Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sejarah Singkat Ilmu Kalam;Salafiyah (V)

Abd-aziz-ibn-abdillah-ibn-BaazGerakan Salafiyah yang didirikan Ibnu Taimiyah merupakan kelanjutan dari paham Salafi imam Ahmad bin Hambal. Pada masa al-Makmun, Salafiyah merupakan partai oposisi. Hal ini karena prinsip dasar kepartaian berbeda dengan prinsip partai pemerintah, baik mengenai pandangan kepemimpian, ketatanegaraan, posisi akal manusia dari naql, dan persoalan khalqu al-Qur’an. Bagi Muktazilah sebagai partai penguasa pada waktu itu menganggap bahwa al-Qur’an makhluk, sementara Ibnu Hambal menolaknya.[1] Namun kenyataannya, Muktazilah sebagai partai penguasa sangat otoriter dan diktator. Mereka ingin memaksakan prinsip partai pada semua partai lainnya. Perbedaan pandangan dianggap sebagai bentuk penentangan terhadap pemerintah. Akibatnya, para politisi banyak yang ditangkap, termasuk juga pemimpin partai Salafi, Ahmad bin Hambal.

 

Khusus mengenai posisi akal, partai Muktazilah beranggapan bahwa akal di atas naql. Tanpa akal, nash al-Qur’an tidak akan pernah dapat dipahami. Tidak akan ada perbedaan antara naql dengan akal. Dan jika terkesan ada benturan, maka naql harus ditakqil agar sesuai dengan akal. Sementara bagi Ibnu Hambal, akal berada di bawah naql. Akal manusia sangat lemah dan masih mungkin melakukan kesalahan. Maka akal harus mendapat bimbingan naql. Akal manusia harus selalu tunduk dan mengikuti apa yang sudah digariskan oleh naql. Dengan kata lain, bahwa akal berada di bawah naql.

 

Sepeninggal Ahmad bin Hambal, partai Salafiyah masih tetap eksis. Perdebatan pemikiran dengan partai lainnya terutama dengan Muktazilah juga terus berjalan. Salafiyah tetap berada dalam prinsipd kepartaian, yaitu selalu menggunakan argumentasi al-Qur’an dan al-Sunnah dengan menghindari takwil. Bagi mereka, metode ini yang digunakan oleh ulama salaf.

 

Pada akhir abad III H., atau awal abad IV H, partai Asy’ariyah berdiri. Munculnya partai baru ini dianggap sebagai angin segar bagi pengikut Salafiyah. Ini karena aliran Abu Hasan al-Asy’ari lebih dekat dengan aliran Ahmad bin Hambal, hanya ia menggunakan akal sebagai penopang terhadap naql. Selain itu, imam Asyari banyak memberikan kritikan terhapap Muktazilah

 

Hanya dalam perkembangan selanjutnya, prinsip Asyariyah dianggap semakin jauh dari paham Ahmad bin Hambal. Meski tetap berpegang pada naql, namun penggunaan akal sebagai piranti untuk memahami nash semakin meluas. Mereka juga memberikan takwil terhadap nash al-Quran yang dianggap bertentangan dengan naql, sebagaimana terlihat jelas dari berbagai buku karangan pengikut imam Aysari, seperti karya imam Fathu al-Razai, imam Haramian dan imam al-Ghazali. Akal dan ilmu logika mendapat perhatian serius dikalangan Asyari, bahkan imam Ghazali mengatakan bahwa barang siapa yang tidak mengetahui ilmu logika maka kapabilitas kelimuannya patut dipertanyakan.

 

Perkembangan ilmu kalam Asyari  yang dianggap sudah tidak berbeda dengan aliran kalam lainnya, menimbulkan reaksi balik dari ibnu Taimiyah, konseptor Salafiyah masa mutaakhirin. Berbagai pemikiran Ibnu Taimiyah, terutama yang berkaitan dengan teologi memang mengikuti imam Ahmad bin Hambal. Hanya, pemikiran yang dihasilkan ibnu Taimiyah lebih lengkap dan lebih progresif. Kondisi sosial yang berbeda ikut berperan aktif dalam pembentukan karakter pemikiran ibnu Taimiyah.

 

Secara singkat dapat dikatakan bahwa partai Salafiyah di tangan Ibnu Taimiyah merupakan kepanjangan tangan dari partai Salafiyah sebelumnya. Paham pemikiran yang diusung tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, Ahmad bin Hambal.

 

Sebagai sebuah partai, Salafiyah tidak hanya mengkaji pemikiran yang berkaitan dengan persoalan ilmu kalam, namun juga pemerintahan. Ibnu Taimiyah memiliki pandangan tersendiri baik mengenai kepemimpinan, amar makruf nahi mungkar dan keadilan. Ibnu Taimiyah juga bersikap kritis terhadap partai-partai sebelumya. Ia banyak menulis buku ilmu kalam yang secara tegas mengritik aliran lain, seperti buku “Al-Iman” dan “Al-Raddu ‘alâ al-Manthîqiyyîn”. Kaitannya dengan politik, Ibnu Taimiyah mengkaji secara mendalam dalam karyanya yang diberi judul “Al-Siyâsah al-Syar’iyyah”.

 

Pada mulanya, pergerakan Salafiyah banyak mendapatkan tantangan dari berbagai pihak. Namun pada kemudian hari, muncul seorang ulama yang berkoalisi dengan pemerintah untuk meyebarkan paham kepartaian. Ia adalah Muhammad bin Abdul Wahab. Gerakan politik mereka selanjutnya sering disebut sebagai gerakan Wahabiyah. Koalisi dengan pemerintah pada akhirnya mampu membentuk pemerintahan yang sangat solid namun otoriter. Hanya karena ada beberapa pandagan yang berbeda antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan ibnu taimiyah, maka ebih layak jika kemudian gerakan ini disebut sebagai Salafiyah Wahabiyah.

 

Salafiyah Wahabiyah sampai saat ini masih menjadi partai penguasa di Kerajaan Arab Saudi. Paham kepartaian juga banyak berkembang di negara Teluk lainnya, bahkan meluas ke luar Jazirah arab. Gerakan Thaliban yang pernah meguasai pemerintahan Afganistan beraliran Salafiyah Wahabiyah ini. Demikian juga para mujahidin di Chechniya. Di Indonesia sendiri, Salafiyah Wahabiyah juga berkembang, terutama ketika terjadi konflik Ambon. Mereka mampu membentuk pasukan milisi yang kemudian disebut dengan Laskar Jihad. Ja’far Umar Thalib adalah Panglima gerakan ini.



[1]               Persoalan quran makhluk atauu bukan, adalah persoalan yang sangat pelil. Terjadi perbedaan panjang dikalangan para ulama. Muktailah mengatakan mahluk sementara salafiyah mengatakan bahwa itu bukan mahluk. Kemudian pandangan ini ditengahi oleh partai asyariyah yang mengatakan bahwa lafaz al quran yang malfuz adalah mahluk sementara ruh al quran bukan makhluk.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

5 + 8 =

*