Tuesday, November 20, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Seperti MAdzhab Asyari, Muhammadidyah Menggunakan Istilah al-Kasb Untuk Perbuatan Hamba

Jika kita buka HPT Bab Iman, kita akan menemukan ungkapan sebagai berikut:

وَالاَفْعَالُ الصَّادِرَةُ عَنِ الْعِبَادِ آُلُّهَا بِقَضَاءِ اللهِ وَقَضَرِهِ ( 65 ) وَلَيْسَ لِلعِبَادِ اِلاَّ الإِخْتِيَارِ.فَالتَّقْدِيْرُ مِنَ اللهِ وَالكَسْبُ مِنَ الْعِبَادِ فَحَرَآَةُ الْعَبْدِ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا إِلَى قُدْرَتِهِ تُسَمَّى كسْبًا لَهُ ( 66 ) وَ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا قُدْرَةِ اللهِ خَلْقًا ( 67 ) وَالْعِبَادُ .( يَتَصَرَّفُ نَصِيْبَهُ مِمَّا اَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ مِنَ الرِّزْقِ وَغَيْرِهِ (

Adapun segala yang dilakukan manusia itu semuanya atas
Qadla’dan Qadar-Nya (65), sedangkan manusia sendiri hanya dapat berikhtiar.
Dengan demikian, maka segala ketentuan adalah dari Allah dan usaha
adalah bagian manusia. Perbuatan manusia ditilik dari segi kuasanya dinamakan
hasil usaha sendiri (66). Tetapi ditilik dari segi kekuasaan Allah, perbuatan
manusia itu adalah ciptaan Allah (67). Manusia hanya dapat mengolah bagian yang Allah karuniakan padanya berupa rizki dan lain-lain (68).

Terma di atas, sesungguhnya adalah persoalan sentral dalam ilmu kalam. Bahkan bisa dikatakan bahwa tema ini, termasuk persoalan awal yang muncul dan menjadi perdebatan sengit antara kelompok kalam.

Terkait perbuatan hamba, sesungguhnya menyangkut banyak hal. Ia terkait dengan persoalan takdir, kehendak manusia apakah bersifat independen ataukah tidak, tahsin dan taqbih apakah secara akal atau naql, iradah dan masyiah Allah, ilmu Allah dan lain sebagainya. Jika ditarik, akan menjadi bahasan yang cukup panjang.

Di sini, saya hanya akan menyoroti soal kehendak manusia, apakah ia independen ataukah merupakan kehendak Allah atau ada titik tengah antara keinginan manusia dan kehendak ALlah. Di kalangan ulama kalam ada beberapa pendapat. Pertama Muktazilah yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kehendak secara independen. Apa yang dilakukan manusia, merupakan hasil karya secara murni. Maka manusia akan mendapatkan pahala atau hukuman atas apa yang ia lakukan.
Kedua pendapat jabbariyah yang menyatakan bahwa segala perilaku manusia, sesunguhnya telah tertulis di lauh mahfuz sesuai dengan ilmu Allah yang azal. Manusia sesungguhnya tinggal menjalankan atas apa yang telah tertulis itu. Kehendak manusia, baik baik atau buruk merupakan ciptaan Allah dan tidak ada campur tangan manusia.
Ketika, pendapat Asyariyah yang menyatakan bahwa Allah mengetahui atas apa yang akan terjadi. Hanya saja, kejadian yang akan datang, tidak diketahui oleh manusia. Maka manusia bertugas untuk berusaha (kasb) atau melakukan sesuatu. Apa yang dihasilkan manusia dari al-kasb itu, menjadi tanggung jawa manusia. Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kasb itu (usaha manusia). Hanya saja, perbuatan itu sendiri, sebagai sebuah perbuatan merupakan makhluk Allah, ciptaan Allah dan bukan hasil kreasi manusia secara independen. Jika dinisbatkan pada manusia, sifatnya sekadar metaphor saja.

Jika kit abaca Putusan Tarjih, maka kita akan menemukan bahwa yang dirajihkan oleh HPT adalah pendapat Imam Asyari. Hal ini bias kita cocokkan dengan beberapa teks berikut ini:
معنى الكسب: أن يكون الفعل بقدرة محدثة[1] فكل من وقع منه الفعل بقدرة قديمة، فهو فاعل خالق، ومن وقع منه بقدرة محدثة، فهو مكتسب، وهذا قول أهل الحق».[مقالات الإسلاميين واختلاف المصليين، للإمام أبي الحسن علي بن إسماعيل الأشعري، تحقيق أحمد جاد/ دار الحديث القاهرة، (ص: 304/305)].
Makna kasb adalah bahwa suatu perbuatan terjadi dengan qudrah yang bersifat hadis. Semua perbuatan itu sesungguhnya berasal dari qadrah qadimah. Ia adalah Pelaku dan Pencipta sesungguhnya. Adapun perbuatan yang terjadi dari qudrah muhdisah, maka ia adalah al-kasb. Inilah pendapat ahlil haq. (Imam Ayari, Maqalatul Islamiyin hal 304)

