Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sejarah Singkat Ilmu Kalam; Teologi Jabariyah (II)

rumi2Pada bagian pertama, penulis telah menerangkan secara singkat mengenai sejarah partai politik dalam sejarah Islam. Di bawah ini, penulis akan menguraikan secara singkat mengenai “platform” masing-masing partai. Hanya saja, karena partai politik di dunia Islam klasik cukup beragam, maka penulis hanya akan mencantumkan secara singkat empat partai saja, yaitu Jabbariyah, Muktazilah, Asy’ariyah dan Salafiyah. Untuk Murjiah dan Khawarij, dua partai ini meskipun mempunyai pengaruh cukup luas, namun platform kepartaian tidak selengkap partai lainnya. Bahkan Khawarij dalam sejarahnya hanya mejadi partai oposisi yang sering kali mengadakan pemberontakan bersenjata. Platform partai politik dalam sejarah Islam klasik terbingkai secara sistematis dalam konsep ilmu kalam. Dalam sejarahnya, ilmu kalam memang bias dari politik. Memahami ilmu kalam lepas dari sekat politik akan dapat mereduksi maksud tersembunyi yang berada dibelakang palform tersebut. Untuk itu, penulis juga akan menggunakan istilah ilmu kalam dalam menerangkan mengenai platform partai, termasuk metodologi mereka dalam interaksi dengan al-Quran. Hal ini mengingat bahwa tiap-tiap partai politik selalu menjadikan al-Qur’an sebagai jutifikasi kebenaran platform yang mereka ikuti. I. Jabbariyah Jabbariyah adalah partai pemerintah pada masa Umawiyah. Prinsip dasar partai ini adalah bahwa manusia tidak memiliki kebebasan berkehendak (ikhtiyâr). Perbuatan manusia baik yang bersifat aksioma seperti detak jantung dan desah nafas, atau perbuatan yang seakan merupakan kehendak manusia seperti makan dan minum merupakan kehendak Allah semata. Semua perbuatan tersebut dinisbatkan kepada manusia hanya bersifat metafor saja. Menyandarkan seluruh perbuatan manusia kepada Allah pada dasarnya adalah upaya Bani Umayyah untuk melegitimasi kekuasaan yang didapatnya secara institusional. Hal ini karena prinsip dasar pengangkatan seorang khalifah atau Imam dalam Islam adalah melalui pemilihan secara bebas (ikhtiyâr) dan juga transaksi politik antara pemerintah dengan rakyat (baiat). Dua syarat ini tidak dimiliki oleh bani Umayyah. Benar bahwa Umayyah bin Abi Safyan bisa berkuasa penuh setelah Hasan bin Ali menyerahkan kekuasaannya kepada beliau, hanya saja menjadi khalifah tidak sesuai dengan sistem syura. Lebih dari itu, Bani Umawiyah merubah pemerintahan dari sistem syura yang sangat demokratis menjadi sistem monarki yang otoriter. Pengakuan rakyat atas pemerintah yang sedang berkuasa (baiat) dilakukan dengan intimidasi senjata. Cara paling efektif agar kekuasaan dianggap konstitusi adalah dengan menggunakan jargon agama. Muawiyah menyatakan bahwa segala aktivitas manusia, termasuk juga kekuasaan yang sedang berada di tangannya adalah mutlak kehendak Tuhan. Terbukti, pada waktu perang sifin, Muawiyah pernah perkatra kepada pasukannya, “Murupakan kehendak allah kita sampai di daerah ini”. Ketika hendak mengangkat Yazid sebagai putra mahkota, Muawiyah mengatakan, “Bahwa pengangkatan Yazid merupakan qadha dan qadar dari allah yang tidak dapat ditolak oleh seorang hamba”. Hanya saja, konseptor partai ini adalah Jahm bin Shafyan. Platform Partai Jabbariyah Ada beberapa prinsip dasar metodologi Jabbariyah yang mirip dengan prinsip dasar Muktasilah. Untuk itu, sebelum melangkah pada kajian seputar prinsip dasar metodologi partai Jabariyah, terlebih dahulu kita akan melihat relasi antara dua pemimpin partai tersebut. Dari situ kita akan lebih mudah dalam mencari benang mereh persamaan metodologi yang digunakan partai Jabbariyah dengan partai Muktazilah. Jahm dan Washil bin Atha’ Jahm bin Shafyan hidup semasa dengan Washil bin Athâ’ dan Amru bin Ubaid. Antara Muktazilah dengan Jahmiyah terdapat beberapa kesamaan dalam landasan dasar teoritis seperti penafian keduanya terhadap sifat Allah serta keyakinan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Hanya saja, pencetus awal pendapat tersebut, apakah dari partai Muktazilah yang kemudian diadopsi oleh Jabbariyah, ataukah sebaliknya, ataukah kesamaan itu terjadi secara kebetulan, hal ini tidak dapat diketahui secara pasti. