengaja kami pisah menjadi dua bab, agar tidak terjadi kerancuan dalam sistem bahasan.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

seventeen + eighteen =

*