«واختلف الناس في معنى مكتسب؟ …..والحق عندي أن معنى الاكتساب: هو أن يقع الشيء بقدرة محدثة، فيكون كسبا لمن وقع بقدرته».[2].[مقالات الإسلاميين، ص: 306، وانظر: باب الكلام في الاستطاعة، من كتاب اللمع في الرد على أهل الزيغ والبدع، لأبي الحسن الأشعري، تصحيح وتقديم حموده غرابة، مطبعة مصر،1955 م، (ص:93/114)].
Terdapat perbedaan pendapat terkait al-kasb. Menurut saya, yang benar adalah bahwa makna al-iktisab, sesuatu perkara terjadi dari qudrah muhdisah. Maka sesuatu yang terjadi darinya disebut dengan kasb (Imam Asyari, Maqalatul Islamiyin, hal. 306)
Terkait di atas, juga diterangkan oleh Syaih Ibnu Furak (W. 406 H) yang merupakan generasi kedua setelah Imam Asyari. Beliau mengatakan sebagai berikut:

فأما إبانة مذهبه[أي مذهب أبي الحسن الأشعري] في معنى العمل والفعل، ومن يصح أن يوصف بذلك، فإنه كان يذهب على أن الفاعل على الحقيقة هو الله عز وجل، ومعناه معنى المحدث، وهو المخرج من العدم إلى الوجود، وكان يسوي في الحقيقة بين قول القائل، خلق، وفعل، وأحدث، وأبدع، وأنشأ، واخترع، وذرأ، وبرأ، وقطر، ويخص الله تعالى بهذه الأوصاف على الحقيقة، ويقال: إنها إذا أجريت على المحدث فتوسع، والحقيقة من ذلك يرجع على معنى الاكتساب، وكان يصف المحدث على الحقيقة أنه مكتسب، ويحيل وصف الله تعالى بذلك.
Adapun keterangan dari madzhabnya Imam Asyari terkait makna al-amal dan al-fi’l serta siapa yang berhak untuk mendapatkan sifat tersebut adalah sebagai berikut: Sesungguhnya pelaku sesungguhnya atas suatu perbuatan adalah Allah saja. Ia adalah al-Muhdis atau dzat yang mengeluarkan sesuatu dari ketiadaan ke dalam wujud nyata. Bagi Allah, makna khalaq, fa’al, ahdasa, abda’a, ansya’a, ikhtara’a, dzara’a, qathara adalah sama dan itu sesungguhnya hanya dimiliki oleh Allah saja. Jika ia berlaku pada makhluknya, maka maknanya sesungguhnya sekadar metaphor saja. Dan itu yang disebut dengan al-kasb. Jika hamba melakukan sesuatu, itu namanya muktasab dan kata iktisab itu tidak bisa dinisbatkan kepada Allah. (Muhammad bin Hasan Ibnu Furak, Maqalat asyaih al-Hasan al-Azyari, Imam Ahli Sunnah)

إن كسب العبد فعل الله تعالى، ومفعوله، وخلقه، ومخلوقه، وإحداثه، ومحدثه، وكسب العبد ومكتسبه، وإن ذلك وصفان يرجعان إلى عين واحدة يوصف بأحدهما القديم، والآخر المحدث، فما للمحدَث من ذلك لا يصلح للقديم، وما للقديم من ذلك لا يصلح للمحدَث، وكان يجري ذلك مجرى خلقه للحركة، في أنه عين الحركة فيتصف الله تعالى منها بوصف الخلق، ويتصف المحدث منها بوصف التحرك، فتكون حركة للمحدث خلقا لله تعالى، ولا يصلح أن تكون حركة لله تعالى وخلقا للمحدث.
وكان يذهب في تحقيق معنى الكسب والعبارة عنه إلى أنه: ما وقع بقدرة محدثة، وكان لا يعدل عن هذه العبارة في كتبه، ولا يختار غيرها من العبارات عن ذلك، وكان يقول: إن عين الكسب وقع على الحقيقة بقدرة محدثة، ووقع على الحقيقة بقدرة قديمة، فيختلف معنى الوقوع، فيكون وقوعه من الله عز وجل بقدرته القديمة إحداثا، ووقوعه من المحدث بقدرته المحدثة اكتسابا».[مقالات الشيخ أبي الحسن الأشعري إمام أهل السنة، لمحمد بن الحسن بن فورك، تحقيق وضبط: أ / د: أحمد عبد الرحيم السايح/مكتبة الثقافة الدينية الطبعة الثانية، 1427هـ/2006م، (ص:93)].
Kasb seorang hamba, merupakan perbuatan Allah, ciptaannya, makhluknya, pemulanya dan dzat yang mewujudkannya. Namun ia adalah kasb dan muktasabnya hamba. Kasb bdengan istilah-istilah sebelumnya (seperti ciptaan), pada prinsipnya merupakan dua sifat yang muaranya satu. Yang pertama bermuara pada dzat yang qadim dan kedua bermuara pada makhluk yang hadis. Yang bermuara dari makhluk, tidak dapat dinisbatkan kepada yang qadim. Dan sesuatu yang muaranya di qadim, tidak bisa dinisbatkan kepada yang hadis. Ini seperti suatu benda yang sedang bergerak. Allah di sini sebagai penggerak. Sementara bendanya sendiri sebagai benda yang bergerak. Maka gerakan benda iatu, sesungguhnya berasal dari gerakan Allah. Tidak bisa kemudian dikatakan bahwa gerakan itu berasal dari Allah namun di waktu yang sama merupakan gerakan yang berasal dari benda itu sendiri. Imam Asyari terkait makna al-kasb menyatakan bahwa al-kasb adalah suatu perbuatan yang terjadi dari audrah muhdisah (perbuatan makhluk). Imam asyari dalam kitab-kitabnya tidak pernah meralat pendapatnya ini dan tidak memilih ungkapan lain selain al-kasb . Imam Aysari selalu mengatakan, “al-Kasb merupakan perbuatan yang terjadi karena qudrah muhdisah dan bisa terjadi karena qudrah al-qadimah. jadi, jika itu dinisbatkan pada perbuatan akibat dari qudrah qadimah, disebut dengan ihdas (ciptaan). Namun jika dinisbatkan kepada qudrah muhdisah, disebut dengan iktisab (Muhammad bin Hasan Ibnu Furak, Maqalat asyaih al-Hasan al-Azyari, Imam Ahli Sunnah)