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi, yaitu: Pertama: tidak terdapat keterangan pasti bahwa Jahm pernah bertemu dengan Washil bin Atha’ atau Amru bin Ubaid, meski Jahm sendiri pernah datang dan tinggal di Kuffah cukup lama. Namun Jahm sempat bertemu dengan Al-Ja’du bin Dirham, yang dianggap sebagai orang pertama yang menafikan sifat dan kalâm Tuhan. Al-Ja’du bin Dirham pernah mengatakan, “Sesungguyhnya Allah tidak mengambil Ibrahim sebagai khalilnya dan Tuhan juga tidak pernah berbicara dengan Musa”. Ibnu Murtadha mengatakan bahwa Washil pernah mengutus Khafsh bin Salim ke Khurasan. Ia sempat tinggal di kawasan Termuz dan sering berada di Masjid. Ia pun akhirnya menjadi orang yang cukup ternama di daerah Khurasan. Ia pernah berdebat dengan Jahm dan bahkan menggungguli argumentasi Jahm. Stetemen di atas menunjukkan bahwa di sana terdapat hubungan sangat erat antara Jahm dengan Washil bin Atha’. Stetemen tersebut juga menunjukkan bahwa Jahm mengetahui pemikiran Washil bin Atha’ melalui delegasi yang diutus Washil ke Khurasan dan juga melalui surat menyurat secara pribadi antara Jahm dengan Washil. Kedua: Muktazilah secara tegas mengingkari bahwa Jahm adalah pengikutnya. Ini dapat dibuktikan karena dalam kitab-kitab Muktazilah tidak pernah menyebutkan Jahm. Bahkan sebagian pengikut Muktazilah menyerang sebagian wacana yang dilontarkan Jahm. Menurut ibnu Taimiyah bahwa Muktazilah mengambil pendapat mengenai penafian terhadap sifat Tuhan dari Jahm. Dari situ, ia mengatakan bahwa setiap Muktazliah pasti Jahmiyah, namun tidak semua Jahmiah sebagai Muktazilah. Hanya perbedaannya, Jahm lebih radikal dibandingkan dengan Muktazilah. Jahm tidak hanya menafikan sifat Tuhan, namun juga menafikan nama-nama (asmâ’) Tuhan. Ringkasnya, kemungkinan besar Muktazilahlah yang mengadopsi pemikiran Jahm, namun kemudian Muktazilah mengembangkan pemikiran tersebut dengan didasari berbagai argumentasi logis. Hal ini dikarenakan, keberadaan Jahm sedikit lebih awal dibandingkan dengan Muktazilah. Selain itu, metodologi yang digunakan Muktazilah dalam menafikan sifat Tuhan mirip dengan metodologi yang digunakan Jahm, yaitu penggunaan akal murni sebagai penguat argumentasi. Meski demikian, ini tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan pendapat seputar permasalahan qadhâ’ dan Qadar antara Muktazilah dengan Jahm. Qudrah, irâdah dan ikhtiyâr Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa Jahm menganut partai Jabariyah murni. Ia berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kebebasan berkehendak dan berbuat. Manusia menurutnya, bahkan tidak memiliki kebebasan kehendak dan keinginan untuk memilih (ikhtiâriyyah). Namun pertanyaannya kemudian adalah, jika manusia tidak memiliki kebebasan berkehendak, berbuat dan memilih, mengapa setiap perbuatan manusia selalu dinisbatkan kepadanya? Jika perbuatan manusia bukan merupakan hasil kreasi manusia murni, lalu siapa yang menciptakan perbuatan manusia itu? . Menurut Jahm bahwa Tuhan menciptakan perbuatan manusia, persis seperti Tuhan menciptakan benda-benda mati. Pada dasarnya, setiap perbuatan yang dinisbatkan kepada manusia adalah nisbat secara metafor saja. Karena segala kehendak, keinginan dan perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan. Jahm menganggap bahwa manusia bagaikan benda-benda yang tidak memiliki daya upaya, kehendak, pilihan dan kemampuan apapun untuk melakukan sesuatu. Menurut Dr. Muhammad Immarah bahwa partai Jabbariyah sering digolongan dalam aliran partai Ahlu Sunnah. Dikatakan sebagai Ahlu Sunnah karena partai ini selalu mengklaim dirinya tidak pernah keluar dari sunnah nabi. Mereka juga menganggap tidak keluar dari golongan kaum muslimin. Diantara pengikut partai ini adalah golongan yang sering disebut dengan ahlu’l atsar wa ashhâbu’l hadits. Dikatakan demikian karena mereka selalu menggunakan argumentasi yang berasal dari dalil manqûl, baik al-Qur’an atau sunnah nabi. Hanya saja, mereka memahami