Qadhi Abu Bakar al-Baqilani menyatakan sebagai berikut:

ويجب أن يُعلم:أن العبد له كسب، وليس مجبوراً، بل مكتسب لأفعاله من طاعة ومعصية، لأنه تعالى قال: ﴿لها ما كسبت﴾[سورة البقرة آية 285]، يعني من ثواب طاعة ﴿وعليها ما اكتسبت﴾[سورة البقرة آية 285]، يعني من عقاب معصية، وقوله: ﴿بما كسبت أيدي الناس﴾[سورة الروم آية 40]، وقوله: ﴿وما أصابكم من مصيبة بما كسبت أيديكم﴾[سورة الشورى آية 28]، وقوله: ﴿ولو يؤاخذ اللّه الناس بما كسبوا ما ترك على ظهرها من دابة، ولكن يؤخرهم إلى أجل مسمى، فإذا جاء أجلهم، فإن اللّه كان بعباده بصيراً﴾[سورة فاطر آية 46].
Harus diketahui bahwa nisbat keada hamba namanya al-kasb, dan ia tidak majbur (melakukan sesuatu karena terpaksa). Ia melakukan sesuatu karena muktasab (pilihan dirinya), baik terkait dengan ketaatan maupun maksiat. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Baginya apa yang ia kerjakan (maktasabat). )al-Bawarah, 285). Maksudnya adalah pilihan pahala dan ketaatanyya. “Dan baginya apa yang ia kerjakan” maksudnya adalah dari hukuman dan maksiat. “atas apa yang dikerjakan tangan manusia (ar-Rum: 40) “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. (Asy-Syura: 30). “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun. Akan tetapi, Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (Fatir: 46)

Qadhi Abu Bakar al-Baqilani menyatakan sebagai berikut:

ويدل على صحة هذا أيضاً: أن العاقل منها يفرق بين تحرك يده جبراً وسائر بدنه عند وقوع الحمى به، أو الارتعاش، وبين أن يحرك هو عضواً من أعضائه قاصداً إلى ذلك باختياره، فأفعال العباد هي كسب لهم، وهي خلق الله تعالى، فما يتصف به الحق لا يتصف به الخلق، وما يتصف به الخلق لا يتصف به الحق، وكما لا يقال لله تعالى إنه مكتسب، كذلك لا يقال للعبد إنه خالق».[الإنصاف للباقلاني/المكتبة الأزهرية للتراث، ط2000م(ص: 43)].
Untuk membuktikan pernyataan di atas bahwa seorang yang berakal selalu membedakan antara gerakant angan karena reflek seperti halnya ketika ia terkena penyakit demam, dengan oergerakan tubuh karena dia sengaja dengan pilihdan dan kehendaknya. Perbuatan hamba, itu kasb bagi dirinya. Gerakan itu sesungguhnya adalah ciptaan Allah. Sifat yang dinisbatkan kepada Allah tidak dapat dinisbatkan kepada hamba dan sifat yang dinisbatkan kepada hamba tidak dapat dinisbatkan kepada Allah. Allah tidak bisa disebut dengan muktasab, sementara hamba juga tidak bisa disifati dengan khaliq (Imam Baqilani, al-Inshaf, maktabah azhariyah litturats, hal 43)
Dari ungkapan di atas, nampak sekali bahwa Muhammadiyah merajihkan pendapat Ahli sunnah Asyariyah. Istilah dan teks yang digunakan oleh Muhammadiyah seperti yang termaktub dalam Himpunan Putusan Tarjih, sama persis dengan peristilahan yang digunakan dalam kitab-kitab madzhab asyari. Lagi-lagi, ini menjadi bukti lain bahwa Muhammadiyah secara kalam mengikuti madzhab Asyari. Wallahu a’lam
==================================

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open