nash tersebut secara literal dan menolak penggunaan logika dalam interpretasi nash. Menurut golongan ini bahwa manusia tidak dapat melakukan suatu perbuatan sebelum ia mengerjakan perbuatan tersebut. Manusia juga tidak akan mampu untuk keluar dari ilmu Tuhan atau melakukan suatu perbuatan, sementara Tuhan tahu bahwa ia tidak akan mengerjakan perbuatan itu. Bagi mereka, tidak terdapat perbuatan selain perbuatan Tuhan. Perbuatan buruk yang dilakukan manusia merupakan ciptaan Tuhan karena manusia tidak dapat menciptakan apapun juga. Diantara pengikut aliran ini adalah Muhammad bin Hambal. Merekalah yang sering disebut sebagai partai Jabbariyah murni. Sementara yang dimaksudkan dengan partai Jabbariyah moderat adalah para pengikut Abu Hasan al-Asy’ariy dan Abu Manshur al-maturidiy. Dikatakan sebagai Jabbariyah moderat karena meski mereka menggantungkan segala amal perbuatan manusia pada Tuhan, namun mereka masih menganggap bahwa manusia memiliki kehendak, sikap memilih dan dapat melakukan suatu perbuatan. Asy’ariah dan Maturidiyah sebenarnya berusaha mengkompromikan pandangan Muktazilah dan Jabbariyah murni. Taklîf dan pertanggungjawaban Jahm mengibaratkan manusia sebagai bulu yang ditiup angin. Ia akan terbang mengikuti arah angin. Maksudnya adalah bahwa manusia tidak memiliki kehendak, keinginan dan perbuatan. Segalanya adalah “paksaan” dari Yang Maha Kuasa. Implikasinya adalah bahwa ketetapan hukum yang dibebankan pada manusia juga bagian dari bentuk paksaan tadi. Baik buruknya perbuatan manusia, sesungguhnya hanyalah bentuk dari perbuatan Tuhan sendiri. Dengan kata lain, perbuatan manusia merupakan abstraksi dari perbuatan Tuhan. Dalam hal ini, Ibnu Rusyd pernah berkata: “Tiap perbuatan manusia sesungguhnya merupakan bentuk paksaan Tuhan, padahal Tuhan telah memberikan beban hukum (taklîf) kepada manusia, sementara manusia tidak mampu untuk melaksanakannya. Jika manusia diberi beban yang secara jelas ia tidak mampu, di sini sesungguhnya tidak terdapat perbedaan antara Tuhan memberikan beban kepada manusia dan kepada benda-benda mati lainnya. Sebagaimana benda-benda tersebut tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan beban hukum tersebut, demikian halnya dengan manusia. Ia diperintahkan melaksanakan sesuatu sementara ia tidak mampu.” Pandangan Ibnu Rusyd tersebut merupakan cerminan dari pendapat Jahm. Secara jelas, Jahm mengingkari terhadap beban hukum dan tanggungjawab yang dilimpahkan kepada manusia. Hanya saja dalam tataran praktis, terjadi benturan antara ideologi Jahm dan realita kehidupannya pribadi. Jahm masih melakukan dakwah, bahkan Jahm pernah ikut mengangkat senjata memerangi pemerintahan yang zhalim. Atau bisa jadi itu juga bagian dari keyakinan Jahm bahwa keinginannya berdakwah dan memerangi pemerintah yang zhalim juga bagian dari kehendak Tuhan. Selain ideologi fatalis tersebut, Jabbariyah juga memiliki keyakinan yang berbeda dengan partai Islam lainnya, diantaranya adalah: 1. Bahwa syurga dan neraka adalah fanâ’. Bagi mereka tidak ada yang kekal selain Tuhan. Sifat kekal tentang syurga dan negara dalam al-Qur’an adalah masa waktu lama yang akan dilalui oleh syurga dan neraka, bukan kekal berarti langgeng untuk selamanya. 2. Iman menurut mereka adalah pengetahuan, sementara kafir adalah kebodohan. Dari sini mereka menganggap bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen yang mengetahui sifat-sifat nabi dianggap sebagai orang mukmin. Hanya saja, bagi mereka ketundukan pada Tuhan akan mengikuti pengetahuan seseorang tersebut. Maksudnya adalah bahwa iman yang sesungguhnya adalah pengetahuan yang disertai dengan kepercayaan secara kuat dan tunduk terhadap kehendak Tuhan. 3. Tuhan tidak memiliki sifat tertentu yang dimiliki oleh manusia. Dengan demikian, mereka mengingkari bahwa Tuhan Maha Mengetahui, Maha Hidup dan seterusnya. Meurut mereka, segala sifat tersebut hanya layak bagi makhluk, sementara Tuhan sama sekali diluar jangkauan sifat makhluk. 4. Mereka juga mengingkari rukyatullah pada hari Akhir.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 + 4 =

*